LAPORAN
PRAKTIKUM PENGANTAR EKONOMI PERIKANAN
STUDI EKONOMI PERIKANAN PESISIR
PANTAI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
DISUSUN
OLEH
Nama : Haditiya Rayi Setha Ahmad
NIM : 13/349901/PN/13308
Lokasi : Kabupaten Gunung Kidul
Asisten : Rr. Intan Chilmatis Sa’adha
LABORATORIUM
SOSIAL EKONOMI PERIKANAN
JURUSAN
PERIKANAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS
GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015
I.
PENDAHULUAN
Ilmu
perikanan membahas berbagai topik seperti sosial ekonomi, budidaya dan
pengolahan, pengolahan produk ikan, teknik penangkapan, selain sejumlah topik
yang berorientasi bilogi seperti gentika, nutrisi dan penyakit. Memahami aspek ekonomi perikanan tidaklah lengkap
tanpa memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan perikanan dari berbagai
perspektif. Kegiatan membudidayakan ikan telah berlangsung ribuan, bahkan
puluhan ribu tahun yang lalu. Dengan demikian kegiatan perikanan merupakan
proses pembelajaran kolektif dalam kurun waktu yang cukup lama tersebut.
Dalam konteks legal, Indonesia mengartikan
perikanan melalui pengertian yang dituangkan dalam aturan perundang-undangan. Perikanan
sendiri merupakan semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan
pemanfaatan sumberdaya ikan (UU No. 9 Tahun 1985), sedangkan perikanan menurut
UU No. 31 Tahun 2004 adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan
dan pemanfaatan sumber daya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi,
produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu
sistem bisnis perikanan (Setyobudi, 2012).
Secara umum, Merriam-Webster Dictionary mendefinisikan
perikanan sebagai kegiatan, industri atau musim pemanenan ikan atau hewan laut
lainnya. Definisi yang hampir serupa juga ditemukan di Encyclopedia Brittanica
yang mendefinisikan perikanan sebagai pemanenan ikan, kerang-kerangan
(shellfish) dan mamalia laut. Sementara Hempel dan Pauly (2004) mendefiniskan
perikanan sebagai kegiatan eksploitasi sumber daya hayati dari laut (Hempel dan
pauly, 2004).
Suatu
perikanan dapat didefinisikan sebagai suatu system yang terdiri dari tiga
komponen yang saling berinteraksi, yakni: (1)
biota akuatik, (2) habitat akuatik,
dan (3) manusia sebagai pengguna
sumberdaya (Lackey, 2005) alam yang bersifat mampu pulih ini. Walaupun dapat
pulih sendiri jika terus menerus di eksploitasi maka kekayaannya perikanan
sendiri akan berkurang, sehingga muncullah kegiatan budidaya yang merupakan upaya produksi biota atau organisme perairan
melalui penerapan teknik domestikasi (membuat kondisi lingkungan yang mirip
dengan habitat asli organisme yang dibudidayakan), penumbuhan hingga
pengelolaan usaha yang berorientasi ekonomi (Bardach, dkk., 1972) dan juga
merupakan proses pengaturan dan perbaikan organisme akuatik (Webster’s
Dictionary, 1990).
Tujuan dari praktikum kali ini
adalah untuk mengetahui profil nelayan penangkapan, mengetahui permasalahan
serta tantangan yang dihadapi para pelaku usaha perikanan dan menganalisis
komponen-komponen biaya penyusunan dan pendapatan usaha perikanan.
Manfaat
dilaksanakan kegiatan praktikum pengantar ekonomi perikanan ditujukan untuk
mengkaji aspek sosial ekonomi perikanan dibidang penangkapan. Praktikum akan
dilakukan di Pantai Drini, Gunung Kidul, Yogyakarta.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Kondisi
Umum Lokasi Praktikum
Pantai Drini adalah salah
satu obyek wisata yang terletak di Desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul, Yogyakarta. Letaknya di sebelah timur pantai Baron dan berjarak sekitar
1 km ke arah timur Pantai Sepanjang. Namun jarak sebenarnya yang harus ditempuh
untuk sampai ke pantai ini sejauh 60 km atau sekitar 2-3 jam dari kota Yogyakarta. Infrastruktur
menuju ke Pantai Drini cukup mulus, walaupun jalan masuk untuk sampai ke pantai
ini cukup terjal dan berkelok-kelok.
Pantai drini merupakan
pantai yang langsung berhadapan dengan Samudra
Hindia. Pantai ini memiliki lereng pantai
yang cukup curam sekitar 10 derajat dan merupakan bagian dari Wonosari yang didominasi oleh batuan karst dari Gunungsewu. Pantai ini
belum banyak terjamah oleh wisatawan lokal maupun asing, karena letaknya yang
berada di daerah terpencil. Sehingga, Pantai Drini ini dikenal dengan nama Pantai Perawan. Sebutan ini
digunakan oleh masyarakat setempat karena kondisi pantai drini yang masih
bersih, udara yang sejuk, air yang terasa dingin ditambah dengan hamparan pasir
putih yang mempesona dan aliran airnya yang tidak seganas Pantai Parangtritis.
Pantai ini memiliki
sebuah tebing besar yang berada di tengah-tengah pantai dan membagi pantai ini
menjadi dua sisi, yaitu sisi barat dan sisi timur. Tebing ini terlihat begitu
indah sehingga membuatnya seolah-olah seperti pulau kecil yang terapung di
tengah pantai. Di atas karang ini dibangun mercusuar dimana dari menaranya mata kita akan dimanjakan dengan
pemandangan yang luar biasa indahnya. Di pantai ini pengunjung juga dapat
melihat dengan jelas rumput-rumput laut di antara karang-karang laut dan biota
laut lainnya.
B. Kegiatan
Penangkapan
Kegiatan penangkapan di Pantai Drini cukup
berkembang pesat dari awal mula nelayan yang melakukan kegiatan penangkapan
hanya sedikit, sekarang menjadi banyak. Permintaan ikan untuk konsumsi telah
menignkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Konsumsi ikan
rata-rata masyarakat dunia hanya sekitar 6 kg/kapita/tahun di tahun 1950 dan
saat ini telah meningkat hingga 18 kg/kapita/tahun. Hal tersebut merupakan salah
satu penyebab meningkatnya kegiatan penangkapan yang terjadi di Pantai Drini.
Beberapa komoditi ikan yang dapat
ditangkap di Pantai Drini adalah lobster dan bawal. Kedua jenis ikan tersebut sering sekali
menjadi tujuan penangkapan bagi para nelayan karena harganya yang relatif
tinggi dan dagingnya yang cukup lezat. Di Pantai Drini proses pelelangan ikan
dilakukan di TPI setempat dengan pembayaran secara tunai langsung. Para nelayan
di Pantai Drini rata-rata telah memiliki kapal sendiri, namun jangkauan untuk
penangkapannya masih relatif dekat, karena kekurangan fasilitas pada perahu
seperti GPS.
III.
METODE
A. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum dilaksanakan pada tanggal 29-31
Mei 2015 di desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunung Kidul. Lokasi
dipilih karena :
1. Sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai nelayan,
pembudidaya ikan, dan pengolahan ikan
2. Usaha yang dikembangkan dilokasi tersebut melibatkan
kelompok perempuan maupun laki-laki.
3. Usaha terintegrasi dari produksi sampai ke pasca panen dan
pengolahan serta pemasaran hasil perikanan.
B. Metode Dasar
Metode
kajian adalah metode survai dan observasi lapangan. Penelitian survai adalah
penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuisioner
sebagai alat pengumpulan data yang pokok. Proses pengumpulan data dilakukan
melalui interaksi secara langsung dengan responden. Penelitian survai dapat
digunakan untuk eksplorasi, deskriptif, maupun penjelasan dan prediksi atau
meramalkan kejadian tertentu di masa yang akan datang.
C. Metode
Penentuan Sampel/Responden
Populasi yang menjadi kajian
praktikum ini adalah nelayan penangkapan ikan. Pemilihan reponden menggunakan
metode snowball sampling. Metode snowball sampling merupakan metode
pemilihan responden dengan pemilihan sejumlah kecil dari populasi dengan
karakteristik tertentu, yang selanjutnya dijadikan responden, yang diminta
untuk memberikan rekomendasi untuk responden berikutnya. Teknik ini menggunakan
satu orang utama sebagai informasi kunci yang akan terus bergulir menuju informan
berikutnya hingga kualitas data yang diharapkan dapat terpenuhi. Dalam hal ini
praktikan dapat mendatangi tetua atau ketua kelompok atau petugas pemerintahan
yang menjadi tokoh kunci biasa pada masing-masing kegiatan, yang dapat dianggap
sebagai informan pertama (responden pertama) untuk mengawali teknik snowball sampling. Informan pertama
diharapkan memberi rekomendasi calon informan selanjutnya, sampai jumlah
responden yang ditentukan diketahui.
D. Teknik Pengumpulan Data
1. Kuesioner
Metode
kuisioner biasanya digunakan untuk menyelidiki pendapat orang dan sikap. Metode
angket adalah suatu metode penelitian yang berupa daftar pertanyaan untuk
memperoleh data berupa jawaban-jawaban dari responden. Kuisioner pada praktikum
ini digunakan untuk memperoleh informasi dari sejumlah pelaku usaha perikanan
yaitu khususnya untuk bidang penangkapan.
2.
Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah
pengumpulan data dengan cara melihat dan memperhatikan serta mengolah
dokumen-dokumen yakni melalui arsip-arsip surat serta catatan-catatan dari
sumber yang dapat dipertanggungjawabkan atas kebenarannya. Metode dokumentasi
pada praktikum ini sebagai sumber untuk mendapatkan informasi bidang
pengangkapan.
3.
Wawancara
Metode wawancara adalah dialog yang
dilakukan oleh pewawancara (praktikan) untuk memperoleh informasi dari
responden yang berfungsi untuk meneliti atau menilai keberadaan seseorang,
misal untuk memperoleh data tentang latar belakang pendidikan orang tua, serta
sikapnya terhadap sesuatu.
4.
Observasi
Metode observasi adalah pencatatan
dan pengamatan fenomena-fenomena yang diselidiki secara sistematik. Metode
observasi adalah metode pengumpulan data dengan jalan mengamati, meneliti dan
mengukur kejadian atau peristiwa yang sedang berlangsung.
E. Tabulasi dan Analisis Data
Tabulasi data dilakukan dengan
menggunakan progam MS. Excel. Data yang telah didapat akan ditabulasikan untuk
mendapat gambaran mengenai kondisi sosial ekonomi dari para pelaku usaha
perikanan (responden) bidang penangkapan yang telah diwawancarai sebelumnya.
Berdasarkan hasil tabulasi data selanjutnya dianalisis secara deskriptif.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Kondisi Umum
Pantai
Drini terletak di Desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunung Kidul
Yogyakarta. Gunung Kidul terletak di antara 07o16’30’’ – 07o19’30’’
LS dan 110o19’30’’ – 110o25’30’’ BT dengan luas wilayah
1.485 km2. Pantai drini merupakan
pantai yang langsung berhadapan dengan Samudra
Hindia. Pantai ini memiliki lereng pantai
yang cukup curam sekitar 10 derajat dan merupakan bagian dari Wonosari yang didominasi oleh batuan karst dari Gunungsewu.
Pantai ini memiliki
sebuah tebing besar yang berada di tengah-tengah pantai dan membagi pantai ini
menjadi dua sisi, yaitu sisi barat dan sisi timur. Tebing ini terlihat begitu
indah sehingga membuatnya seolah-olah seperti pulau kecil yang terapung di
tengah pantai. Di atas karang ini dibangun mercusuar dimana dari menaranya mata kita akan dimanjakan dengan
pemandangan yang luar biasa indahnya. Di pantai ini pengunjung juga dapat
melihat dengan jelas rumput-rumput laut di antara karang-karang laut dan biota
laut lainnya.
b. Sarana dan Prasaran
Kegiatan Perikanan yang dominan di
Pantai Drini ini adalah penangkapan. Beberapa saran dan prasaran yang terdapat
di Pantai Drini dan dapat menunjang kegiatan penangkapan antara lain perahu
motor, hampir seluruh responden memiliki perahu bahkan ada yang memiliki lebih
dari 1 perahu. Kemudian jaring, terdapat berbagai jaring yang disesuaikan
dengan ikan yang akan ditangkap yaitu jaring ciker, jaring bawalan, jaring
nilon, jaring kanyut, jaring lobster dan beberapa alat tangkap lainnya seperti
pancing. Terdapat pula mercusuar yang digunakan sebagai penunjuk jalan ketika
nelayan pulang melaut. Untuk sumberdaya manusianya sendiri, sudah mencukupi
kebutuhan sehingga sarana dan prasarana yang telah ada dapat menunjang kegiatan
penangkapan di Pantai Drini.
|
Tabel 1. Sebaran Umur Nelayan
|
||
|
Range Umur
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
20 - 26
|
2
|
6.06
|
|
27 - 32
|
5
|
15.15
|
|
33 - 38
|
8
|
24.24
|
|
39 - 44
|
7
|
21.21
|
|
45 - 50
|
6
|
18.18
|
|
51 - 56
|
3
|
9.09
|
|
57 - 62
|
0
|
0.00
|
|
63 - 68
|
0
|
0.00
|
|
69 - 74
|
1
|
3.03
|
|
75 - 80
|
1
|
3.03
|
|
Jumlah
|
33
|
100.00
|
c. Profil Responden
Grafik 1. Sebaran Umur
Nelayan
Kelompok
usia nelayan paling banyak di Pantai Drini adalah antara 33-38 tahun, sedangkan
untuk kelompok umur 69-74 tahun dan 75-80 tahun relatif rendah. Sebaran umur
nelayan di Pantai Drini didominasi kelompok umur 40-50 tahunan. Pada kisaran
umur itu, masih tergolong produktif sehingga pelaksanaan kegiatan penangkapan
dapat maksimal. Untuk regenerasi, kelompok umur antara 20-30 tahun sudah
terbilang banyak. Hal tersebut dikarenakan usaha penangkapan sangat menjanjikan
di Pantai Drini, sehingga para remaja yang masih berusia muda memilih menjadi
nelayan sebagai pekerjaan. Data
sebaran umur dapat digunakan untuk menganalisis dan mengetahui human
resources yang ada di suatu wilayah tertentu berdasarkan umur, untuk
mengambil kebijakan berkaitan tentang kependudukan, serta dapat digunakan untuk
berbagai macam proyeksi.
|
Tabel 2. Tingkat Pendidikan Nelayan
|
||
|
Pendidikan
|
Jumlah
|
%
|
|
TS
|
3
|
9.09
|
|
SD
|
19
|
57.58
|
|
SLTP
|
6
|
18.18
|
|
SLTA
|
5
|
15.15
|
|
PT
|
0
|
0.00
|
|
Jumlah
|
33
|
100.00
|
Grafik
2. Tingkat Pendidikan Nelayan
Berdasarkan hasil
wawancara yang telah dilakukan didapatkan data sebaran pendidikan nelayan di
Pantai Drini yaitu nelayan yang tidak sekolah sebesar 9.09%, nelayan dengan
pendidikan SD sebesar 57.58%, nelayan dengan pendidian SMP sebesar 18.18%,
nelayan dengan pendidikan SMA sebesar 15.15% dan tidak ditemukan nelayan yang
menempuh perguruan tinggi. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa nelayan di
Pantai Drini kebanyakan hanya berpendidikan SD bahkan ada nelayan yang tidak
bersekolah. Sehingga untuk membentuk sumberdaya manusia yang berkualitas
dibutuhkan pelatihan ataupun penyuluhan mengenai penangkapan ikan sehingga
dalam pelaksanaan usaha penangkapan dapat dilakukan dengan maksimal.
|
Tabel 3. Sebaran
Pengalaman Nelayan
|
||
|
Range
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
- 7
|
23
|
45.10
|
|
8 - 15
|
9
|
17.65
|
|
16 - 23
|
10
|
19.61
|
|
24 - 31
|
5
|
9.80
|
|
32 - 39
|
4
|
7.84
|
|
Jumlah
|
51
|
100.00
|
Grafik 3. Sebaran Pengalaman Nelayan
Seseorang yang telah lama
bekerja pada satu bidang tertentu umumnya lebih paham dan mengerti akan apa
yang ia lakukan terhadap pekerjaan tersebut. Disini kematangan akan pengalaman
bekerja tentunya akan sangat dibutuhkan oleh seorang nelayan untuk dapat memaksimalkan
usaha penangkapanya. Dari hasil wawancara terhadap beberapa responden maka
dapat disimpulkan bahwa pengalaman para pekerja sangat bervariasi, tertinggi
pengalaman kerja yaitu kurang dari 7 tahun dengan presentase sebesar 45.10%
sedangkan pengalaman kerja paling lama seorang nelayan di Pantai Drini yang
didapat adalah 32-39 tahun dengan presentase 7.84%. Dari hasil tersebut nelayan
di Pantai Drini telah melakukan usaha penangkapan sejak lama, sehingga
pengalaman yang dimiliki sudah terbilang banyak sehingga usaha penangkapan
sudah dilakukan dengan professional.
|
Tabel 4. Jenis Pekerjaan
Nelayan
|
||||
|
Pekerjaan
|
Pokok
|
Pokok
|
Sampingan
|
Sampingan
|
|
Buruh
|
0
|
0.00
|
0
|
0.00
|
|
Guru
|
0
|
0.00
|
0
|
0.00
|
|
Nelayan
|
28
|
84.85
|
5
|
15.15
|
|
Pedagang
|
1
|
3.03
|
3
|
9.09
|
|
Pensiunan
|
0
|
0.00
|
0
|
0.00
|
|
Perangkat Desa
|
0
|
0.00
|
0
|
0.00
|
|
Petambak
|
0
|
0.00
|
0
|
0.00
|
|
Petani
|
4
|
12.12
|
10
|
30.30
|
|
PNS
|
0
|
0.00
|
0
|
0.00
|
|
Polisi
|
0
|
0.00
|
0
|
0.00
|
|
SAR
|
0
|
0.00
|
0
|
0.00
|
|
TNI
|
0
|
0.00
|
0
|
0.00
|
|
Wiraswasta
|
0
|
0.00
|
0
|
0.00
|
|
Jumlah
|
33
|
|
18
|
|
Grafik
4. Jenis Pekerjaan Nelayan
Setiap individu wajib
untuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, di Desa Banjarejo terdapat dua
jenis pekerjaan yang didominasi oleh para penduduk. Pekerjaan tersebut adalah
nelayan, petani dan pedagang. Dari data responden yang didapatkan jenis pekerjaan
nelayan adalah pekerjaan yang paling dominan di desa ini terhitung ada 84.85%
responden yang menitik beratkan usahan berdagang sebagai usaha pokok yang
ditekuni, untuk profesi petani dari jumlah total responden memilih bertani
sebagai usaha pokok yang dijalani didapatkan presentase sebesar 12.12% dan
hanya 3.03% yang berprofesi sebagai pedagang. Dari hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa mayoritas penduduk di Desa Banjarejo berprofesi sebagai
nelayan.
d. Musim Penangkapan
|
Tabel 5. Musim Tangkap
|
|
|
Bulan
|
Jumlah
|
|
Jan
|
840
|
|
Feb
|
773
|
|
Mar
|
755
|
|
Apr
|
766
|
|
Mei
|
741
|
|
Jun
|
742
|
|
Jul
|
742
|
|
Ags
|
757
|
|
Sep
|
848
|
|
Okt
|
866
|
|
Nov
|
866
|
|
Des
|
873
|
Grafik 5. Musim Tangkap
Hasil diatas menunjukan musim yang sering digunakan para nelayan
untuk melaksanakan kegiatan penangkapan. Hampir disetiap bulan dalam satu tahun
nelayan di Pantai Drini melaut, hanya pada hari-hari tertentu saja mereka tidak
melaut karena menghormati adat istiadat setempat. Untuk musim penangkapan
paling banyak dilakukan pada bulan September hingga Januari. Hal tersebut
dikarenakan pada bulan tersebut merupakan titik puncak dari ikan mudah untuk
ditangkap dan ketika jumlah ikan melimpah. Di bulan-bulan lainnya nelayan masih
melakukan kegiatan penangkapan, namun intensitasnya lebih rendah dibandingkan
dengan di bulan antara September hingga Januari karena hasil yang didapatkan
relatif rendah dan biaya untuk sekali melaut tidak sebanding dengan hasil yang
didapat.
e. Kegiatan Penangkapan
Kegiatan
usaha penangkapan ikan di Pantai Drini dimulai pada pagi hari. Biasanya nelayan
berangkat melaut pada pagi hari buta dan pulang kembali ke darat pada siang
harinya. Dalam sekali trip melaut biasanya terdiri dari 3 awak kapal yang
terdiri dari nelayan dan tekongnya. Masing-masing memiliki tugasnya sendiri.
Sebelum para nelayan berangkat melaut, mereka mempersiapkan bekal untuk
kebutuhan melaut. Biasanya bekal yang biasa mereka bawa adalah roti, air
mineral dan rokok. Alasan mereka hanya membawa perbekalan tersebut adalah
karena jarak yang ditempuh untuk melaut relatif dekat, selain itu untuk
menghemat biaya yang dikeluarkan. Selain itu, dibutuhkan juga es balok yang
digunakan untuk membuat ikan tidak rusak selama perjalanan melaut.
Kemudian
untuk jenis ikan yang sering didapatkan antara lain ikan bawal dan lobster.
Kedua jenis ikan ini menjadi komoditi yang sangat tinggi di Pantai Drini
mengingat dagingnya yang lembut dan enak sehingga para penikmat ikan sangat
memburu ikan tersebut. Selain itu, harga jual yang relatif tinggi ke pembeli
merupakan salah satu alasan pula kenapa ikan ini menjadi sangat mudah
didapatkan di Pantai Drini. Dengan harga jual yang tinggi dapat menambah
penghasilan dari para nelayan Pantai Drini sendiri. Untuk musim penangkapan
ikannya sendiri terjadi antara bulan September hingga Januari, namun pada
hari-hari tertentu nelayan tidak diperbolehkan melaut dikarenakan adat istiadat
setempat.
Hasil
tangkapan dari melaut kemudian langsung dilelang di Tempat Pelelangan Ikan
(TPI) setempat. Dengan transaksi tunai atau pembayaran langsung. Kemudian hasil
dari melaut tersebut dibagi antara juragan dan nelayan dengan pembagian 50% :
50%. Namun sebelumnya dipotong untuk biaya lain seperti bahan bakar, makanan
dan apabila terjadi kerusakan kapal maka dipotong dari uang tersebut.
Sarana
dan prasarana yang digunakan untuk menunjang proses penangkapan sudah
mencukupi. Hampir seluruh nelayan yang ada di Pantai Drini telah memiliki kapal
sendiri. Rata-rata kapal yang mereka beli merupakan kapal bekas namun layak
pakai. Kemudian untuk alat tangkapnya, para nelayan sudah memilki beberapa alat
tangkap yang disesuaikan dengan ikan yang akan ditangkap. Ada beberapa alat
tangkap yang digunakan antara lain pancing dan jaring. Jaring yang digunakan
juga ada beberapa model yaitu jaring bawalan, jaring lobster dan jaring lainnya
yang disesuaikan dengan ikan yang akan ditangkap. Modal yang digunakan dalam
usaha penangkapan didapatkan dari modal pinjaman ataupun modal sendiri atau
pribadi.
Apabila
terjadi kerusakan pada sarana dan prasarana penangkapan ikan seperti perahu,
mesin perahu, jaring dan lain-lain dilakukan perawatan rutin setiap harinya.
Apalagi untuk mesin perahu yang sangat rentan rusak karena terkena air asin
terus menerus. Kemudian untuk perahu biasanya dilakukan pergantian bambu
apabila sudah rusak dan pengecatan ulang pada kapal. Selain itu, untuk
perawatan jaring sendiri biasanya apabila sudah tidak bisa digunakan jaring
tersebut langsung diganti dengan yang baru hanya saja diambil pemberatnya saja.
f. Hubungan
rerata hasil tangkap, rerata harga, dan total pendapatan per tahun
Tabel 6. Rerata hasil tangkap, rerata harga dan total pendapatan per tahun
|
Rerata Hasil Tangkap
|
Rerata Harga
|
Total Pendapatan
per tahun
|
|
52.5
|
Rp24.666.67
|
Rp419.580.000.00
|
|
32.5
|
Rp40.000.00
|
Rp421.200.000.00
|
|
56.5
|
Rp58.833.33
|
Rp767.863.250.00
|
|
80
|
Rp171.312.50
|
Rp2.083.160.000.00
|
|
102
|
Rp33.000.00
|
Rp848.232.000.00
|
|
107.5
|
Rp35.000.00
|
Rp1.204.000.000.00
|
|
87.5
|
Rp15.000.00
|
Rp320.250.000.00
|
|
67.5
|
Rp20.000.00
|
Rp453.600.000.00
|
|
55
|
Rp10.000.00
|
Rp198.000.000.00
|
|
55
|
Rp10.000.00
|
Rp74.250.000.00
|
|
8.5
|
Rp150.000.00
|
Rp459.000.000.00
|
|
11.5
|
Rp275.000.00
|
Rp721.050.000.00
|
|
55
|
Rp12.750.00
|
Rp196.350.000.00
|
|
18.5
|
Rp35.000.00
|
Rp154.105.000.00
|
|
55
|
Rp8.500.00
|
Rp157.080.000.00
|
|
130
|
Rp33.571.43
|
Rp1.047.428.571
|
|
77.5
|
Rp20.000.00
|
Rp520.800.000.00
|
|
30
|
Rp30.000.00
|
Rp302.400.000.00
|
|
50.5
|
Rp15.000.00
|
Rp254.520.000.00
|
|
100.5
|
Rp10.000.00
|
Rp337.680.000.00
|
|
56.25
|
Rp15.000.00
|
Rp283.500.000.00
|
|
50
|
Rp15.000.00
|
Rp252.000.000.00
|
|
55
|
Rp15.000.00
|
Rp277.200.000.00
|
|
62.5
|
Rp15.000.00
|
Rp135.000.000.00
|
|
60
|
Rp15.000.00
|
Rp302.400.000.00
|
|
32.5
|
Rp15.000.00
|
Rp29.250.000.00
|
|
52.5
|
Rp30.000.00
|
Rp444.150.000.00
|
|
57.5
|
Rp14.000.00
|
Rp270.480.000.00
|
|
103.5
|
Rp20.000.00
|
Rp695.520.000.00
|
|
80
|
Rp13.000.00
|
Rp349.440.000.00
|
|
205
|
Rp15.000.00
|
Rp1.033.200.000.00
|
|
54
|
Rp17.500.00
|
Rp317.520.000.00
|
|
50
|
Rp6.500.00
|
Rp115.375.000.00
|
Hubungan antara rerata hasil tangkap, rerata harga dan
total pendapatan per tahun menunjukan hasil yang berbanding lurus. Semakin
tinggi hasil tangkapan dan harga dari suatu ikan tangkapan maka semakin tinggi
pula total pendapatan per tahunnya. Dari hasil wawancara didapatkan bahwa
rerata hasil tangkapan mencapai 43.04 kg, untuk rerata harganya yaitu sebesar
Rp36.000 dan dengan total pendapatan per tahun yang didapatkan nelayan mencapai
Rp 486 juta. Rerata harga tertinggi dari hasil tangkapan yaitu sebesar Rp
275.000 sedangkan harga terendah mencapai Rp 6.500. Rerata hasil tangkapan
tertinggin yaitu sebesar 205 kg dan terendah adalah sebesar 8.5 kg. Untuk total
pendapatan per tahun yang didapatkan nelayan dari hasil melaut tertinggi yaitu
sebesar Rp 2.083.160.000 dan terendah Rp 74.250.000.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi harga dari ikan
sendiri, antara lain jenis ikan. Jenis ikan sangat berpengaruh dengan harga
yang didapatkan, seperti contoh jenis ikan lobster akan lebih mahal dibanding
ikan bandeng. Untuk hasil tangkapan, juga ada faktor yang mempengaruhi antara
lain musim penangkapan ikan. Apabila sedang terjadi musim ikan, maka hasil
tangkapan dapat dimaksimalkan sedangkan apabila sedang tidak musim ikan maka
nelayan hanya mendapatkan sedikit ikan bahkan tidak sama sekali. Untuk total
pendapatan per tahun yang didapatkan nelayan bergantung pada hasil tangkapan
dan harga yang didapatkan. Semakin banyak hasil tangkapan dan semakin tinggi
harga dari suatu ikan, maka pendapatan per tahun dari seorang nelayan akan
tinggi pula.
g. Analisis Biaya
Analisis biaya merupakan banyaknya biaya
yang dikeluarkan nelayan untuk melakukan usaha perikanan yaitu penangkapan.
Analisis biaya ini meliputi biaya investasi, biaya operasional dan biaya
perawatan. Biaya investasi meliputi hal-hal pokok yang merupakan modal awal
dari usaha tersebut, biaya operasional meliputi hal-hal yang berkaitan dengan
biaya yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan sekali trip penangkapan dan biaya
perawatan biasanya dikeluarkan ketika kapal ataupun alat tangkap sedang
membutuhkan perawatan.
Biaya investasi tertinggi yang didapatkan dari hasil
wawancara adalah Rp 95.500.000 dan terendah adalah Rp 7.250.000. Untuk biaya
operasional tertinggi didapatkan sebesar Rp 3.123.750 dan yang terendah adalah
Rp 190.000. Biaya perawatan tertinggi yang didapatkan dari hasil wawancara
adalah sebesar Rp 2.660.000 sedangkan terendah adalah Rp 15.700.
Biaya investasi meliputi kapal, mesin kapal dan alat
tangkapnya. Untuk biaya operasional meliputi bahan bakar, makanan, es, rokok
apabila nelayan tersebut merokok, pajak retribusi dan lainnya yang berkaitan
dengan operasional penangkapan. Bahan bakar bergantung pada jarak yang dilalui
untuk sekali trip penangkapan. Apabila jarak yang ditempuh semakin jauh maka
bahan bakar yang dibutuhkan juga semakin banyak. Es digunakan untuk menjaga
ikan agar tetap segar selama proses penangkapan. Namun es tidak perlu digunakan
apabila jarak yang digunakan relatif dekat. Bagi nelayan yang memiliki
kebiasaan merokok, maka dia harus menambah biaya lagi untuk memenuhi kebutuhan
rokoknya. Untuk biaya perawatan biasanya dikeluarkan ketika kapal ataupun alat
tangkap sedang membutuhkan perawatan. Biasanya biaya perawatan kapal meliputi
perawatan mesin kapal, pengecatan ulang dan pergantian bambu kapal. Perawatan
mesin kapal dilakukan secara rutin karena mesin adalah benda yang paling sering
terkena air asin sehingga perlu dilakukan perawatan agar tidak cepat rusak.
Untuk pengecatan ulang kapal biasanya dilakukan setahun sekali apabila cat
sudah mulai luntur sedangkan pergantian bambu dilakukan saat bambu telah rusak.
Selain itu perwatan lainnya adalah menambal bagian kapal yang bocor. Semua
perawatan tersebut bisa dilakukan dipinggiran pantai ataupun di bengkel.
h. Hambatan Usaha dan Solusinya
Dari hasil wawancara yang telah dilakukan terhadap
responden dapat diketahui beberapa masalah antara lain, harga bbm yang naik,
yang menyebabkan kebutuhan pokok juga naik sehingga menyulitkan kehidupan
nelayan. Selain itu, peraturan mengenai penangkapan ikan juga kurang tegas dari
pemerintah. Masih banyak nelayan yang melanggar peraturan dalam penangkapan,
seperti menggunakan pukat yang dapat merusak ekosistem laut. Lalu harga ikan
yang tidak stabil yang membuat pendapatan nelayan tak tentu. Kemudian fasilitas
dari pemerintah yang masih kurang seperti kamar mandi umum untuk nelayan dan
gudang khusus untuk nelayan. Selain itu, sosialisasi yang belum cukup dari
pemerintah agar memudahkan nelayan dalam pengelolaan usaha peangkapan ikan.
Berdasarkan permasalahan dalam usaha penangkapan di
Pantai Drini tersebut dapat diperoleh beberapa solusi antara lain, untuk harga
bbm supaya tidak naik atau diberlakukan subsidi bbm untuk para nelayan sehingga
tidak terganggu operasionalnya dalam penangakapan ikan. Kemudian untuk
peraturan mengenai penangkapan ikan lebih diketatkan lagi. Nelayan yang
melanggar peraturan penangkapan ikan haruslah ditindak tegas, lalu untuk
peraturannya sendiri dibuat lebih rinci agar semua komponen dalam usaha
perikanan paham dan mengerti peraturan tersebut. Hal tersebut guna melestarikan
dan menjaga ekosistem laut dan terumbu karang. Untuk harga ikan sendiri, dari
pemerintah lebih dapat mengatur harga dipasaran sehingga harga ikan akan stabil
dan nelayan dapat meningkatkan pendapatannya. Fasilitas kamar mandi dan gudang
untuk para nelayan dapat dibangun dari dana kolektif hasil melaut. Jadi setiap
nelayan setelah melaut wajib memberikan sumbangan untuk pembangunan kamar mandi
dan gudang tersebut. Sosialisasi sangat penting guna meningkatkan kualitas
sumberdaya manusia yang digunakan dalam usaha penangkapan ini. Peran pemerintah
dalam meningkatkan sosialisasi ini sangat dibutuhkan agar nelayan mudah dalam
mengatasi kendala yang dialami selama proses usaha penangkapan ini. Selain itu,
pemerintah juga dapat membantu nelayan dari aspek lainnya seperti bantuan
modal, bantuan alat tangkap dan lain-lain yang dapat mendukung usaha perikanan
tangkap.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Profil nelayan di Pantai Drini yang
melakukan usaha penangkapan ikan adalah umur nelayan di Pantai Drini didominasi
kelompok umur 40-50 tahunan yang merupakan kelompk umur yang masih tergolong
produktif, untuk jenajang pendidikannya kebanyak nelayan Pantai Drini hanya
berpendidikan SD, dengan pengalaman melaut yang dimiliki sudah terbilang banyak
sedangkan profesi sebagian besar penduduk yaitu berprofesi sebagai nelayan .
2. Permasalahan yang dihadapai nelayan
Pantai Drini antara lain harga bahan bakar yang tinggi, harga ikan yang tidak
stabil, kurang ketatnya peraturan dari pemerintah soal penangkapan dan kurangnya
sosialisasi untuk meningkatakan kualitas sumberdaya manusia.
3. Biaya investasi rata-rata yang
dikeluarkan oleh seorang nelayan adalah sebesar Rp 20.473.660, biaya
operasional Rp 524.853 dan biaya perawatan Rp 283.991, untuk total pendapatan
yang diperoleh oleh nelayan rata-rata per tahunnya mencapai Rp 486.000.000
B.
Saran
Dalam
pelaksanaan praktikum sebaiknya praktikan mewawancarai lebih detail responden
agar didapatkan data yang akurat dalam membantu mengisi kuesioner. Selain itu,
asisten juga sebaiknya melakukan persamaan persepsi agar dalam pengisian data
berlangsung dengan cepat. Selain itu, pelaksanaan praktikum untuk ke depannya
diadakan di tempat yang berbeda lagi, agar mengetahui dinamika pertumbuhan
ekonomi masyarakat perikanan di Indonesia.
VI. DAFTAR PUSTAKA
Bardach, J.E., Ryther, J.H., and W.L.Mc.
Larney. 1972. Aquaculture. Alabama
Agricultural Experiment Station. Auburn University. Birmingham, Alabama.
Hempel G., Pauly D. 2004. Fisheries and
Fisheries Science in Their Search for Sustainability. Dalam Fauzi A. 2010.
Ekonomi Perikanan Teori, Kebijakan, dan Pengelolaan. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Lackey, R. T. 2005. Fisheries : history,
science, and management. Dalam Fauzi A. 2010. Ekonomi Perikanan Teori,
Kebijakan, dan Pengelolaan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Setyobudi, E. 2012. Bahan Ajar Biologi
Perikanan (Slide). Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah
Mada. Yogyakarta.
Webster’s New World Dictionary. 1990.
College ed. The World Publ. Co. New York.
VII. LAMPIRAN
|
Tabel 1. Sebaran Umur Nelayan
|
||
|
Range Umur
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
20 - 26
|
2
|
6.06
|
|
27 - 32
|
5
|
15.15
|
|
33 - 38
|
8
|
24.24
|
|
39 - 44
|
7
|
21.21
|
|
45 - 50
|
6
|
18.18
|
|
51 - 56
|
3
|
9.09
|
|
57 - 62
|
0
|
0.00
|
|
63 - 68
|
0
|
0.00
|
|
69 - 74
|
1
|
3.03
|
|
75 - 80
|
1
|
3.03
|
|
Jumlah
|
33
|
100.00
|
Grafik
1. Sebaran Umur Nelayan
|
Tabel 2. Tingkat Pendidikan Nelayan
|
||
|
Pendidikan
|
Jumlah
|
%
|
|
TS
|
3
|
9.09
|
|
SD
|
19
|
57.58
|
|
SLTP
|
6
|
18.18
|
|
SLTA
|
5
|
15.15
|
|
PT
|
0
|
0.00
|
|
Jumlah
|
33
|
100.00
|
Grafik
2. Tingkat Pendidikan Nelayan
|
Tabel 3. Sebaran
Pengalaman Nelayan
|
||
|
Range
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
- 7
|
23
|
45.10
|
|
8 - 15
|
9
|
17.65
|
|
16 - 23
|
10
|
19.61
|
|
24 - 31
|
5
|
9.80
|
|
32 - 39
|
4
|
7.84
|
|
Jumlah
|
51
|
100.00
|
Grafik 3. Sebaran Pengalaman Nelayan
|
Tabel 4. Jenis Pekerjaan
Nelayan
|
||||
|
Pekerjaan
|
Pokok
|
Pokok
|
Sampingan
|
Sampingan
|
|
Buruh
|
0
|
0.00
|
0
|
0.00
|
|
Guru
|
0
|
0.00
|
0
|
0.00
|
|
Nelayan
|
28
|
84.85
|
5
|
15.15
|
|
Pedagang
|
1
|
3.03
|
3
|
9.09
|
|
Pensiunan
|
0
|
0.00
|
0
|
0.00
|
|
Perangkat Desa
|
0
|
0.00
|
0
|
0.00
|
|
Petambak
|
0
|
0.00
|
0
|
0.00
|
|
Petani
|
4
|
12.12
|
10
|
30.30
|
|
PNS
|
0
|
0.00
|
0
|
0.00
|
|
Polisi
|
0
|
0.00
|
0
|
0.00
|
|
SAR
|
0
|
0.00
|
0
|
0.00
|
|
TNI
|
0
|
0.00
|
0
|
0.00
|
|
Wiraswasta
|
0
|
0.00
|
0
|
0.00
|
|
Jumlah
|
33
|
|
18
|
|
Grafik
4. Jenis Pekerjaan Nelayan
|
Tabel 5. Musim Tangkap
|
|
|
Bulan
|
Jumlah
|
|
Jan
|
840
|
|
Feb
|
773
|
|
Mar
|
755
|
|
Apr
|
766
|
|
Mei
|
741
|
|
Jun
|
742
|
|
Jul
|
742
|
|
Ags
|
757
|
|
Sep
|
848
|
|
Okt
|
866
|
|
Nov
|
866
|
|
Des
|
873
|
Grafik 5. Musim Tangkap
Dokumentasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar