Haditiya Rayi
Setha Ahmad
13/349901/PN/13308
Paper Praktikum Penanganan Hasil Perikanan
Fase Kemunduran Mutu Ikan
Ikan yang telah mati akan mengalami perubahan fisik,
kimia, enzimatis dan mikrobiologi yang berkaitan dengan kemunduran mutu. Proses
kemunduran mutu ikan terdiri dari empat tahap, yaitu: hiperaemia (pre-rigor),
rigor mortis, autolisis dan penyerangan oleh bakteri (Zaitsev et al. 1969).
Secara umum proses terjadinya kemunduran mutu ikan terdiri dari tiga tahap,
yaitu pre-rigor, rigor mortis, dan post-rigor.
Tahap pre
rigor ditandai dengan jaringan daging ikan yang masih lembut dan lentur
serta adanya lapisan bening di sekeliling tubuh ikan yang terbentuk oleh
peristiwa pelepasan lendir dan kelenjar bawah kulit. Nilai mutu kesegaran ikan
pada tahap ini adalah organoleptik 9, TVB 18,67 – 20 mg N/100g; TPC 3,4 x 104 –
6,3 x 104 unit koloni/g; pH 6,7; dan nilai K 0,00 % – 8,22%. Spesifikasi ikan
dengan nilai organoleptik 9 adalah sebagai berikut : mata cerah, bola
mata menonjol, kornea jernih, insang berwarna merah cemerlang tanpa lendir,
sayatan daging cemerlang berwarna asli, tidak ada pemerahan sepanjang tulang
belakang, perut utuh, ginjal merah terang, dinding daging perutnya utuh, dan
bau isi perut segar, konsistensi otot elastis bila ditekan dengan jari, sulit
menyobek daging daritulang belakang (Nurjanah et al.2004). Perubahan kimia
pada fase ini adalah adanya perombakan ATP, sedangkan perubahan mikrobiologis
adalah terlepasnya lendir.
Rigor mortis terjadi
setelah cadangan energi otot sudah habis atau tidak mampu lagi mempergunakan
energi. Rigor mortis berkaitan dengan semakin habisnya ATP otot.
Tidak adanya ATP mengakibatkan filamen aktin dan filamen miosin saling tumpang
tindih dan terkunci sehingga membentuk ikatan aktomiosin yang permanen sehingga
otot tidak dapat diregangkan (Nurwantoro dan Mulyani 2003).
Selama
konversi otot terjadi proses kekakuan otot. Perkembangan
proses rigor mortis terdiri dari tiga fase yaitu: fase
penundaan, fase cepat, dan fase kaku. Proses hilangnya daya regang mula-mula
berlangsung secara lambat selama beberapa jam (fase penundaan), kemudian
berlangsung cepat (fase cepat) dan akhirnya berlangsung secara konstan dengan
kecepatan rendah sampai tercapainya kekakuan (rigor). Dengan demikian,
kondisi rigor mortis ditandai dengan hilangnya kelenturan,
pemendekan otot dan naiknya tensi otot (Nurwantoro dan Mulyani 2003).
Pada
saat fase post rigor, kondisi daging ikan yang membusuk sudah tidak kenyal
dan kulit ikan mengeras. Pada uji organoleptik menunjukan nilai 5 yang
merupakan ambang batas kesegaran ikan. Ciri-ciri ikan yang memiliki nilai 5
adalah sebagai berikut: bola mata agak cekung, pupil keabuabuan, kornea agak
keruh, insang menampakkan diskolorisasi merah muda dan berlendir, sayatan
daging mulai pudar, banyak pemerahan pada tulang belakang, bau seperti susu
asam, konsistensi agak lunak, mudah menyobek daging dari tulang belakang
(Nurjanah et al.2004).
Salah
satu teknik penanganan ikan yang paling umum dilakukan untuk menjaga kesegaran
ikan adalah penggunaan suhu rendah atau disebut juga teknik pendinginan ikan.
Teknik pendinginan ini biasanya diterapkan pada tahap pasca panen setelah
penangkapan, pengolahan, distribusi, dan konsumsi. Adapun keuntungan penerapan
suhu rendah pada ikan dapat memperpanjang daya awetnya mencapai satu sampai
empat minggu, serta mempertahankan tingkat kesegaran ikan dan nilai gizinya.
Selain itu, pada kondisi suhu rendah pertumbuhan bakteri pembusuk dan
proses-proses biokimia yang berlangsung dalam tubuh ikan yang mengarah pada
kemunduran mutu menjadi lebih lambat (FAO 1995).
Daftar Pustaka
FAO.
1995. CCRF. Code of Condusct for Responsible Fisheries. Rome. 1995
Nurjanah et al. 2004. Kemunduran Mutu
Ikan Nila Merah (Oreochromis Sp.) Selama Penyimpanan Pada Suhu Ruang. Buletin
Teknologi Hasil Perikanan.
Nurwantoro dan S. Mulyani. 2003. Buku Ajar:
Dasar Teknologi Hasil Ternak. UNDIP Press. Semarang.
Zaitsev
et al., 1969. Fish Curing and Processing. MIR Publishers, Moscow.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar