Minggu, 03 September 2017

Laporan Pengantar Ekonomi Perikanan



LAPORAN PRAKTIKUM PENGANTAR EKONOMI PERIKANAN
STUDI EKONOMI PERIKANAN PESISIR PANTAI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA



DISUSUN OLEH
Nama            : Haditiya Rayi Setha Ahmad
NIM              : 13/349901/PN/13308
Lokasi           : Kabupaten Gunung Kidul
Asisten          : Rr. Intan Chilmatis Sa’adha





LABORATORIUM SOSIAL EKONOMI PERIKANAN
JURUSAN PERIKANAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015


I. PENDAHULUAN
Ilmu perikanan membahas berbagai topik seperti sosial ekonomi, budidaya dan pengolahan, pengolahan produk ikan, teknik penangkapan, selain sejumlah topik yang berorientasi bilogi seperti gentika, nutrisi dan penyakit. Memahami aspek ekonomi perikanan tidaklah lengkap tanpa memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan perikanan dari berbagai perspektif. Kegiatan membudidayakan ikan telah berlangsung ribuan, bahkan puluhan ribu tahun yang lalu. Dengan demikian kegiatan perikanan merupakan proses pembelajaran kolektif dalam kurun waktu yang cukup lama tersebut.
Dalam konteks legal, Indonesia mengartikan perikanan melalui pengertian yang dituangkan dalam aturan perundang-undangan. Perikanan sendiri merupakan semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan (UU No. 9 Tahun 1985), sedangkan perikanan menurut UU No. 31 Tahun 2004 adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan (Setyobudi, 2012).
Secara umum, Merriam-Webster Dictionary mendefinisikan perikanan sebagai kegiatan, industri atau musim pemanenan ikan atau hewan laut lainnya. Definisi yang hampir serupa juga ditemukan di Encyclopedia Brittanica yang mendefinisikan perikanan sebagai pemanenan ikan, kerang-kerangan (shellfish) dan mamalia laut. Sementara Hempel dan Pauly (2004) mendefiniskan perikanan sebagai kegiatan eksploitasi sumber daya hayati dari laut (Hempel dan pauly, 2004). 
Suatu perikanan dapat didefinisikan sebagai suatu system yang terdiri dari tiga komponen yang saling berinteraksi, yakni: (1) biota akuatik, (2) habitat akuatik, dan (3) manusia sebagai pengguna sumberdaya (Lackey, 2005) alam yang bersifat mampu pulih ini. Walaupun dapat pulih sendiri jika terus menerus di eksploitasi maka kekayaannya perikanan sendiri akan berkurang, sehingga muncullah kegiatan budidaya yang merupakan upaya produksi biota atau organisme perairan melalui penerapan teknik domestikasi (membuat kondisi lingkungan yang mirip dengan habitat asli organisme yang dibudidayakan), penumbuhan hingga pengelolaan usaha yang berorientasi ekonomi (Bardach, dkk., 1972) dan juga merupakan proses pengaturan dan perbaikan organisme akuatik (Webster’s Dictionary, 1990).
Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui profil nelayan penangkapan, mengetahui permasalahan serta tantangan yang dihadapi para pelaku usaha perikanan dan menganalisis komponen-komponen biaya penyusunan dan pendapatan usaha perikanan.
Manfaat dilaksanakan kegiatan praktikum pengantar ekonomi perikanan ditujukan untuk mengkaji aspek sosial ekonomi perikanan dibidang penangkapan. Praktikum akan dilakukan di Pantai Drini, Gunung Kidul, Yogyakarta.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A.    Kondisi Umum Lokasi Praktikum
Pantai Drini adalah salah satu obyek wisata yang terletak di Desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul, Yogyakarta. Letaknya di sebelah timur pantai Baron dan berjarak sekitar 1 km ke arah timur Pantai Sepanjang. Namun jarak sebenarnya yang harus ditempuh untuk sampai ke pantai ini sejauh 60 km atau sekitar 2-3 jam dari kota Yogyakarta. Infrastruktur menuju ke Pantai Drini cukup mulus, walaupun jalan masuk untuk sampai ke pantai ini cukup terjal dan berkelok-kelok.
Pantai drini merupakan pantai yang langsung berhadapan dengan Samudra Hindia. Pantai ini memiliki lereng pantai yang cukup curam sekitar 10 derajat dan merupakan bagian dari Wonosari yang didominasi oleh batuan karst dari Gunungsewu. Pantai ini belum banyak terjamah oleh wisatawan lokal maupun asing, karena letaknya yang berada di daerah terpencil. Sehingga, Pantai Drini ini dikenal dengan nama Pantai Perawan. Sebutan ini digunakan oleh masyarakat setempat karena kondisi pantai drini yang masih bersih, udara yang sejuk, air yang terasa dingin ditambah dengan hamparan pasir putih yang mempesona dan aliran airnya yang tidak seganas Pantai Parangtritis.
Pantai ini memiliki sebuah tebing besar yang berada di tengah-tengah pantai dan membagi pantai ini menjadi dua sisi, yaitu sisi barat dan sisi timur. Tebing ini terlihat begitu indah sehingga membuatnya seolah-olah seperti pulau kecil yang terapung di tengah pantai. Di atas karang ini dibangun mercusuar dimana dari menaranya mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan yang luar biasa indahnya. Di pantai ini pengunjung juga dapat melihat dengan jelas rumput-rumput laut di antara karang-karang laut dan biota laut lainnya.


B.     Kegiatan Penangkapan
Kegiatan penangkapan di Pantai Drini cukup berkembang pesat dari awal mula nelayan yang melakukan kegiatan penangkapan hanya sedikit, sekarang menjadi banyak. Permintaan ikan untuk konsumsi telah menignkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Konsumsi ikan rata-rata masyarakat dunia hanya sekitar 6 kg/kapita/tahun di tahun 1950 dan saat ini telah meningkat hingga 18 kg/kapita/tahun. Hal tersebut merupakan salah satu penyebab meningkatnya kegiatan penangkapan yang terjadi di Pantai Drini.
Beberapa komoditi ikan yang dapat ditangkap di Pantai Drini adalah lobster dan bawal.  Kedua jenis ikan tersebut sering sekali menjadi tujuan penangkapan bagi para nelayan karena harganya yang relatif tinggi dan dagingnya yang cukup lezat. Di Pantai Drini proses pelelangan ikan dilakukan di TPI setempat dengan pembayaran secara tunai langsung. Para nelayan di Pantai Drini rata-rata telah memiliki kapal sendiri, namun jangkauan untuk penangkapannya masih relatif dekat, karena kekurangan fasilitas pada perahu seperti GPS.
III. METODE
A.    Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum dilaksanakan pada tanggal 29-31 Mei 2015 di desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunung Kidul. Lokasi dipilih karena :
1.    Sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai nelayan, pembudidaya ikan, dan pengolahan ikan
2.    Usaha yang dikembangkan dilokasi tersebut melibatkan kelompok perempuan maupun laki-laki.
3.    Usaha terintegrasi dari produksi sampai ke pasca panen dan pengolahan serta pemasaran hasil perikanan.

B.     Metode Dasar
Metode kajian adalah metode survai dan observasi lapangan. Penelitian survai adalah penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok. Proses pengumpulan data dilakukan melalui interaksi secara langsung dengan responden. Penelitian survai dapat digunakan untuk eksplorasi, deskriptif, maupun penjelasan dan prediksi atau meramalkan kejadian tertentu di masa yang akan datang.

C.     Metode Penentuan Sampel/Responden
            Populasi yang menjadi kajian praktikum ini adalah nelayan penangkapan ikan. Pemilihan reponden menggunakan metode snowball sampling. Metode snowball sampling merupakan metode pemilihan responden dengan pemilihan sejumlah kecil dari populasi dengan karakteristik tertentu, yang selanjutnya dijadikan responden, yang diminta untuk memberikan rekomendasi untuk responden berikutnya. Teknik ini menggunakan satu orang utama sebagai informasi kunci yang akan terus bergulir menuju informan berikutnya hingga kualitas data yang diharapkan dapat terpenuhi. Dalam hal ini praktikan dapat mendatangi tetua atau ketua kelompok atau petugas pemerintahan yang menjadi tokoh kunci biasa pada masing-masing kegiatan, yang dapat dianggap sebagai informan pertama (responden pertama) untuk mengawali teknik snowball sampling. Informan pertama diharapkan memberi rekomendasi calon informan selanjutnya, sampai jumlah responden yang ditentukan diketahui.

D.    Teknik Pengumpulan Data
1.      Kuesioner
Metode kuisioner biasanya digunakan untuk menyelidiki pendapat orang dan sikap. Metode angket adalah suatu metode penelitian yang berupa daftar pertanyaan untuk memperoleh data berupa jawaban-jawaban dari responden. Kuisioner pada praktikum ini digunakan untuk memperoleh informasi dari sejumlah pelaku usaha perikanan yaitu khususnya untuk bidang penangkapan.
2.      Dokumentasi
            Metode dokumentasi adalah pengumpulan data dengan cara melihat dan memperhatikan serta mengolah dokumen-dokumen yakni melalui arsip-arsip surat serta catatan-catatan dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan atas kebenarannya. Metode dokumentasi pada praktikum ini sebagai sumber untuk mendapatkan informasi bidang pengangkapan.
3.      Wawancara
            Metode wawancara adalah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (praktikan) untuk memperoleh informasi dari responden yang berfungsi untuk meneliti atau menilai keberadaan seseorang, misal untuk memperoleh data tentang latar belakang pendidikan orang tua, serta sikapnya terhadap sesuatu.
4.      Observasi
            Metode observasi adalah pencatatan dan pengamatan fenomena-fenomena yang diselidiki secara sistematik. Metode observasi adalah metode pengumpulan data dengan jalan mengamati, meneliti dan mengukur kejadian atau peristiwa yang sedang berlangsung.

E.     Tabulasi dan Analisis Data
            Tabulasi data dilakukan dengan menggunakan progam MS. Excel. Data yang telah didapat akan ditabulasikan untuk mendapat gambaran mengenai kondisi sosial ekonomi dari para pelaku usaha perikanan (responden) bidang penangkapan yang telah diwawancarai sebelumnya. Berdasarkan hasil tabulasi data selanjutnya dianalisis secara deskriptif.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
a.       Kondisi Umum
Pantai Drini terletak di Desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta. Gunung Kidul terletak di antara 07o16’30’’ – 07o19’30’’ LS dan 110o19’30’’ – 110o25’30’’ BT dengan luas wilayah 1.485 km2. Pantai drini merupakan pantai yang langsung berhadapan dengan Samudra Hindia. Pantai ini memiliki lereng pantai yang cukup curam sekitar 10 derajat dan merupakan bagian dari Wonosari yang didominasi oleh batuan karst dari Gunungsewu. 
Pantai ini memiliki sebuah tebing besar yang berada di tengah-tengah pantai dan membagi pantai ini menjadi dua sisi, yaitu sisi barat dan sisi timur. Tebing ini terlihat begitu indah sehingga membuatnya seolah-olah seperti pulau kecil yang terapung di tengah pantai. Di atas karang ini dibangun mercusuar dimana dari menaranya mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan yang luar biasa indahnya. Di pantai ini pengunjung juga dapat melihat dengan jelas rumput-rumput laut di antara karang-karang laut dan biota laut lainnya.
b.      Sarana dan Prasaran
Tabel 1. Sebaran Umur Nelayan
Range Umur
Jumlah
Persentase
20 - 26
2
6.06
27 - 32
5
15.15
33 - 38
8
24.24
39 - 44
7
21.21
45 - 50
6
18.18
51 - 56
3
9.09
57 - 62
0
0.00
63 - 68
0
0.00
69 - 74
1
3.03
75 - 80
1
3.03
Jumlah
33
100.00
c.       Profil Responden
















Grafik 1. Sebaran Umur Nelayan
Kelompok usia nelayan paling banyak di Pantai Drini adalah antara 33-38 tahun, sedangkan untuk kelompok umur 69-74 tahun dan 75-80 tahun relatif rendah. Sebaran umur nelayan di Pantai Drini didominasi kelompok umur 40-50 tahunan. Pada kisaran umur itu, masih tergolong produktif sehingga pelaksanaan kegiatan penangkapan dapat maksimal. Untuk regenerasi, kelompok umur antara 20-30 tahun sudah terbilang banyak. Hal tersebut dikarenakan usaha penangkapan sangat menjanjikan di Pantai Drini, sehingga para remaja yang masih berusia muda memilih menjadi nelayan sebagai pekerjaan. Data sebaran umur dapat digunakan untuk menganalisis dan mengetahui human resources yang ada di suatu wilayah tertentu berdasarkan umur, untuk mengambil kebijakan berkaitan tentang kependudukan, serta dapat digunakan untuk berbagai macam proyeksi.
Tabel 2.  Tingkat Pendidikan Nelayan
Pendidikan
Jumlah
%
TS
3
9.09
SD
19
57.58
SLTP
6
18.18
SLTA
5
15.15
PT
0
0.00
Jumlah
33
100.00







Grafik 2. Tingkat Pendidikan Nelayan
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan didapatkan data sebaran pendidikan nelayan di Pantai Drini yaitu nelayan yang tidak sekolah sebesar 9.09%, nelayan dengan pendidikan SD sebesar 57.58%, nelayan dengan pendidian SMP sebesar 18.18%, nelayan dengan pendidikan SMA sebesar 15.15% dan tidak ditemukan nelayan yang menempuh perguruan tinggi. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa nelayan di Pantai Drini kebanyakan hanya berpendidikan SD bahkan ada nelayan yang tidak bersekolah. Sehingga untuk membentuk sumberdaya manusia yang berkualitas dibutuhkan pelatihan ataupun penyuluhan mengenai penangkapan ikan sehingga dalam pelaksanaan usaha penangkapan dapat dilakukan dengan maksimal.
Tabel 3. Sebaran Pengalaman Nelayan
Range
Jumlah
Persentase
 - 7
23
45.10
8 - 15
9
17.65
16 - 23
10
19.61
24 - 31
5
9.80
32 - 39
4
7.84
Jumlah
51
100.00






Grafik 3. Sebaran Pengalaman Nelayan
Seseorang yang telah lama bekerja pada satu bidang tertentu umumnya lebih paham dan mengerti akan apa yang ia lakukan terhadap pekerjaan tersebut. Disini kematangan akan pengalaman bekerja tentunya akan sangat dibutuhkan oleh seorang nelayan untuk dapat memaksimalkan usaha penangkapanya. Dari hasil wawancara terhadap beberapa responden maka dapat disimpulkan bahwa pengalaman para pekerja sangat bervariasi, tertinggi pengalaman kerja yaitu kurang dari 7 tahun dengan presentase sebesar 45.10% sedangkan pengalaman kerja paling lama seorang nelayan di Pantai Drini yang didapat adalah 32-39 tahun dengan presentase 7.84%. Dari hasil tersebut nelayan di Pantai Drini telah melakukan usaha penangkapan sejak lama, sehingga pengalaman yang dimiliki sudah terbilang banyak sehingga usaha penangkapan sudah dilakukan dengan professional.
Tabel 4. Jenis Pekerjaan Nelayan



Pekerjaan
Pokok
Pokok
Sampingan
Sampingan
Buruh
0
0.00
0
0.00
Guru
0
0.00
0
0.00
Nelayan
28
84.85
5
15.15
Pedagang
1
3.03
3
9.09
Pensiunan
0
0.00
0
0.00
Perangkat Desa
0
0.00
0
0.00
Petambak
0
0.00
0
0.00
Petani
4
12.12
10
30.30
PNS
0
0.00
0
0.00
Polisi
0
0.00
0
0.00
SAR
0
0.00
0
0.00
TNI
0
0.00
0
0.00
Wiraswasta
0
0.00
0
0.00
Jumlah
33

18







 






Grafik 4. Jenis Pekerjaan Nelayan
Setiap individu wajib untuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, di Desa Banjarejo terdapat dua jenis pekerjaan yang didominasi oleh para penduduk. Pekerjaan tersebut adalah nelayan, petani dan pedagang. Dari data responden yang didapatkan jenis pekerjaan nelayan adalah pekerjaan yang paling dominan di desa ini terhitung ada 84.85% responden yang menitik beratkan usahan berdagang sebagai usaha pokok yang ditekuni, untuk profesi petani dari jumlah total responden memilih bertani sebagai usaha pokok yang dijalani didapatkan presentase sebesar 12.12% dan hanya 3.03% yang berprofesi sebagai pedagang. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa mayoritas penduduk di Desa Banjarejo berprofesi sebagai nelayan.
d.      Musim Penangkapan
Tabel 5. Musim Tangkap
Bulan
Jumlah
Jan
840
Feb
773
Mar
755
Apr
766
Mei
741
Jun
742
Jul
742
Ags
757
Sep
848
Okt
866
Nov
866
Des
873
Grafik 5. Musim Tangkap
Hasil diatas menunjukan musim yang sering digunakan para nelayan untuk melaksanakan kegiatan penangkapan. Hampir disetiap bulan dalam satu tahun nelayan di Pantai Drini melaut, hanya pada hari-hari tertentu saja mereka tidak melaut karena menghormati adat istiadat setempat. Untuk musim penangkapan paling banyak dilakukan pada bulan September hingga Januari. Hal tersebut dikarenakan pada bulan tersebut merupakan titik puncak dari ikan mudah untuk ditangkap dan ketika jumlah ikan melimpah. Di bulan-bulan lainnya nelayan masih melakukan kegiatan penangkapan, namun intensitasnya lebih rendah dibandingkan dengan di bulan antara September hingga Januari karena hasil yang didapatkan relatif rendah dan biaya untuk sekali melaut tidak sebanding dengan hasil yang didapat.
e.       Kegiatan Penangkapan
            Kegiatan usaha penangkapan ikan di Pantai Drini dimulai pada pagi hari. Biasanya nelayan berangkat melaut pada pagi hari buta dan pulang kembali ke darat pada siang harinya. Dalam sekali trip melaut biasanya terdiri dari 3 awak kapal yang terdiri dari nelayan dan tekongnya. Masing-masing memiliki tugasnya sendiri. Sebelum para nelayan berangkat melaut, mereka mempersiapkan bekal untuk kebutuhan melaut. Biasanya bekal yang biasa mereka bawa adalah roti, air mineral dan rokok. Alasan mereka hanya membawa perbekalan tersebut adalah karena jarak yang ditempuh untuk melaut relatif dekat, selain itu untuk menghemat biaya yang dikeluarkan. Selain itu, dibutuhkan juga es balok yang digunakan untuk membuat ikan tidak rusak selama perjalanan melaut.
            Kemudian untuk jenis ikan yang sering didapatkan antara lain ikan bawal dan lobster. Kedua jenis ikan ini menjadi komoditi yang sangat tinggi di Pantai Drini mengingat dagingnya yang lembut dan enak sehingga para penikmat ikan sangat memburu ikan tersebut. Selain itu, harga jual yang relatif tinggi ke pembeli merupakan salah satu alasan pula kenapa ikan ini menjadi sangat mudah didapatkan di Pantai Drini. Dengan harga jual yang tinggi dapat menambah penghasilan dari para nelayan Pantai Drini sendiri. Untuk musim penangkapan ikannya sendiri terjadi antara bulan September hingga Januari, namun pada hari-hari tertentu nelayan tidak diperbolehkan melaut dikarenakan adat istiadat setempat.
            Hasil tangkapan dari melaut kemudian langsung dilelang di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) setempat. Dengan transaksi tunai atau pembayaran langsung. Kemudian hasil dari melaut tersebut dibagi antara juragan dan nelayan dengan pembagian 50% : 50%. Namun sebelumnya dipotong untuk biaya lain seperti bahan bakar, makanan dan apabila terjadi kerusakan kapal maka dipotong dari uang tersebut.
            Sarana dan prasarana yang digunakan untuk menunjang proses penangkapan sudah mencukupi. Hampir seluruh nelayan yang ada di Pantai Drini telah memiliki kapal sendiri. Rata-rata kapal yang mereka beli merupakan kapal bekas namun layak pakai. Kemudian untuk alat tangkapnya, para nelayan sudah memilki beberapa alat tangkap yang disesuaikan dengan ikan yang akan ditangkap. Ada beberapa alat tangkap yang digunakan antara lain pancing dan jaring. Jaring yang digunakan juga ada beberapa model yaitu jaring bawalan, jaring lobster dan jaring lainnya yang disesuaikan dengan ikan yang akan ditangkap. Modal yang digunakan dalam usaha penangkapan didapatkan dari modal pinjaman ataupun modal sendiri atau pribadi.
            Apabila terjadi kerusakan pada sarana dan prasarana penangkapan ikan seperti perahu, mesin perahu, jaring dan lain-lain dilakukan perawatan rutin setiap harinya. Apalagi untuk mesin perahu yang sangat rentan rusak karena terkena air asin terus menerus. Kemudian untuk perahu biasanya dilakukan pergantian bambu apabila sudah rusak dan pengecatan ulang pada kapal. Selain itu, untuk perawatan jaring sendiri biasanya apabila sudah tidak bisa digunakan jaring tersebut langsung diganti dengan yang baru hanya saja diambil pemberatnya saja.

f.       Hubungan rerata hasil tangkap, rerata harga, dan total pendapatan per tahun
Tabel 6. Rerata hasil tangkap, rerata harga dan total pendapatan per tahun
Rerata Hasil Tangkap
Rerata Harga
Total Pendapatan
per tahun
52.5
Rp24.666.67
Rp419.580.000.00
32.5
Rp40.000.00
Rp421.200.000.00
56.5
Rp58.833.33
Rp767.863.250.00
80
Rp171.312.50
Rp2.083.160.000.00
102
Rp33.000.00
Rp848.232.000.00
107.5
Rp35.000.00
Rp1.204.000.000.00
87.5
Rp15.000.00
Rp320.250.000.00
67.5
Rp20.000.00
Rp453.600.000.00
55
Rp10.000.00
Rp198.000.000.00
55
Rp10.000.00
Rp74.250.000.00
8.5
Rp150.000.00
Rp459.000.000.00
11.5
Rp275.000.00
Rp721.050.000.00
55
Rp12.750.00
Rp196.350.000.00
18.5
Rp35.000.00
Rp154.105.000.00
55
Rp8.500.00
Rp157.080.000.00
130
Rp33.571.43
Rp1.047.428.571
77.5
Rp20.000.00
Rp520.800.000.00
30
Rp30.000.00
Rp302.400.000.00
50.5
Rp15.000.00
Rp254.520.000.00
100.5
Rp10.000.00
Rp337.680.000.00
56.25
Rp15.000.00
Rp283.500.000.00
50
Rp15.000.00
Rp252.000.000.00
55
Rp15.000.00
Rp277.200.000.00
62.5
Rp15.000.00
Rp135.000.000.00
60
Rp15.000.00
Rp302.400.000.00
32.5
Rp15.000.00
Rp29.250.000.00
52.5
Rp30.000.00
Rp444.150.000.00
57.5
Rp14.000.00
Rp270.480.000.00
103.5
Rp20.000.00
Rp695.520.000.00
80
Rp13.000.00
Rp349.440.000.00
205
Rp15.000.00
Rp1.033.200.000.00
54
Rp17.500.00
Rp317.520.000.00
50
Rp6.500.00
Rp115.375.000.00

Hubungan antara rerata hasil tangkap, rerata harga dan total pendapatan per tahun menunjukan hasil yang berbanding lurus. Semakin tinggi hasil tangkapan dan harga dari suatu ikan tangkapan maka semakin tinggi pula total pendapatan per tahunnya. Dari hasil wawancara didapatkan bahwa rerata hasil tangkapan mencapai 43.04 kg, untuk rerata harganya yaitu sebesar Rp36.000 dan dengan total pendapatan per tahun yang didapatkan nelayan mencapai Rp 486 juta. Rerata harga tertinggi dari hasil tangkapan yaitu sebesar Rp 275.000 sedangkan harga terendah mencapai Rp 6.500. Rerata hasil tangkapan tertinggin yaitu sebesar 205 kg dan terendah adalah sebesar 8.5 kg. Untuk total pendapatan per tahun yang didapatkan nelayan dari hasil melaut tertinggi yaitu sebesar Rp 2.083.160.000 dan terendah Rp 74.250.000.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi harga dari ikan sendiri, antara lain jenis ikan. Jenis ikan sangat berpengaruh dengan harga yang didapatkan, seperti contoh jenis ikan lobster akan lebih mahal dibanding ikan bandeng. Untuk hasil tangkapan, juga ada faktor yang mempengaruhi antara lain musim penangkapan ikan. Apabila sedang terjadi musim ikan, maka hasil tangkapan dapat dimaksimalkan sedangkan apabila sedang tidak musim ikan maka nelayan hanya mendapatkan sedikit ikan bahkan tidak sama sekali. Untuk total pendapatan per tahun yang didapatkan nelayan bergantung pada hasil tangkapan dan harga yang didapatkan. Semakin banyak hasil tangkapan dan semakin tinggi harga dari suatu ikan, maka pendapatan per tahun dari seorang nelayan akan tinggi pula.
g.      Analisis Biaya
Analisis biaya merupakan banyaknya biaya yang dikeluarkan nelayan untuk melakukan usaha perikanan yaitu penangkapan. Analisis biaya ini meliputi biaya investasi, biaya operasional dan biaya perawatan. Biaya investasi meliputi hal-hal pokok yang merupakan modal awal dari usaha tersebut, biaya operasional meliputi hal-hal yang berkaitan dengan biaya yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan sekali trip penangkapan dan biaya perawatan biasanya dikeluarkan ketika kapal ataupun alat tangkap sedang membutuhkan perawatan.
Biaya investasi tertinggi yang didapatkan dari hasil wawancara adalah Rp 95.500.000 dan terendah adalah Rp 7.250.000. Untuk biaya operasional tertinggi didapatkan sebesar Rp 3.123.750 dan yang terendah adalah Rp 190.000. Biaya perawatan tertinggi yang didapatkan dari hasil wawancara adalah sebesar Rp 2.660.000 sedangkan terendah adalah Rp 15.700.
Biaya investasi meliputi kapal, mesin kapal dan alat tangkapnya. Untuk biaya operasional meliputi bahan bakar, makanan, es, rokok apabila nelayan tersebut merokok, pajak retribusi dan lainnya yang berkaitan dengan operasional penangkapan. Bahan bakar bergantung pada jarak yang dilalui untuk sekali trip penangkapan. Apabila jarak yang ditempuh semakin jauh maka bahan bakar yang dibutuhkan juga semakin banyak. Es digunakan untuk menjaga ikan agar tetap segar selama proses penangkapan. Namun es tidak perlu digunakan apabila jarak yang digunakan relatif dekat. Bagi nelayan yang memiliki kebiasaan merokok, maka dia harus menambah biaya lagi untuk memenuhi kebutuhan rokoknya. Untuk biaya perawatan biasanya dikeluarkan ketika kapal ataupun alat tangkap sedang membutuhkan perawatan. Biasanya biaya perawatan kapal meliputi perawatan mesin kapal, pengecatan ulang dan pergantian bambu kapal. Perawatan mesin kapal dilakukan secara rutin karena mesin adalah benda yang paling sering terkena air asin sehingga perlu dilakukan perawatan agar tidak cepat rusak. Untuk pengecatan ulang kapal biasanya dilakukan setahun sekali apabila cat sudah mulai luntur sedangkan pergantian bambu dilakukan saat bambu telah rusak. Selain itu perwatan lainnya adalah menambal bagian kapal yang bocor. Semua perawatan tersebut bisa dilakukan dipinggiran pantai ataupun di bengkel.
h.      Hambatan Usaha dan Solusinya
Dari hasil wawancara yang telah dilakukan terhadap responden dapat diketahui beberapa masalah antara lain, harga bbm yang naik, yang menyebabkan kebutuhan pokok juga naik sehingga menyulitkan kehidupan nelayan. Selain itu, peraturan mengenai penangkapan ikan juga kurang tegas dari pemerintah. Masih banyak nelayan yang melanggar peraturan dalam penangkapan, seperti menggunakan pukat yang dapat merusak ekosistem laut. Lalu harga ikan yang tidak stabil yang membuat pendapatan nelayan tak tentu. Kemudian fasilitas dari pemerintah yang masih kurang seperti kamar mandi umum untuk nelayan dan gudang khusus untuk nelayan. Selain itu, sosialisasi yang belum cukup dari pemerintah agar memudahkan nelayan dalam pengelolaan usaha peangkapan ikan.
Berdasarkan permasalahan dalam usaha penangkapan di Pantai Drini tersebut dapat diperoleh beberapa solusi antara lain, untuk harga bbm supaya tidak naik atau diberlakukan subsidi bbm untuk para nelayan sehingga tidak terganggu operasionalnya dalam penangakapan ikan. Kemudian untuk peraturan mengenai penangkapan ikan lebih diketatkan lagi. Nelayan yang melanggar peraturan penangkapan ikan haruslah ditindak tegas, lalu untuk peraturannya sendiri dibuat lebih rinci agar semua komponen dalam usaha perikanan paham dan mengerti peraturan tersebut. Hal tersebut guna melestarikan dan menjaga ekosistem laut dan terumbu karang. Untuk harga ikan sendiri, dari pemerintah lebih dapat mengatur harga dipasaran sehingga harga ikan akan stabil dan nelayan dapat meningkatkan pendapatannya. Fasilitas kamar mandi dan gudang untuk para nelayan dapat dibangun dari dana kolektif hasil melaut. Jadi setiap nelayan setelah melaut wajib memberikan sumbangan untuk pembangunan kamar mandi dan gudang tersebut. Sosialisasi sangat penting guna meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang digunakan dalam usaha penangkapan ini. Peran pemerintah dalam meningkatkan sosialisasi ini sangat dibutuhkan agar nelayan mudah dalam mengatasi kendala yang dialami selama proses usaha penangkapan ini. Selain itu, pemerintah juga dapat membantu nelayan dari aspek lainnya seperti bantuan modal, bantuan alat tangkap dan lain-lain yang dapat mendukung usaha perikanan tangkap.

V. KESIMPULAN DAN SARAN
A.  Kesimpulan
1. Profil nelayan di Pantai Drini yang melakukan usaha penangkapan ikan adalah umur nelayan di Pantai Drini didominasi kelompok umur 40-50 tahunan yang merupakan kelompk umur yang masih tergolong produktif, untuk jenajang pendidikannya kebanyak nelayan Pantai Drini hanya berpendidikan SD, dengan pengalaman melaut yang dimiliki sudah terbilang banyak sedangkan profesi sebagian besar penduduk yaitu berprofesi sebagai nelayan .
2. Permasalahan yang dihadapai nelayan Pantai Drini antara lain harga bahan bakar yang tinggi, harga ikan yang tidak stabil, kurang ketatnya peraturan dari pemerintah soal penangkapan dan kurangnya sosialisasi untuk meningkatakan kualitas sumberdaya manusia.
3. Biaya investasi rata-rata yang dikeluarkan oleh seorang nelayan adalah sebesar Rp 20.473.660, biaya operasional Rp 524.853 dan biaya perawatan Rp 283.991, untuk total pendapatan yang diperoleh oleh nelayan rata-rata per tahunnya mencapai Rp 486.000.000
B. Saran
               Dalam pelaksanaan praktikum sebaiknya praktikan mewawancarai lebih detail responden agar didapatkan data yang akurat dalam membantu mengisi kuesioner. Selain itu, asisten juga sebaiknya melakukan persamaan persepsi agar dalam pengisian data berlangsung dengan cepat. Selain itu, pelaksanaan praktikum untuk ke depannya diadakan di tempat yang berbeda lagi, agar mengetahui dinamika pertumbuhan ekonomi masyarakat perikanan di Indonesia.







VI. DAFTAR PUSTAKA
Bardach, J.E., Ryther, J.H., and W.L.Mc. Larney. 1972. Aquaculture. Alabama Agricultural Experiment Station. Auburn University. Birmingham, Alabama.
Hempel G., Pauly D. 2004. Fisheries and Fisheries Science in Their Search for Sustainability. Dalam Fauzi A. 2010. Ekonomi Perikanan Teori, Kebijakan, dan Pengelolaan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Lackey, R. T. 2005. Fisheries : history, science, and management. Dalam Fauzi A. 2010. Ekonomi Perikanan Teori, Kebijakan, dan Pengelolaan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Setyobudi, E. 2012. Bahan Ajar Biologi Perikanan (Slide). Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Webster’s New World Dictionary. 1990. College ed. The World Publ. Co. New York.




















VII. LAMPIRAN
Tabel 1. Sebaran Umur Nelayan
Range Umur
Jumlah
Persentase
20 - 26
2
6.06
27 - 32
5
15.15
33 - 38
8
24.24
39 - 44
7
21.21
45 - 50
6
18.18
51 - 56
3
9.09
57 - 62
0
0.00
63 - 68
0
0.00
69 - 74
1
3.03
75 - 80
1
3.03
Jumlah
33
100.00



Grafik 1. Sebaran Umur Nelayan



Tabel 2.  Tingkat Pendidikan Nelayan
Pendidikan
Jumlah
%
TS
3
9.09
SD
19
57.58
SLTP
6
18.18
SLTA
5
15.15
PT
0
0.00
Jumlah
33
100.00







Grafik 2. Tingkat Pendidikan Nelayan









Tabel 3. Sebaran Pengalaman Nelayan
Range
Jumlah
Persentase
 - 7
23
45.10
8 - 15
9
17.65
16 - 23
10
19.61
24 - 31
5
9.80
32 - 39
4
7.84
Jumlah
51
100.00






Grafik 3. Sebaran Pengalaman Nelayan












Tabel 4. Jenis Pekerjaan Nelayan



Pekerjaan
Pokok
Pokok
Sampingan
Sampingan
Buruh
0
0.00
0
0.00
Guru
0
0.00
0
0.00
Nelayan
28
84.85
5
15.15
Pedagang
1
3.03
3
9.09
Pensiunan
0
0.00
0
0.00
Perangkat Desa
0
0.00
0
0.00
Petambak
0
0.00
0
0.00
Petani
4
12.12
10
30.30
PNS
0
0.00
0
0.00
Polisi
0
0.00
0
0.00
SAR
0
0.00
0
0.00
TNI
0
0.00
0
0.00
Wiraswasta
0
0.00
0
0.00
Jumlah
33

18









Grafik 4. Jenis Pekerjaan Nelayan


Tabel 5. Musim Tangkap
Bulan
Jumlah
Jan
840
Feb
773
Mar
755
Apr
766
Mei
741
Jun
742
Jul
742
Ags
757
Sep
848
Okt
866
Nov
866
Des
873
Grafik 5. Musim Tangkap









Dokumentasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar