Minggu, 03 September 2017

Tugas Paper (Alginat)



BAB I
PENDAHULUAN
Karbohidrat disebut juga hidrat arang. Karbohidrat sebagai sumber energi utama di bentuk oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis. Dalam tubuh manusia atau hewan, karbohidrat terbentuk melalui reaksi yang terjadi dari beberapa asam amino dan gliserol lemak. Karbohidrat sebagian besar di jumpai pada produk nabati seperti serealia, umbi-umbian, dan lain-lain Makanan yang paling banyak mengandung karbohidrat adalah nasi, singkong, roti, dan mie. Pada umumnya, Karbohidrat dikelompokan menjadi beberapa jenis yaitu monosakarida, oligosakarida dan polisakarida.
Alginat merupakan komponen utama dari getah alga coklat (Phaeophyceae), dan merupakan senyawa penting dalam dinding sel spesies alga yang tergolong dalam kelas Phaeophyceae (Winarno, 1996). Dinding sel alga coklat umumnya mengandung 3 komponen yaitu selulosa, asam alginat dan polisakarida sulfat (Graham dan Wilcox, 2000). Asam alginat terletak di dua tempat yakni pada dinding sel dan ruang interseluler (Bold dan Wynne, 1985) dan merupakan 20-40 % dari berat kering thallus (Graham dan Wilcox, 2000). Secara kimia, alginat merupakan polimer murni dari asam uronat yang tersusun dalam bentuk rantai linier yang panjang (Winarno, 1996).
Alginat merupakan salah satu kelompok polisakarida yang terbentuk dalam dinding sel rumput laut coklat dengan kadar mencapai 40% dari total berat kering dan memegang peranan penting dalam mempertahankan struktur jaringan algae. Alginat dalam rumput laut coklat umumnya bersenyawa dengan garam natrium, kalium, kalsium, dan magnesium (Rasyid, 2003).
Terdapat dua jenis monomer penyusun alginat, yaitu β-D-Asam Mannopiranosil Uronat dan α-L-Asam Gulopiranosil Uronat. Dari kedua jenis monomer tersebut, alginat dapat berupa homopolimer yang terdiri dari monomer sejenis, yaitu β-D-Asam Mannopiranosil Uronat saja atau α-L-Asam Gulopiranosil Uronat saja; atau alginat dapat juga berupa senyawa heteropolimer jika monomer penyusunnya adalah gabungan kedua jenis monomer tersebut (Winarno, 1996).


