EKOSISTEM DANAU
Haditiya Rayi
Setha Ahmad
13/349901/PN/13308
Teknologi Hasil
Perikanan
Instisari
Salah satu jenis
ekosistem akuatik yaitu ekosistem lakustrin yang meliputi perairan danau dan
kolam. Terdapat berbagai bentuk dan ukuran danau di muka bumi ini. Danau ada
yang luasnya ribuan kilometer persegi dengan kedalaman ratusan meter tetapi ada
juga danau yang luasnya hanya beberapa kilometer persegi dengan kedalaman
kurang dari 10 meter. Danau dapat terbentuk oleh aktivitas-aktivitas tektonik,
gunung api, tepi pantai, proses pelarutan batu kapur, kegiatan sungai atau
akibat kejatuhan meteor. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari
karakteristik ekosistem lentik dan faktor-faktor pembatasnya, mempelajari
cara-cara pengambilan data tolokukur (parameter) fisik, kimia dan biologik
suatu perairan lentik, mempelajari korelasi antara beberapa tolokukur
lingkungan dengan populasi biota perairan (plankton), mempelajari kualitas
perairan lentik berdasarkan atas indeks diversitas biota perairan. Pada praktikum
ini juga dilakukan pengambilan data tolokukur fisik yaitu TSS, warna air,
kecerahan dan suhu. Tolokukur kimia yaitu DO, CO2 bebas, alkalinitas, BO, BOD5,
dan pH. Data tolokukur biologi dilakukan dengan cara perhitungan densitas dan
diversitas populasi planktonnya. Metode yang digunakan adalah secchi disk untuk
mengukur kecerahan air dan kertas saring (milipore) yang digunakan untuk
pengukuran TSS. Lokasi dibagi menjadi 3 stasiun dan pada setiap stasiun di ukur
parameter. Praktikum ini dilakukan di Danau Tambak Boyo, Sleman, Yogyakarta
pada hari Kamis, 17 April 2014 pukul 13.30-selesai. Dari praktikum yang
telah dilaksanakan didapatkan hasil bahwa stasiun 3 merupakan stasiun dengan
kualitas terbaik karena memiliki indeks diversitas plankton mencapai 1,106657
(ind/m3)
Kata kunci :
danau, densitas, diversitas, ekosistem akuatik, tolokukur, water sampler
PENDAHULUAN
Danau dibagi menjadi 2 yaitu danau
alam dan danau buatan. Danau alam terbentuk sebagai akibat dari kegiatan
alamiah, seperti bencana alam, kegiatan vulkanik, dan kegiatan tektonik (Odum,
1993). Sedangkan danau buatan terbentuk oleh kegiatan manusia dengan sengaja
untuk tujuan terbentuk dengan jalan membuat bendungan pada daerah datan rendah.
Danau merupaan suatu dari tipe perairan
darat dengan ciri utama tergenang dalam waktu tinggal yang lama. Danau memiliki
katakteristik arus yang tenang, organisme yang hidup di dalamnya tidak
membutuhkan waktu adaptasi khusus, dan residence timenya lama (Odum,1971).
Danau mempunyai kedalaman yang bervariasi
menurut cara terbentuknya. Kedalaman sangat menentukan bagaimana ekosistem
danau berfungsi (Mackinnon, 2000). Beberapa manfaat danau secara ekosistem
antara lain untuk aktifitas sehatu-hari. Danau juga berfungsi sebagai tempat
berkumpul ikan-ikan yang dapat dimanfaatkan manusia. Pemanfaatan lainnya
sebagai cadangan air, dan parameter kedalaman sumur penduduk (Thohir,1991).
Analisis kualitas air
dilakukan untuk mengukur sebuah danau produktif atau tidak. Dalam melakukan
analisis, parameter yang di gunakan meliputi parameter kimia, fisika, dan
biologi. Ketidak seimbangan tiap parameter dapat menyebabkan gangguan siklus
hidup pada ekosistem sekitar danau (Saputra,2008).
Tujuan dilakukannya
praktikum acara ekosistem danau ini adalah untuk mempelajari karakteristik
ekosisten lentik (perairan menggenang) dan faktor-faktor pembatasnya,
mempelajari cara-cara pengambilan data tolokukur (parameter) fisik, kimia dan
biologik suatu perairan lentik, mempelajari korelasi antara beberapa tolokukur
lingkungan dengan populasi biota perairan (plankton), mempelajari kualitas
perairan lentik berdasarkan atas indeks diversitas biota perairan.
METODE
Praktikum
ekologi perairan acara ekosistem danau ini dilakukan di Danau Tambak Boyo,
Sleman, Yogyakarta pada hari Kamis tanggal 17 April 2014 pukul 13.30-selesai.
Bahan yang digunakan antara lain adalah Larutan MnSO4, larutan
reagen oksigen, larutan H2SO4 pekat, larutan 1/80 N Na2S2O3,
larutan 1/44 N NaOH, larutan 1/50 N H2SO4, larutan
indikator amilum, larutan indikator Phenolphphtalein (PP), larutan indikator
Methyl Orange (MO), larutan 4 N H2SO4, larutan 0,1 N
Kalium Permanganat, larutan 0,1 Ammonium Oksalat dan larutan formalin 4%.
Sedangkan alat yang
digunakan adalah pH meter, kertas saring (milipore)
dengan diameter pori 0,45 um, timbangan analitik, meteran atau penggaris,
termometer, botol oksigen, erlenmeyer, gelas ukur, pipet ukur, pipet tetes,
ember plastik, jaring plankton, kertas label, dan pensil.
Metode yang digunakan
pada praktikum ini adalah metode secchi disk dimana danau dibagi menjadi 3
stasiun. Pada maisng-masing stasiun dilakukan pengambilan data parameter fisik
seperti suhu baik air maupun lingkungan menggunakan thermometer, TSS, warna air
dan kecerahan. Selain parameter fisik, dilakukan pengambilan data parameter
kimia dan biologi. Seperti menghitung kandungan oksigen terlarut (DO), BOD5,
BO, CO2 bebas, alkalinitas dan pH. Sedangkan parameter biologinya adalah
densitas dan diversitas plankton.
Indeks diversitas dihitung
menggunakan metode Shannon Wiener dengan rumus :
Keterangan
:
H : Indeks
diversitas
ni : Cacah individu
suatu genus
N : Cacah individu
suatu genera
Parameter
kimia dihitung dengan menggunakan rumus :
Kandungan
DO = 
Kandungan
CO2 bebas = 
Alkalinitas
=
…..(1)
Alkalinitas
total = (1)+(2)=….mg/l
Keterangan
:
Y
: banyak larutan 1/80 N Na2S2O3 yang digunakan
untuk titrasi
C
: banyak larutan 1/44 N NaOH yang digunakan untuk titrasi
D
: banyak larutan 1/50 N H2SO4 yang digunakna untuk
titrasi…(1)
D
: banyak larutan 1/50 N H2SO4 yang digunakan untuk
titrasi ….(2)
B1
: oksigen yang terlarut 5 hari
A1
: oksigen yang terlarut segera
B2
: Berat kertas setelah
A2
: berat kertas sebelum
a
: volume titrasi
f
: faktor-faktor kalium permanganat
Kandungan
padatan tersuspensi total (TSS) dihitung dengan :
TSS =1000/Y x ( B – A )
mg/l
Keterangan :
Y
: air sampel dengan volume tertentu
A
: berat awal kertas saring
B
: berat akhir kertas saring
Untuk
menghitung kandungan BOD5 :
Kandungan
BOD5 = 1000/Volume sampel x ( B – A ) x 0,1 mg/l
Keterangan :
A
: hasil analisis kandungan O2 terlarut segera
B
: hasil analisis kandungan O2 terlarut 5 hari
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Hasil
Tabel
1. Data Hasil Pengamatan Parameter Acara Ekosistem Danau
|
Parameter
Fisika
|
Stasiun
I
|
Stasiun
II
|
Stasiun
III
|
|
Suhu Udara (oC)
|
30,1
|
29
|
31,67
|
|
Suhu Air (oC)
|
28
|
27,3
|
30,33
|
|
Kecerahan
|
43,17
|
69,2
|
57,83
|
|
TSS
|
0,1475
|
0,68375
|
0,2
|
|
Warna air
|
Hijau
|
Hijau
|
Hijau
|
|
Parameter
Kimia
|
Stasiun
I
|
Stasiun
II
|
Stasiun
III
|
|
Ph
|
7,5
|
7,6
|
7,7
|
|
DO (ppm)
|
10,06
|
12,04
|
8,5
|
|
CO2 (ppm)
|
22,67
|
5,6
|
30,6
|
|
Alkalinitas (ppm)
|
77,67
|
91,27
|
69,2
|
|
Bahan Organik
|
4,76
|
22,7735
|
82,8706
|
|
BOD5
|
8,92
|
8,7
|
9,2
|
|
Parameter
Biologi
|
Stasiun
I
|
Stasiun
II
|
Stasiun
III
|
|
Densitas plankton (ind/m3)
|
1556.225
|
1355.422
|
1506.024
|
|
Diversitas plankton (ind/m2)
|
0.225268738
|
0.924251
|
1.077273
|
|
Cuaca
|
Cerah berawan
|
Cerah berawan
|
Cerah berawan
|
|
Vegetasi
|
Tidak rimbun
|
Tidak
rimbun
|
Rimbun
|
Pembahasan
Praktikum
ekologi perairan acara ekosistem danau ini dilaksanakan di Danau Tambak Bayan.
Di lokasi ini dibagi menjadi 3 stasiun. Pada masing-masing stasiun dilakukan
pengambilan data tolokukur. Danau Tambak Bayan memiliki warna perairan hijau.
Danau ini banyak dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk rekreasi, memancing dan
dilintasan luarnya digunakan untuk jogging. Tepi danau sangat curam dan terdapat
banyak sampah yang mengapung.
Disekitar
danau jarang terdapat pohon besar, sehingga sinar matahari langsung menembus ke
air. Pada saat praktikum dilaksanakan, kondisi cuaca sedang cerah berawan.
Kondisi perairan di Danau Tambak Bayan ini tenang dan tidak terlalu deras.


Grafik 1. Suhu Udara vs
Stasiun Grafik 2. Suhu
Air vs Stasiun


Grafik
3. DO vs Stasiun Grafik
4. CO2 vs Stasiun
Grafik
diatas menggambarkan hubungan suhu, DO dan CO2 bebas. DO terbesar
pada stasiun 2 yaitu 12,04 dan suhu udara dan suhu air terendah ada pada
stasiun 2, sedangkan suhu udara dan suhu air tertinggi ada di stasiun 3.
Hubungan antar kadar oksigen terlarut jenuh dan suhu menggambarkan bahwa
semakin tinggi suhu, maka kelarutan oksigen cenderung lebih rendah daripada kadar
oksigen di perairan air tawar.Peningkatan suhu juga menyebabkan terjadinya
dekomposisi bahan organik oleh mikroba. Semakin besar suhu kadar oksigen terlarut semakin kecil (Effendi,
2003). Suhu
optimal untuk kehidupan ikan dan organisme makanannya adalah 25-30°C. Kadar
DO tertinggi pada stasiun 2 disebabkan karena rendahnya suhu pada lokasi
penelitian. Dari penelitian yang telah dilakukan, besarnya DO akan berbanding
terbalik dengan CO2 bebas dan pada DO vs CO2 bebas ini
sangat mempengaruhi perkembangan organisme di perairan tersebut. Kandungan
oksigen terlarut di dalam perairan dapat membantu organisme air untuk
berkembang dengan baik. Jadi berdasarkan penelitian, jika suhu udara dan air
rendah maka DO akan tinggi dan kadar CO2 akan rendah.
Grafik
CO2 bebas, alkalinitas dan pH


Grafik
5. CO2 vs Stasiun Grafik
6. Alkalinitas vs Stasiun

Grafik
7. pH vs Stasiun
Dapat dilihat dari grafik diatas
kadar CO2 tertinggi ada pada stasiun 3, sedangkan alkalinitas
tertinggi ada pada stasiun 2 dan pH tertinggi ada pada stasiun 3. Grafik diatas
menggambarkan hubungan CO2, alkalinitas dan pH. Sebagian kecil karbondioksida yang
terdapat di atmosfer larut ke dalam uap air membentuk asam karbonat
(Moss,1993), yang selanjutnya jatuh sebagai hujan. Sehingga air hujan selalu
bersifat asam dengan nilai pH sekitar 5,6 (Mason,1993). Alkalinitas berperan
sebagai sistem penyangga(buffer) agar perubahan pH tidak terlalu besar. Selain
bergantung pada pH, alkalinitas juga dipengaruhi oleh komposisi mineral, suhu,
dan kekuatan ion. Nilai alkalinitas yang baik berkisar antara 30-500mg/liter
CaCO3 (Effendi,2003). pH juga berkaitan erat dengan karbondioksida
dan alkalinitas, pada pH <5 alkalinitas dapat mencapai "nol",
semakin tinggi pH semakin tinggi pula nilai alkalinitas dan semakin rendah
kadar karbondioksida bebas terlarut yang bersifat asam (pH rendah) bersifat
korosif (Effendi 2003).


Grafik 8. DO vs Stasiun Grafik
9. CO2 vs Stasiun
Kadar DO tertinggi ada pada stasiun 2, sedangkan kadar CO2 terendah
ada pada stasiun 2. Grafik diatas menunjukkan hubungan antara DO dan CO2
bebas. Kadar oksigen yang terlarut di perairan alami bervariasi, tergantung
pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Semakin besar suhu
dan ketinggian serta semakin kecil tekanan atmosfer, kadar oksigen terlarut
semakin kecil (Effendi, 2003). Kandungan CO2 bebas yang terkandung
pada stasiun 2 lebih rendah dibandingkan DO nya. Kandungan DO dalam suatu
perairan akan berbanding terbalik dengan CO2 karena CO2 merupakan
hasil respirasi organism akuatik, dan yang dibutuhkan fitoplankton untuk membuat
makanannya. Tingginya kandungan CO2 pada perairan dapat
menyebabkan terganggunya biota perairan.


Grafik 10. TSS vs Stasiun Grafik
11. Kecerahan vs Stasiun


Grafik 12. DO vs Stasiun Grafik 13.
Denistas Plankton vs Stasiun
Kandungan TSS
memiliki hubungan yang erat dengan kecerahan perairan. Keberadaan padatan
tersuspensi tersebut akan menghalangi penetrasi cahaya yang masuk ke perairan
sehingga hubungan antara TSS dan kecerahan akan menunjukkan hubungan yang
berbanding terbalik (Odum, 1993). Namun dari praktikum yang telah dilakukan
teori tersebut berbeda dengan hasil yang didapat. Hal tersebut dikarenakan
kondisi vegetasi dilingkungan danau yang tidak terlalu rimbun sehingga membuat
sinar matahari langsung masuk keperairan yang membuat tingkat kecerahan meningkat.
Sinar
matahari yang masuk ke perairan danau akan berpengaruh langsung terhadap
ketersediaan kadar oksigen terlarut di perairan. Proses fotosintesis dibantu dengan
sinar matahari, jika sinar matahari yang masuk ke perairan danau tinggi maka
akan meningkatkan kandungan oksigen yang terlarut. Kandungan oksigen dalam air
yang tinggi menjadikan plankton dan organisme lainnya nyaman tinggal di sekitar
perairan tersebut sehingga densitasnya meningkat. Dari grafik didapatkan hasil
DO tertinggi ada pada stasiun 2, sedangkan densitas plankton tertinggi ada di
stasiun 3. Seharusnya stasiun 2 memiliki tingkat densitas yang tinggi
dikarenakan DO yang juga tinggi. Hal tersebut dikarenakan musim ataupun kondisi
vegetasi dilingkungan danau karena plankton juga dapat
dipengaruhi oleh musim dan keadaan lingkungan setempat.


Grafik 14. BO vs Stasiun Grafik
15. BOD5 vs Stasiun

Grafik
16. DO vs Stasiun
Stasiun
3 adalah stasiun yang memilki kandungan BO dan BOD5 tertinggi yaitu
82,8706 ppm dan 9,2 ppm. Stasiun 1 adalah stasiun dengan kandungan BO dan BOD5
terendah yaitu 4,76 ppm dan 8,93 ppm. BOD menunjukkan jumlah
oksigen yang dikonsumsi oleh proses respirasi mikrobia aerob yang terdapat
dalam botol BOD yang diinkubasi pada suhu sekitar 20ºC selama lima hari, dalam
keadaan tanpa cahaya (Boyd,1988). Bahan Organik (BO)
yang terkandung pada stasiun dapat
diidentifikasi oleh hasil analisis BOD5. Tingginya nilai BOD5
menunjukkan kandungan bahan organik di stasiun 3 juga tinggi. Tingginya
kandungan BO juga akibat limbah organik yang terdapat di perairan yang berasal
dari organisme atau limbah rumah tangga/ kota.Kandungan BOD5
dipengaruhi oleh kandungan BO.Jika kandungan BO semakin tinggi maka akan
kandungan BOD5juga akan tinggi. Namun hal ini juga tidak
pasti, tergantung juga pada kemampuan organisme autotrof dalam memanfaatkan
Bahan Organik ( Barus, 2004).

Grafik 17. Diversitas Plankton vs Stasiun
Dari praktikum yang telah
dilaksanakan dapat diambil kesimpulan bahwa kualitas perairan berdasarkan
Indeks Diversitas Shanon-Wiener di Danau Tambak Boyo, Sleman, Yogyakarta dalam
keadaan sangat buruk, hal tersebut sesuai dengan klasifikasi yang dibuat Probosunu
(2004) bahwa jika Indeks Diversitas <= 80 masuk dalam klasifikasi sangat
buruk. Hal ini juga menjadikan Derajat Pencemaran di Danau Tambak Boyo bdalam
keadaan tercemar berat, hal tersebut sesuai dengan klasifikasi dari Lee etal.
(1978) bahwa jika Indeks Diversitas <1,00 maka perairan tersebut masuk
dalam klasifikasi tercemar berat.
KESIMPULAN
Ekosistem
danau memiliki karakteristik adalah suatu perairan menggenang dengan tepi yang
umumnya curam. Faktor pembatas perairan danau yaitu suhu, DO, CO2 bebas,
BO, BOD5 pH, alkalinitas, TSS, intensitas cahaya dan kecerahan.
Cara
pengambilan data dan tolokukur dengan dengan mengambil sampel menggunakan ember
plastik kemudian diukur parameter fisik, kimia, dan biologiknya.
TSS dengan cara penyaringan menggunakan milipore dan di cari selisih setelah
penyaringan dan sebelum penyaringan. Kecerahan
diukur menggunakan secchi disk yaitu dengan mencelupkan langsung kedalam air
danau.
Korelasi
antara beberapa tolokukur lingkungan mempengaruhi tolokukur yang lainnya..
Untuk CO2 mempengaruhi alkalinitas, sedangkan alkalinitas itu sebagai larutan
penyangga agar nilai pH tetap dalam keadaan netral. Densitas plankton
mempengaruhi kadar DO dan CO2. Ketika densitas plankton tinggi maka DO akan tinggi
dan CO2 akan menurun. Dari praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan hasil
bahwa stasiun
3 merupakan stasiun dengan kualitas terbaik karena memiliki indeks diversitas
plankton mencapai 1,106657 (ind/m3).
DAFTAR PUSTAKA
Barus, T. A.
2004. Pengertian Limnologi Studi
Tentang Ekosistem Air Darat. USU press. Medan
Boyd,C. E. 1988. Water Quality in
Warmwater Fish Pounds. Fourth Printing. Auburn University Agricultural Experiment
Station. Alabama. USA
Efendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi
Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta
Lee
etal. 1978. Benthic Macroinvertebrate and Fish as Biological
Indicator of Water Quality With Reference to Community Diversity Development Countries.
Bangkok
Mackinnon,
Khaty. 2000. Ekologi Kalimantan. Prenhallindo. Jakarta
Mason, C. F. 1993. Biology of Freshwater Pollution. Second
edition. Longman Scientific and Technical. New York
Moss, B. 1993. Ecology of Freshwater. Second edition. Academic
Press Ltd. London
Odum, E.P.1971. Dasar-Dasar Ekologi. Gajah Mada
University Press. Yogyakarta
Odum,
E.P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Edisi ketiga. Gajah Mada University Press.
Yogyakarta
Probosunu, N. 2004.
Ekotoksikologi dan Pengendalian Pencemaran Perairan. Bahan Ajar. Jurusan
Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta
Saputra, S.E. 2008. Pencemaran Air: Dasar-Dasar dan
Pokok Penanggulangannya. Universitas Teuku Umar. Aceh
Thohir, K.A.1991. Butir-Butir Tata
Lingkungan Rineka. Cipta. Jakarta.
What is a gambling problem? | JtmHub
BalasHapusGambling 포항 출장마사지 problem? You have no idea 목포 출장안마 who is responsible 토토 사이트 홍보 for your losses. When gambling problem is 논산 출장안마 not dealt with, 경상남도 출장안마 your responsibility is