Minggu, 03 September 2017

Laporan Ekoper (Ekosistem Danau)



EKOSISTEM DANAU
Haditiya Rayi Setha Ahmad
13/349901/PN/13308
Teknologi Hasil Perikanan
Instisari
Salah satu jenis ekosistem akuatik yaitu ekosistem lakustrin yang meliputi perairan danau dan kolam. Terdapat berbagai bentuk dan ukuran danau di muka bumi ini. Danau ada yang luasnya ribuan kilometer persegi dengan kedalaman ratusan meter tetapi ada juga danau yang luasnya hanya beberapa kilometer persegi dengan kedalaman kurang dari 10 meter. Danau dapat terbentuk oleh aktivitas-aktivitas tektonik, gunung api, tepi pantai, proses pelarutan batu kapur, kegiatan sungai atau akibat kejatuhan meteor. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari karakteristik ekosistem lentik dan faktor-faktor pembatasnya, mempelajari cara-cara pengambilan data tolokukur (parameter) fisik, kimia dan biologik suatu perairan lentik, mempelajari korelasi antara beberapa tolokukur lingkungan dengan populasi biota perairan (plankton), mempelajari kualitas perairan lentik berdasarkan atas indeks diversitas biota perairan. Pada praktikum ini juga dilakukan pengambilan data tolokukur fisik yaitu TSS, warna air, kecerahan dan suhu. Tolokukur kimia yaitu DO, CO2 bebas, alkalinitas, BO, BOD5, dan pH. Data tolokukur biologi dilakukan dengan cara perhitungan densitas dan diversitas populasi planktonnya. Metode yang digunakan adalah secchi disk untuk mengukur kecerahan air dan kertas saring (milipore) yang digunakan untuk pengukuran TSS. Lokasi dibagi menjadi 3 stasiun dan pada setiap stasiun di ukur parameter. Praktikum ini dilakukan di Danau Tambak Boyo, Sleman, Yogyakarta pada hari Kamis, 17 April 2014 pukul 13.30-selesai. Dari praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan hasil bahwa stasiun 3 merupakan stasiun dengan kualitas terbaik karena memiliki indeks diversitas plankton mencapai 1,106657 (ind/m3)
Kata kunci : danau, densitas, diversitas, ekosistem akuatik, tolokukur, water sampler

PENDAHULUAN
           Danau dibagi menjadi 2 yaitu danau alam dan danau buatan. Danau alam terbentuk sebagai akibat dari kegiatan alamiah, seperti bencana alam, kegiatan vulkanik, dan kegiatan tektonik (Odum, 1993). Sedangkan danau buatan terbentuk oleh kegiatan manusia dengan sengaja untuk tujuan terbentuk dengan jalan membuat bendungan pada daerah datan rendah.
      Danau merupaan suatu dari tipe perairan darat dengan ciri utama tergenang dalam waktu tinggal yang lama. Danau memiliki katakteristik arus yang tenang, organisme yang hidup di dalamnya tidak membutuhkan waktu adaptasi khusus, dan residence timenya lama (Odum,1971).
           Danau mempunyai kedalaman yang bervariasi menurut cara terbentuknya. Kedalaman sangat menentukan bagaimana ekosistem danau berfungsi (Mackinnon, 2000). Beberapa manfaat danau secara ekosistem antara lain untuk aktifitas sehatu-hari. Danau juga berfungsi sebagai tempat berkumpul ikan-ikan yang dapat dimanfaatkan manusia. Pemanfaatan lainnya sebagai cadangan air, dan parameter kedalaman sumur penduduk (Thohir,1991).
Analisis kualitas air dilakukan untuk mengukur sebuah danau produktif atau tidak. Dalam melakukan analisis, parameter yang di gunakan meliputi parameter kimia, fisika, dan biologi. Ketidak seimbangan tiap parameter dapat menyebabkan gangguan siklus hidup pada ekosistem sekitar danau (Saputra,2008).

Tujuan dilakukannya praktikum acara ekosistem danau ini adalah untuk mempelajari karakteristik ekosisten lentik (perairan menggenang) dan faktor-faktor pembatasnya, mempelajari cara-cara pengambilan data tolokukur (parameter) fisik, kimia dan biologik suatu perairan lentik, mempelajari korelasi antara beberapa tolokukur lingkungan dengan populasi biota perairan (plankton), mempelajari kualitas perairan lentik berdasarkan atas indeks diversitas biota perairan.

METODE
           
            Praktikum ekologi perairan acara ekosistem danau ini dilakukan di Danau Tambak Boyo, Sleman, Yogyakarta pada hari Kamis tanggal 17 April 2014 pukul 13.30-selesai. Bahan yang digunakan antara lain adalah Larutan MnSO4, larutan reagen oksigen, larutan H2SO4 pekat, larutan 1/80 N Na2S2O3, larutan 1/44 N NaOH, larutan 1/50 N H2SO4, larutan indikator amilum, larutan indikator Phenolphphtalein (PP), larutan indikator Methyl Orange (MO), larutan 4 N H2SO4, larutan 0,1 N Kalium Permanganat, larutan 0,1 Ammonium Oksalat dan larutan formalin 4%.
Sedangkan alat yang digunakan adalah pH meter, kertas saring (milipore) dengan diameter pori 0,45 um, timbangan analitik, meteran atau penggaris, termometer, botol oksigen, erlenmeyer, gelas ukur, pipet ukur, pipet tetes, ember plastik, jaring plankton, kertas label, dan pensil.
Metode yang digunakan pada praktikum ini adalah metode secchi disk dimana danau dibagi menjadi 3 stasiun. Pada maisng-masing stasiun dilakukan pengambilan data parameter fisik seperti suhu baik air maupun lingkungan menggunakan thermometer, TSS, warna air dan kecerahan. Selain parameter fisik, dilakukan pengambilan data parameter kimia dan biologi. Seperti menghitung kandungan oksigen terlarut (DO), BOD5, BO, CO2 bebas, alkalinitas dan pH. Sedangkan parameter biologinya adalah densitas dan diversitas plankton.
            Indeks diversitas dihitung menggunakan metode Shannon Wiener dengan rumus :
Keterangan :
H : Indeks diversitas
ni : Cacah individu suatu genus
N : Cacah individu suatu genera

Parameter kimia dihitung dengan menggunakan rumus :
Kandungan DO =
Kandungan CO2 bebas =
Alkalinitas =    …..(1)
                        …..(2)
Alkalinitas total = (1)+(2)=….mg/l

Keterangan :
Y : banyak larutan 1/80 N Na2S2O3 yang digunakan untuk titrasi
C : banyak larutan 1/44 N NaOH yang digunakan untuk titrasi
D : banyak larutan 1/50 N H2SO4 yang digunakna untuk titrasi…(1)
D : banyak larutan 1/50 N H2SO4 yang digunakan untuk titrasi ….(2)
B1 : oksigen yang terlarut 5 hari
A1 : oksigen yang terlarut segera
B2 : Berat kertas setelah
A2 : berat kertas sebelum
a : volume titrasi
f : faktor-faktor kalium permanganat
            Kandungan padatan tersuspensi total (TSS) dihitung dengan :
           
TSS =1000/Y x ( B – A ) mg/l

Keterangan :

            Y : air sampel dengan volume tertentu
            A : berat awal kertas saring
            B : berat akhir kertas saring
           
            Untuk menghitung kandungan BOD5 :
           
            Kandungan BOD5 = 1000/Volume sampel x ( B – A ) x 0,1 mg/l

Keterangan :
           
            A : hasil analisis kandungan O2 terlarut segera
            B : hasil analisis kandungan O2 terlarut 5 hari

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Tabel 1. Data Hasil Pengamatan Parameter Acara Ekosistem Danau
Parameter Fisika
Stasiun I
Stasiun II
Stasiun III
Suhu Udara (oC)
30,1
29
31,67
Suhu Air (oC)
28
27,3
30,33
Kecerahan
43,17
69,2
57,83
TSS
0,1475
0,68375
0,2
Warna air
Hijau
Hijau
Hijau
Parameter Kimia
Stasiun I
Stasiun II
Stasiun III
Ph
7,5
7,6
7,7
DO (ppm)
10,06
12,04
8,5
CO2 (ppm)
22,67
5,6
30,6
Alkalinitas (ppm)
77,67
91,27
69,2
Bahan Organik
4,76
22,7735
82,8706
BOD5
8,92
8,7
9,2
Parameter Biologi
Stasiun I
Stasiun II
Stasiun III
Densitas plankton (ind/m3)
1556.225
1355.422
1506.024
Diversitas plankton (ind/m2)
0.225268738
0.924251
1.077273
Cuaca
Cerah berawan
Cerah berawan
Cerah berawan
Vegetasi
Tidak rimbun
Tidak rimbun
Rimbun

Pembahasan
            Praktikum ekologi perairan acara ekosistem danau ini dilaksanakan di Danau Tambak Bayan. Di lokasi ini dibagi menjadi 3 stasiun. Pada masing-masing stasiun dilakukan pengambilan data tolokukur. Danau Tambak Bayan memiliki warna perairan hijau. Danau ini banyak dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk rekreasi, memancing dan dilintasan luarnya digunakan untuk jogging. Tepi danau sangat curam dan terdapat banyak sampah yang mengapung.
            Disekitar danau jarang terdapat pohon besar, sehingga sinar matahari langsung menembus ke air. Pada saat praktikum dilaksanakan, kondisi cuaca sedang cerah berawan. Kondisi perairan di Danau Tambak Bayan ini tenang dan tidak terlalu deras.


Grafik 1. Suhu Udara vs Stasiun                    Grafik 2. Suhu Air vs Stasiun

            Grafik 3. DO vs Stasiun                                 Grafik 4. CO2 vs Stasiun

Grafik diatas menggambarkan hubungan suhu, DO dan CO2 bebas. DO terbesar pada stasiun 2 yaitu 12,04 dan suhu udara dan suhu air terendah ada pada stasiun 2, sedangkan suhu udara dan suhu air tertinggi ada di stasiun 3. Hubungan antar kadar oksigen terlarut jenuh dan suhu menggambarkan bahwa semakin tinggi suhu, maka kelarutan oksigen cenderung lebih rendah daripada kadar oksigen di perairan air tawar.Peningkatan suhu juga menyebabkan terjadinya dekomposisi bahan organik oleh mikroba. Semakin besar suhu kadar oksigen terlarut semakin kecil (Effendi, 2003). Suhu optimal untuk kehidupan ikan dan organisme makanannya adalah 25-30°C. Kadar DO tertinggi pada stasiun 2 disebabkan karena rendahnya suhu pada lokasi penelitian. Dari penelitian yang telah dilakukan, besarnya DO akan berbanding terbalik dengan CO2 bebas dan pada DO vs CO2 bebas ini sangat mempengaruhi perkembangan organisme di perairan tersebut. Kandungan oksigen terlarut di dalam perairan dapat membantu organisme air untuk berkembang dengan baik. Jadi berdasarkan penelitian, jika suhu udara dan air rendah maka DO akan tinggi dan kadar CO2 akan rendah.







Grafik CO2 bebas, alkalinitas dan pH
            Grafik 5. CO2 vs Stasiun                                Grafik 6. Alkalinitas vs Stasiun






                                                Grafik 7. pH vs Stasiun
           Dapat dilihat dari grafik diatas kadar CO2 tertinggi ada pada stasiun 3, sedangkan alkalinitas tertinggi ada pada stasiun 2 dan pH tertinggi ada pada stasiun 3. Grafik diatas menggambarkan hubungan CO2, alkalinitas dan pH. Sebagian kecil karbondioksida yang terdapat di atmosfer larut ke dalam uap air membentuk asam karbonat (Moss,1993), yang selanjutnya jatuh sebagai hujan. Sehingga air hujan selalu bersifat asam dengan nilai pH sekitar 5,6 (Mason,1993). Alkalinitas berperan sebagai sistem penyangga(buffer) agar perubahan pH tidak terlalu besar. Selain bergantung pada pH, alkalinitas juga dipengaruhi oleh komposisi mineral, suhu, dan kekuatan ion. Nilai alkalinitas yang baik berkisar antara 30-500mg/liter CaCO3 (Effendi,2003). pH juga berkaitan erat dengan karbondioksida dan alkalinitas, pada pH <5 alkalinitas dapat mencapai "nol", semakin tinggi pH semakin tinggi pula nilai alkalinitas dan semakin rendah kadar karbondioksida bebas terlarut yang bersifat asam (pH rendah) bersifat korosif (Effendi 2003).








Grafik 8. DO vs Stasiun                                 Grafik 9. CO2 vs Stasiun
Kadar DO tertinggi ada pada stasiun 2, sedangkan kadar CO2 terendah ada pada stasiun 2. Grafik diatas menunjukkan hubungan antara DO dan CO2 bebas. Kadar oksigen yang terlarut di perairan alami bervariasi, tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Semakin besar suhu dan ketinggian serta semakin kecil tekanan atmosfer, kadar oksigen terlarut semakin kecil (Effendi, 2003). Kandungan CO2 bebas yang terkandung pada stasiun 2 lebih rendah dibandingkan DO nya. Kandungan DO dalam suatu perairan akan berbanding terbalik dengan CO2 karena CO2 merupakan hasil respirasi organism akuatik, dan yang dibutuhkan fitoplankton untuk membuat makanannya. Tingginya kandungan CO2 pada perairan dapat menyebabkan terganggunya biota perairan.







Grafik 10. TSS vs Stasiun                                         Grafik 11. Kecerahan vs Stasiun
Grafik 12. DO vs Stasiun                                 Grafik 13. Denistas Plankton vs Stasiun
           Kandungan TSS memiliki hubungan yang erat dengan kecerahan perairan. Keberadaan padatan tersuspensi tersebut akan menghalangi penetrasi cahaya yang masuk ke perairan sehingga hubungan antara TSS dan kecerahan akan menunjukkan hubungan yang berbanding terbalik (Odum, 1993). Namun dari praktikum yang telah dilakukan teori tersebut berbeda dengan hasil yang didapat. Hal tersebut dikarenakan kondisi vegetasi dilingkungan danau yang tidak terlalu rimbun sehingga membuat sinar matahari langsung masuk keperairan yang membuat tingkat kecerahan meningkat. Sinar matahari yang masuk ke perairan danau akan berpengaruh langsung terhadap ketersediaan kadar oksigen terlarut di perairan. Proses fotosintesis dibantu dengan sinar matahari, jika sinar matahari yang masuk ke perairan danau tinggi maka akan meningkatkan kandungan oksigen yang terlarut. Kandungan oksigen dalam air yang tinggi menjadikan plankton dan organisme lainnya nyaman tinggal di sekitar perairan tersebut sehingga densitasnya meningkat. Dari grafik didapatkan hasil DO tertinggi ada pada stasiun 2, sedangkan densitas plankton tertinggi ada di stasiun 3. Seharusnya stasiun 2 memiliki tingkat densitas yang tinggi dikarenakan DO yang juga tinggi. Hal tersebut dikarenakan musim ataupun kondisi vegetasi dilingkungan danau karena plankton juga dapat dipengaruhi oleh musim dan keadaan lingkungan setempat.





           Grafik 14. BO vs Stasiun                                             Grafik 15. BOD5 vs Stasiun









                                                Grafik 16. DO vs Stasiun
Stasiun 3 adalah stasiun yang memilki kandungan BO dan BOD5 tertinggi yaitu 82,8706 ppm dan 9,2 ppm. Stasiun 1 adalah stasiun dengan kandungan BO dan BOD5 terendah yaitu 4,76 ppm dan 8,93 ppm. BOD menunjukkan jumlah oksigen yang dikonsumsi oleh proses respirasi mikrobia aerob yang terdapat dalam botol BOD yang diinkubasi pada suhu sekitar 20ºC selama lima hari, dalam keadaan tanpa cahaya (Boyd,1988). Bahan Organik (BO) yang terkandung pada stasiun  dapat diidentifikasi oleh hasil analisis BOD5. Tingginya nilai BOD5 menunjukkan kandungan bahan organik di stasiun 3 juga tinggi. Tingginya kandungan BO juga akibat limbah organik yang terdapat di perairan yang berasal dari organisme atau limbah rumah tangga/ kota.Kandungan BOD5 dipengaruhi oleh kandungan BO.Jika kandungan BO semakin tinggi maka akan kandungan BOD5juga akan tinggi. Namun hal ini juga tidak pasti, tergantung juga pada kemampuan organisme autotrof dalam memanfaatkan Bahan Organik ( Barus, 2004).







Grafik 17. Diversitas Plankton vs Stasiun
           Dari praktikum yang telah dilaksanakan dapat diambil kesimpulan bahwa kualitas perairan berdasarkan Indeks Diversitas Shanon-Wiener di Danau Tambak Boyo, Sleman, Yogyakarta dalam keadaan sangat buruk, hal tersebut sesuai dengan klasifikasi yang dibuat Probosunu (2004) bahwa jika Indeks Diversitas <= 80 masuk dalam klasifikasi sangat buruk. Hal ini juga menjadikan Derajat Pencemaran di Danau Tambak Boyo bdalam keadaan tercemar berat, hal tersebut sesuai dengan klasifikasi dari Lee etal. (1978) bahwa jika Indeks Diversitas <1,00 maka perairan tersebut masuk dalam klasifikasi tercemar berat.
          
KESIMPULAN
Ekosistem danau memiliki karakteristik adalah suatu perairan menggenang dengan tepi yang umumnya curam. Faktor pembatas perairan danau yaitu suhu, DO, CObebas, BO, BOD5 pH, alkalinitas, TSS, intensitas cahaya dan kecerahan. Cara pengambilan data dan tolokukur dengan dengan mengambil sampel menggunakan ember plastik kemudian diukur parameter fisik, kimia, dan biologiknya. TSS dengan cara penyaringan menggunakan milipore dan di cari selisih setelah penyaringan dan sebelum penyaringan. Kecerahan diukur menggunakan secchi disk yaitu dengan mencelupkan langsung kedalam air danau.
Korelasi antara beberapa tolokukur lingkungan mempengaruhi tolokukur yang lainnya.. Untuk CO2 mempengaruhi alkalinitas, sedangkan alkalinitas itu sebagai larutan penyangga agar nilai pH tetap dalam keadaan netral. Densitas plankton mempengaruhi kadar DO dan CO2. Ketika densitas plankton tinggi maka DO akan tinggi dan CO2 akan menurun. Dari praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan hasil bahwa stasiun 3 merupakan stasiun dengan kualitas terbaik karena memiliki indeks diversitas plankton mencapai 1,106657 (ind/m3).

DAFTAR PUSTAKA
Barus, T. A. 2004. Pengertian Limnologi Studi Tentang Ekosistem Air Darat. USU press. Medan
Boyd,C. E. 1988. Water Quality in Warmwater Fish Pounds. Fourth Printing. Auburn University Agricultural Experiment Station. Alabama. USA
Efendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta
Lee etal. 1978. Benthic Macroinvertebrate and Fish as Biological Indicator of Water Quality With Reference to Community Diversity Development Countries. Bangkok
Mackinnon, Khaty. 2000. Ekologi Kalimantan. Prenhallindo. Jakarta
Mason, C. F. 1993. Biology of Freshwater Pollution. Second edition. Longman Scientific and Technical. New York
Moss, B. 1993. Ecology of Freshwater. Second edition. Academic Press Ltd. London
Odum, E.P.1971. Dasar-Dasar Ekologi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta
Odum, E.P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Edisi ketiga. Gajah Mada University Press. Yogyakarta
Probosunu, N. 2004. Ekotoksikologi dan Pengendalian Pencemaran Perairan. Bahan Ajar. Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta
Saputra, S.E. 2008. Pencemaran Air: Dasar-Dasar dan Pokok Penanggulangannya. Universitas Teuku Umar. Aceh
Thohir, K.A.1991. Butir-Butir Tata Lingkungan Rineka. Cipta. Jakarta.

1 komentar:

  1. What is a gambling problem? | JtmHub
    Gambling 포항 출장마사지 problem? You have no idea 목포 출장안마 who is responsible 토토 사이트 홍보 for your losses. When gambling problem is 논산 출장안마 not dealt with, 경상남도 출장안마 your responsibility is

    BalasHapus