BAB II
PEMBAHASAN
              Alginat adalah istilah umum untuk senyawa dalam bentuk garam dan turunan asam alginat (Glicksman,1983). Natrium alginat digambarkan sebagai produk karbohidrat yang telah dipurifikasi, diekstraksi dari alga laut coklat dengan garam alkali. Gambaran tersebut di atas sama dengan didefinisikan oleh Food Chemicals Codex (1981), menurut FCC rumus molekul natrium alginat adalah (C6H7O6Na)n. Alginat merupakan polisakarida berbentuk gel yang diekstraksi dari alga laut coklat atau dari gulma lumut laut.
              Natrium alginat berwarna putih sampai dengan kekuningan, berbentuk tepung atau serat, hampir tak berbau dan berasa dengan kadar abu yang tinggi, disebabkan adanya unsur natrium. Kandungan air yang tinggi disebabkan oleh pengaruh garam yang bersifat higroskopis. Kandungan air dalam alginat bervariasi bergantung pada kelembaban relatif dari lingkungannya (Yunizal, 2004)
a.         Kelarutan
Natrium alginat larut dalam air dan mengental, tidak larut dalam alkohol dan larutan hidrokoloid dengan kandungan alkohol lebih dari 30% dan tidak larut dalam khloroform, eter dan asam dengan pH <3 (Food Chemical Codex, 1981).
b.        Pembentukan gel
Alginat yang larut dalam air membentuk gel pada larutan asam karena adanya ion kalsium atau kation logam polivalen lainnya. Penggantian kation Na+ >35% dengan kation Ca2+ akan menhentikan pergeseran molekul dan terbentuk struktur gel yang stabil. Secara kasar penambahan kation Ca2+ pada konsentrasi rendah tidak menimbulkan shear dan membentuk gel, sedangkan jumlah Ca2+ yang tinggi menyebabkan shear yang tinggi dan membentuk gel kalsium alginat.
c.         Viskositas
Viskositas dari larutan alginat dipengaruhi oleh konsentrasi, pH, bobot molekul, suhu dan adanya kation logam polivalen. Semakin tinggi konsentrasi atau bobot molekul maka semakin tinggi viskositasnya (Chapman, 1970). Viskositas larutan alginat akan menurun dengan pemanasan pada suhu tinggi dan waktu relatif lama. Larutan garam alginat menunjukkan sedikit perubahan viskositas pada kisaran pH 4-10, oleh karena itu alginat dengan kisaran pH tersebut biasa digunakan untuk industri makanan (Glicksman, 1983)
              Berdasarkan sifat fisika dan kimia alginat, maka alginat dapat berfungsi sebagai suspending agent, emulsifier, stabilizer, binder, thickened, film former, coating agent, gelling agent, synersis inhibitor, crystalization inhibitor dan encapsulating agent (Anggadireja, 1993). Alginat banyak digunakan dalam industri pangan bukan sebagai penambah nilai gizi, tetapi menghasilkan tekstur pada produk olahan, seperti es krim, sari buah dan kue. Di bidang farmasi, alginat digunakan untuk pembuatan salep, kapsul, tablet sedangkan di industri kosmetik digunakan sebagai bahan untuk lotion, sampo, cat ramnut dan produk lainnya berupa jeli serta krem.
              Pada produk minuman, alginat merupakan sumber serat yang mudah larut dalam air. Saat larut dalam air, natrium alginat membentuk kisi-kisi seperti jala yang mampu mengikat kuat banyak molekul air.
              Larutan alginat dapat menurunkan kadar kolesterol secara efektif (Yunizal, 2004), menurunkan tekanan darah, kadar gula darah serta meningkatkan penyerapan kalsium.














BAB III
KESIMPULAN
            Karbohidrat disebut juga hidrat arang yang dijadikan sebagai sumber energi utama di bentuk oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis. Alginat adalah istilah umum untuk senyawa dalam bentuk garam dan turunan asam alginat. Natrium alginat digambarkan sebagai produk karbohidrat yang telah dipurifikasi, diekstraksi dari alga laut coklat dengan garam alkali. Natrium alginat berwarna putih sampai dengan kekuningan, berbentuk tepung atau serat, hampir tak berbau dan berasa dengan kadar abu yang tinggi, disebabkan adanya unsur natrium. Manfaat natrium alginat di bidang industri pangan yaitu es krim, di bidang farmasi yaitu salep dan di bidang kosmetik yaitu shampo.
















DAFTAR PUSTAKA

Anggadireja J. , Azatniko W., Sujatmiko dan Noor I. 1993. Teknologi Produk Perikanan dalam Industri Farmasi. Dalam Stadium General Teknologi dan Alternatif Produk Perikanan dalam Industri Farmasi.
Chapman, V. J. 1980. Seaweeds and Their Used. 2nd ed. Metheun and Co. Ltd
Food Chemical Codex. 1981. Carrageenan. National Academy Press Washington
Glicksman. 1983. Food Hydrocolloids. CRC Press. Boca Raton FL.
Graham, L. E. dan L. W. Wilcox. 2000. Algae. Prentice-Hall. Englewood Cliffs. New Jersey.
Rasyid, A. 2003. Algae Coklat (Phaeophyta) Sebagai Sumber Alginat. Oseana Volume XXVIII No. 1: 33-38.
Winarno, F., G. 1996. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.
Yunizal. 2004. Teknologi Pengolahan Alginat. Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, BRKP, Jakarta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar