BAB I
PENDAHULUAN
Karbohidrat disebut juga
hidrat arang. Karbohidrat sebagai sumber energi utama di bentuk oleh tumbuhan
melalui proses fotosintesis. Dalam tubuh manusia atau hewan, karbohidrat
terbentuk melalui reaksi yang terjadi dari beberapa asam amino dan gliserol
lemak. Karbohidrat sebagian besar di jumpai pada produk nabati seperti
serealia, umbi-umbian, dan lain-lain Makanan yang paling banyak mengandung
karbohidrat adalah nasi, singkong, roti, dan mie. Pada umumnya, Karbohidrat
dikelompokan menjadi beberapa jenis yaitu monosakarida, oligosakarida dan
polisakarida.
Alginat
merupakan komponen utama dari getah alga coklat (Phaeophyceae), dan
merupakan senyawa penting dalam dinding sel spesies alga yang tergolong dalam
kelas Phaeophyceae (Winarno, 1996). Dinding sel alga
coklat umumnya mengandung 3 komponen yaitu selulosa, asam alginat dan
polisakarida sulfat (Graham dan Wilcox, 2000). Asam alginat terletak di dua
tempat yakni pada dinding sel dan ruang interseluler (Bold dan Wynne,
1985) dan merupakan 20-40 % dari berat kering thallus (Graham dan Wilcox,
2000). Secara kimia, alginat merupakan polimer murni dari asam uronat yang
tersusun dalam bentuk rantai linier yang panjang (Winarno, 1996).
Alginat merupakan salah
satu kelompok polisakarida yang terbentuk dalam dinding sel rumput laut coklat
dengan kadar mencapai 40% dari total berat kering dan memegang peranan penting
dalam mempertahankan struktur jaringan algae. Alginat dalam rumput laut coklat
umumnya bersenyawa dengan garam natrium, kalium, kalsium, dan magnesium (Rasyid,
2003).
Terdapat dua jenis monomer penyusun alginat, yaitu β-D-Asam
Mannopiranosil Uronat dan α-L-Asam Gulopiranosil Uronat. Dari kedua jenis
monomer tersebut, alginat dapat berupa homopolimer yang terdiri dari monomer
sejenis, yaitu β-D-Asam Mannopiranosil Uronat saja atau α-L-Asam
Gulopiranosil Uronat saja; atau alginat dapat juga berupa senyawa heteropolimer
jika monomer penyusunnya adalah gabungan kedua jenis monomer tersebut (Winarno,
1996).
BAB
II
PEMBAHASAN
Alginat adalah istilah umum untuk senyawa dalam bentuk
garam dan turunan asam alginat (Glicksman,1983). Natrium alginat digambarkan
sebagai produk karbohidrat yang telah dipurifikasi, diekstraksi dari alga laut
coklat dengan garam alkali. Gambaran tersebut di atas sama dengan didefinisikan
oleh Food Chemicals Codex (1981),
menurut FCC rumus molekul natrium alginat adalah (C6H7O6Na)n.
Alginat merupakan polisakarida berbentuk gel yang diekstraksi dari alga laut
coklat atau dari gulma lumut laut.
Natrium alginat berwarna putih sampai dengan
kekuningan, berbentuk tepung atau serat, hampir tak berbau dan berasa dengan
kadar abu yang tinggi, disebabkan adanya unsur natrium. Kandungan air yang
tinggi disebabkan oleh pengaruh garam yang bersifat higroskopis. Kandungan air
dalam alginat bervariasi bergantung pada kelembaban relatif dari lingkungannya
(Yunizal, 2004)
a.
Kelarutan
Natrium alginat larut dalam
air dan mengental, tidak larut dalam alkohol dan larutan hidrokoloid dengan
kandungan alkohol lebih dari 30% dan tidak larut dalam khloroform, eter dan
asam dengan pH <3 (Food Chemical
Codex, 1981).
b.
Pembentukan gel
Alginat yang larut dalam air
membentuk gel pada larutan asam karena adanya ion kalsium atau kation logam
polivalen lainnya. Penggantian kation Na+ >35% dengan kation Ca2+
akan menhentikan pergeseran molekul dan terbentuk struktur gel yang stabil.
Secara kasar penambahan kation Ca2+ pada konsentrasi rendah tidak
menimbulkan shear dan membentuk gel,
sedangkan jumlah Ca2+ yang tinggi menyebabkan shear yang tinggi dan membentuk gel kalsium alginat.
c.
Viskositas
Viskositas dari larutan alginat
dipengaruhi oleh konsentrasi, pH, bobot molekul, suhu dan adanya kation logam
polivalen. Semakin tinggi konsentrasi atau bobot molekul maka semakin tinggi
viskositasnya (Chapman, 1970). Viskositas larutan alginat akan menurun dengan
pemanasan pada suhu tinggi dan waktu relatif lama. Larutan garam alginat
menunjukkan sedikit perubahan viskositas pada kisaran pH 4-10, oleh karena itu
alginat dengan kisaran pH tersebut biasa digunakan untuk industri makanan
(Glicksman, 1983)
Berdasarkan sifat fisika dan kimia alginat, maka
alginat dapat berfungsi sebagai suspending
agent, emulsifier, stabilizer, binder, thickened, film former, coating agent,
gelling agent, synersis inhibitor, crystalization inhibitor dan encapsulating agent (Anggadireja, 1993).
Alginat banyak digunakan dalam industri pangan bukan sebagai penambah nilai
gizi, tetapi menghasilkan tekstur pada produk olahan, seperti es krim, sari
buah dan kue. Di bidang farmasi, alginat digunakan untuk pembuatan salep,
kapsul, tablet sedangkan di industri kosmetik digunakan sebagai bahan untuk
lotion, sampo, cat ramnut dan produk lainnya berupa jeli serta krem.
Pada produk minuman, alginat merupakan sumber serat
yang mudah larut dalam air. Saat larut dalam air, natrium alginat membentuk
kisi-kisi seperti jala yang mampu mengikat kuat banyak molekul air.
Larutan alginat dapat menurunkan kadar kolesterol
secara efektif (Yunizal, 2004), menurunkan tekanan darah, kadar gula darah
serta meningkatkan penyerapan kalsium.
BAB III
KESIMPULAN
Karbohidrat
disebut juga hidrat arang yang dijadikan sebagai sumber energi utama di bentuk
oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis. Alginat
adalah istilah umum untuk senyawa dalam bentuk garam dan turunan asam alginat.
Natrium alginat
digambarkan sebagai produk karbohidrat yang telah dipurifikasi, diekstraksi
dari alga laut coklat dengan garam alkali. Natrium alginat berwarna putih sampai
dengan kekuningan, berbentuk tepung atau serat, hampir tak berbau dan berasa
dengan kadar abu yang tinggi, disebabkan adanya unsur natrium. Manfaat natrium
alginat di bidang industri pangan yaitu es krim, di bidang farmasi yaitu salep
dan di bidang kosmetik yaitu shampo.
DAFTAR PUSTAKA
Anggadireja J. , Azatniko W., Sujatmiko dan
Noor I. 1993. Teknologi Produk Perikanan dalam Industri Farmasi. Dalam Stadium
General Teknologi dan Alternatif Produk Perikanan dalam Industri Farmasi.
Chapman, V. J. 1980. Seaweeds and Their Used.
2nd ed. Metheun and Co. Ltd
Food Chemical Codex. 1981. Carrageenan.
National Academy Press Washington
Glicksman. 1983. Food Hydrocolloids. CRC
Press. Boca Raton FL.
Graham, L. E. dan L. W.
Wilcox. 2000. Algae. Prentice-Hall. Englewood
Cliffs. New Jersey.
Rasyid, A. 2003. Algae
Coklat (Phaeophyta) Sebagai Sumber Alginat. Oseana Volume XXVIII No. 1:
33-38.
Winarno, F., G. 1996. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.
Yunizal. 2004. Teknologi Pengolahan Alginat.
Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, BRKP,
Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar