Minggu, 03 September 2017

Laporan MIP (APLIKASI KITOSAN TERHADAP REDUKDI BEBAN PENCEMARAN LIMBAH INDUSTRI PERIKANAN)



LAPORAN PRAKTIKUM
MANAJEMEN LIMBAH INDUSTRI PERIKANAN
APLIKASI KITOSAN TERHADAP REDUKDI BEBAN PENCEMARAN LIMBAH INDUSTRI PERIKANAN




Disusun oleh :
Haditiya Rayi Setha Ahmad
13/349901/PN/13308


LABORATORIUM MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN
DEPARTEMEN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016
I.                  PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Meningkatanya industrialisasi dan aktifitas manusia, khusunya di bidang perikanan memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat dan memberikan peningkatan nilai sektor industri perikanan. Dampak negative juga terjadi karena industri pengolahan ikan belum semua menerapkan pengelollah lingkungan yang baik. Hal ini mengakibatkan bertambahnya limbah yang masuk ke lingkungan khususnya di perairan, pada konsentrasi tertentu limbah dapat memberikan dampak negative bagi kualitas air dan kelangsungan hidup organisme yang ada di perairan (Wibowo et al., 2013)
Limbah industri pangan dapat menimbulkan masalah dalam penanganannya karena mengandung sejumlah besar karbohidrat, protein dan lemak, garam-garam mineral dan sisa-sisa bahan kimia yang digunakan dalam pengolahan dan pembersihan. Limbah dari industri perikanan merupakan salah satu industri yang limbahnya dapat menimbulkan bau yang tidak diinginkan apabila tidak diberi perlakuan yang tepat. Pada umumnya limbah industri pangan tidak membahayakan kesehatan masyarakat, namun kandungan bahan organiknya yang tinggi dapat bertindak sebagai sumber makanan untuk tumbuhnya mikrobia (Jenie dan Rahayu, 1993).
Kitosan merupakan salah satu alternatif bahan yang dapat digunakan untuk mengurangi beban limbah perikanan tersebut. Kitosan dapat diperoleh dari limbah kepiting, udang maupun kerang. Kitosan adalah senyawa yang memiliki gugus amino dengan muatan ion positif, karenanya kitosan dapat mengikat substansi negatif yang salah satunya adalah komponen protein, dengan sifat polielektronik kationiknya kitosan memiliki kemampuan dalam mengkoagulasikan protein dalam limbah cair, sehingga diharapkan dengan adanya kitosan limbah organik tersebut dapat direduksi, diendapkan, dijernihkan dan diminimalisir hingga dibawah standar baku mutu dan dapat dibuang ke lingkungan  agar tidak merusak lingkungan sekitar.
2.      Tujuan Praktikum
Mempelajari kemampuan kitosan dalam mereduksi beban pencemaran limbah cair industri perikanan.

3.      Manfaat Praktikum
Mahasiswa dapat mengetahui dan dapat mengaplikasikan fungsi kitosan sebagai agen pereduksi beban pencemaran limbah cair industri perikanan baik yang organik maupun anorganik.




















II. TINJAUAN PUSTAKA
1.      Kitin-Kitosan
Kitin merupakan polisakarida terbesar kedua setelah selulosa dan mempunyai rumus kimia poli(2-asetamida-2-dioksi-β-D-Glukosa) dengan ikatan β-glikosidik (1,4) yang menghubungkan antar unit ulangnya. Kitin tidak mudah larut dalam air, sehingga penggunaannya terbatas. Namun dengan modifikasi struktur kimiawinya maka akan diperoleh senyawa turunan kitin yang mempunyai sifat kimia yang lebih baik. Salah satu turuan kitin adalah kitosan, suatu senyawa yang mempunyai rumus kimia poli(2-amino-2-dioksi-β-D-Glukosa) dan dapat dihasilkan dengan proses hidrolisis kitin menggunakan basa kuat. Proses produksi kitin dan kitosan dapat dilakukan secara kimiawi ataupun enzimatis. Proses produksi secara kimiawi relatif lebih cepat dalam proses produksinya
Kitin tidak mudah larut dalam air, sehingga penggunaannya terbatas. Namun dengan modifikasi kimiawi dapat diperoleh senyawa turunan kitin yang mempunyai sifat kimia yang lebih baik. Salah satu turunan kitin adalah kitosan.
Kitosan merupakan senyawa hasil deasetilasi kitin, terdiri dari unit  N-asetil glukosamin dan N glukosamin.  Adanya gugus reaktif amino pada atom C-2 dan gugus hidroksil pada atom C-3 dan C-6 pada kitosan bermanfaat dalam aplikasinya yang luas yaitu sebagai pengawet hasil perikanan dan penstabil warna produk pangan, sebagai flokulan dan membantu proses reverse osmosis dalam penjernihan air, aditif untuk produk agrokimia dan pengawet benih .Kitosan merupakan polielektrolit kationik dan polimer berantaipanjang, mempunyai berat molekul besar dan reaktif karena adanya gugus amina danhidroksil yang bertindak sebagai donor elektron. Karena sifat-sifat itu, kitosan bisaberinteraksi dengan partikel-partikel koloid yang terdapat di dalam air limbah melaluiproses jembatan antar partikel flok (koagulasi) kitosan mampu menurunkan kekeruhan limbah pembekuanudang dengan menambahkan kitosan sebagai koagulan.
Kitosan merupakan senyawa hasil deasetilasi kitin, terdiri dari unit N-asetil glukosamin dan N glukosamin. Adanya gugus reaktif amino pada atom C-2 dan gugus hidroksil pada atom C-3 dan C-6 pada kitosan bermanfaat dalam  aplikasinya yang luas yaitu sebagai  pengawet  hasil  perikanan  dan  penstabil warna  produk pangan, sebagai flokulan dan  membantu  proses reverse osmosis dalam penjernihan air, aditif untuk produk agrokimia dan pengawet benih (Suhardi, 1992). Kitosan tidak larut dalam air tapi larut dalam pelarut asam dengan pH di bawah 6,0. Pelarut yang umum digunakan untuk melarutkan kitosan adalah asam asetat 1%, dengan pH sekitar 4,0. Pada pH di atas 7,0 stabilitas kelarutan kitosan sangat terbatas. Pada pHtinggi, cenderung terjadi pengendapan dan larutan kitosan membentukkompleks polielektrolit dengan hidrokoloid anionik menghasilkan gel.Karena adanya gugus amino, kitosan merupakan polielektrolit kationik (pKa6,5), hal yang sangat jarang terjadi secara alami.
Kitosan memiliki gugus hidroksil dan amin yang dapat memberi jembatan hidrogen secara intermolekuler atau intramolekuler.Dengan demikian terbentuk jaringan hidrogen yang kuat, membuat kitosan tidak larut dalam air.Gugus fungsi dari kitosan (gugus hidroksil primer pada C-6, gugus hidrosil sekunder pada C-3 dan gugus amino pada posisi C-2) membuatnya mudah dimodifikasi secara kimia.
                      Oleh karena sifatnya yang tidak larut dalam beberapa jenis asam  mineral dan air, maka sangat menguntungkan apabila difungsikan sebagai adsorbent.Adsorbsi adalah peristiwa penjerapan unsur atau senyawa di permukaan oleh suatu adsorben.Adsorbsi terjadi karena adsorben memiliki gayaVan der Waals pada molekul-molekulnya, dimana gaya tersebut menyebabkan molekul-molekul dari zat yang diadsorbsi terikat pada permukaan adsorben. Apabila adsorbate dan permukaan adsorben  hanya terikat oleh gaya van der waals saja maka dinamakan adsorbsi fisis atau adsorbsi van der waals. Molekul yang teradsorbsi terikat pada permukaan secara lemah dan panas adsorbsinya rendah (Hanafi, 1999).Proses adsorbsi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain jumlah adsorben yang digunakan, pH, waktu, kecepatan  pengadukan dan  suhu. Jumlah logam yang teradsorbsi dapat diketahui dengan menggunakan alat Atomic Adsorption Spectrofotometri (AAS).
2.      Mekanisme Perubahan Kitin Menjadi Kitosan
Menurut Robert (1992), proses ekstraksi kitosan terdiri dari tiga tahap, yaitu deproteinasi, demineralisasi dan deasetilisasi. Tahap deproteinasi dan demineralisasi akan menghasilkan senyawa kitin, sedangkan tahap deasetilisasi akan merubah kitin menjadi kitosan. Semakin banyak gugus asetil yang hilang akan semakin kuat interaksi hidrogen dan ion dari kitosan.
3.      Mekanisme Kitosan Sebagai Pereduksi Limbah Organik
Partikel-partikel protein yang ada di dalam limbah cair industry bersifat tersuspensi dan tidak dapat terendapkanakan menimbulkan kekeruhan. Partikel-partikel protein tersebut terlalu kecil untuk mengendap dalam suatu periode waktu tertentu dan terlalu kecil untuk disaring. Partikel partikel protein bersifat stabil atau tetap melayang dalam air limbah karena sifat partikel yang saling tolak menolak (Sahubawa, 2009).
Menurut Rahmi (2007), mekanisme penjernihan limbah cair pengolahan ikan melewati tiga tahap, yaitu :
a.       Koagulasi atau destabilisasi partikel
Tahap ini tejadi ketika kitosan sebagai koagulan menurunkan gaya tolak menolak dan meningkakan gaya tarik menarik antar partikel sehingga terjadi ikatan antar oartikel membentuk senyawa kompleks.
b.      Flokulasi
Pada tahap flokulasi akan terbentuk flok-flok partikel dengan masa dan ukuran yang lebih besar.
c.       Agregasi atau sedimentasi
Agregasi merupakan tahap akhir dari proses yaitu terjadinya pengendapan semua partikel secara berkelompok di dasar perairan.

4.      Mekanisme Kitosan Sebagai Pereduksi Limbah Anorganik
Kitosan dapat digunakan untuk mereduksi limbah anorganik pada suatu perairan. Senyawa limbah anorganik pada perairan contohnya adalah Krom. Proses pengendapan merupakan hasil pengikatan gugus amino kitosan dengan logam krom. Gugus amina pada kitosan berikatan dengan logam Cr melalui ikatan koordinasi membentuk senyawa kompleks heksamin krom (III) melalui penggunaan bersama pasangan electron bebas pada gugus amina.
6-NH2 + Cr3+ ----------- [Cr(-NH2)6]3+
Senyawa kompleks yang terbentuk terdiri dari ion krom(Cr 3+) sebagai ion pusat dan molekul amina (-NH2). Senyawa yang terbentuk ini merupakan senyawa kompleks hasil kelasi yang mempunyai ukuran dan masa partikel yang lebih besar dari keadaan sebelumnya. Reaksi pengikatan logam berta oleh kitosan merupakan suatu proses kelasi dimana kitosan memiliki sifat berbeda dibandingkan polisakarida lain dalam bereaksi dengan kation multivalent atau bivalen. Gugus amina pada kitosan memiliki pasangan electron bebas sebagai basa lewis yang berfungsi sebagai donor electron. Elektron bebas inilah yang digunakan untuk berikatan dengan logam membentuk senyawa kompleks (Sahubawa, 2009).
5.      Pemanfaatan dan Perkembangan Kitosan
Kitosan sering dimanfaatkan dalam beberapa bidang, antara lain :
1.    Kitosan sebagai Pengawet
Menurut Suseno (2006) ditinjau dari segi keamanan makanan (food safety) pemakaian kitosan sebagai pengawet alami aman untuk dikonsumsi karena kitosan merupakan polisakarida dan biodegradable (mudah didegradasi secara biologis). Pada uji daya awet ikan asin yang diberikan perlakuan kitosan mempunyai daya awet sampai 3 bulan, sedangkan dengan penggaraman biasa sampai 2 bulan dan formalin sampai 3 bulan 2 minggu.
Ditinjau dari segi ekonomis menguntungkan para pengolah ikan asin karena rendemen yang dihasilkan lebih besar dibandingkan dengan penggaraman biasa. Dari segi harga, pengawet alami lebih murah dari kitosan lebih murah dibanding formalin. Berdasarkan standar mutu ikan asin kering menurut SNI 01-2721-1992, pengawet alami kitosan mempunyai prospek untuk dikembangkan sebagai salah satu alternatif pengganti formalin (Suseno, 2006).
2.        Peningkatan Mutu Simpan Produk Pasca Panen
Pemberian pengawet alami kitosan pada produk pasca panen pertanian diperkirakan mampu meningkatkan mutu simpan produk. Salah satu yang mendasari hal ini karena kitosan menginduksi tanaman untuk meningkatkan biosintesis lignin dan lignifikasi dinding sel tanaman sehingga menjadi lebih kuat dan menghambat penetrasi cendawan pengganggu. Selain itu, kelebihan kitosan dibandingkan lilin biasa antara lain sifatnya yang ramah lingkungan dan mudah terdegradasi di alam. Selain itu tidak membahayakan kesehatan manusia.
3.    Aplikasi Kitosan
Kitosan dan kitin telah dimanfaatkan dalam berbagai keperluan industri, seperti industri kertas dan tekstil sebagai zat aditif, industri pembungkus makanan berupa film khusus (edible film), industri metalurgi sebagai absorban untuk ion-ion metal, industri kulit untuk perekat, fotografi, industri cat sebagai koagulasi, pensuspensi dan flokulasi serta industri makanan sebagai aditif (Suptijah et al., 1992).
Kitin dan kitosan telah diaplikasikan sebagai berikut :
·         Kitosan diuji coba untuk proses penyerapan logam-logam mulia dalam bentuk asli maupun modifikasi kimia.
·         Sebagai penghilang ion-ion logam dalam penanganan limbah air.
·         Fotografi, tahan terhadap abrasi, berkarakteristik optik, dan mampu membentuk lapisan.
·         Kosmetik, mampu sebbagai fungsida dan fungistatik.
·         Nutrisi makanan, di mana NAAG (N-asetilglukosamin) yang terdapat dalam air susu ibu (ASI), akan mempercepat pertumbuhan bifidobacteria (bakteri penghasil laktase) yang digunakan untuk mencerna laktosa. Pada susu sapi jumlah NAG terbatas sehingga perlu ditambahkan.
·         Sebagai makanan tambahan untuk mengikat lemak dan kolesterol dalam tubuh, dapat memyerap kolesterol secara in vitro.


III.             HIPOTESIS
Pemberian kitosan pada jumlah tertentu dapat mereduksi beban pencemaran limbah industri perikanan dengan intensitas tertentu pada optimasi kemampuan terbaik dari kitosan yaitu 0,5; 1,0; 1,5 dan 2%.

IV.             METODOLOGI PENELITIAN

A.      Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah  erlenmeyer 250 ml, gelas beker, kertas saring, corong, timbangan analitik, stopwatch atau jam, Automatic Absorbtion Spectofotometry (AAS).
B.       Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini terdiri dari sampel limbah cair organik, kitosan, larutan asam asetat glasial, kertas saring dan kertas lakmus.
C.    Tata Laksana Praktikum
250 mL akuades + 2 mL asam asetat glasial
 
Tahap 1: pembuatan larutan kitosan


 








Tahap 2: aplikasi kitosan pada limbah cair organik perikanan














Ukur pH

 




Masukkan dalam 500 ml limbahcair

 
 








     
9 menit (cepat)

 
                                                                          











1 menit (lambat)

 



Endapkan 60 menit

 




 




























V.                HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil
PARAMETER
KELOMPOK I
(KITOSAN 0,5%)
KELOMPOK II
(KITOSAN 1%)
KELOMPOK III
(KITOSAN 1,5%)
KELOMPOK IV
(KITOSAN 2%)
1
2
1
2
1
2
1
2
PH Larutan Kitosan
3,8
3,9
4,1
4
PH Limbah
7
3
8
4
8
5
8
5
TSS (mg/liter)
0,73
0,71
0,69
0,68
0,7
0,69
0,79
0,77
Kekeruhan
++++
+++
++++
+++
++++
++
++++
+++
          Keterangan:                                                       Keterangan:                                                                          
+                : Bening                                              1 = Sebelum Penambahan Kitosan
++              : Agak Bening                                     2 = Setelah Penambahan Kitosan
+++           : Keruh
++++         : Sangat Keruh
+++++       : Sangat Keruh Sekali
B.     Pembahasan
1.      Limbah Organik
a.      Cara kerja dan fungsi perlakuan
Praktikum manajemen limbah industri perikanan acara aplikasi kitosan terhadap reduksi beban pencemaran limbah cair organik menggunakan limbah cair dari Mina Tayu. Reduksi limbah cair dengan kitosan dilakukan dua perlakuan yaitu tanpa pengenceran dan pengenceran. Perlakuan pengenceran limbah dilakukan pengenceran terlebih dahulu dengan perbandingan limbah dan air 1:2 (v/v). Limbah yang sudah diencerkan dan limbah tanpa pengenceran dilakukan pengecekan kadar TSS, pH dan tingkat kekeruhan untuk membandingkan dengan setelah pemberian kitosan.
Pembuatan larutan kitosan dilakukan dengan menghomogenkan 250 ml aquades dan 2ml asam asetat dengan cara distirer didalam erlenmeyer. Setelah larutan tersebut homogen, ditambahkan serbuk kitosan komersial sesuai dengan perlakuan yaitu 0,5; 1,0; 1,5 dan 2% dengan cara distrirer sampai homogen dan diukur pH tersebut. Menurut Rahmi (2007), kitosan tidak dapat larut dalam air alkali ataupun asam kuat, namun kitosan dapat larut dalam pelarut organic seperti asam asetat.
Limbah cair yang telah diencerkan diambil 500 ml dan ditambahkan larutan kitosan yang telah dibuat. Selanjutanya dilakukan pengadukan 10 menit di dalam Erlenmeyer, yaitu 9 menit pengadukan cepat dan 1 menit pengadukan lambat. Pengadukan cepat berfungsi mempercepat proses kaogulasi sedangkan pengadukan lambat berfungsi mempercepat flokulasi. Koagulasi dan flokulasi diperlukan untuk menghilangkan material limbah berbentuk suspensi atau koloid (Medcalf, 1991).
Sampel kemudian diendapkan selama 60 menit untuk mengendapkan flok-flok partikel yang terbentuk saat flokulasi. Gabungan partikel ini kemudian akan mengendap secara berkelompok dan membentuk sedimen di dasar (Hammer, 1986). Setelah pengendapan, air limbah dilakukan pengukuran pH, TSS dan kekeruhan limbah untuk membandingkan sebelum dan sesudah diberi perlakuan terdapat perubahan atau tidak.
b.         Karakteristik dan bahaya limbah organik
Limbah cair organik memiliki karakteristik mengandung bahan-bahan organik dan berpotensi untuk menimbulkan efek negatif dan bahaya terhadap lingkungan. Tingkat pencemaran limbah cair pada setiap industri berbeda-beda, tergantung pada tipe proses pengolahan, penangkapan atau budidaya serta spesies ikan yang diolah. Berdasarkan karakteristik dan penanganannya, limbah ada yang langsung dapat dibuang tanpa pengolahan, ada pula limbah yang setelah diolah dapat dimanfaatkan kembali. Limbah tanpa pengolahan adalah limbah yang keluar dari pabrik langsung diambil dan dibuang. Ada beberapa jenis limbah yang perlu diolah dahulu sebab mengandung polutan yang dapat mengganggu kelestarian lingkungan. Limbah diolah dengan tujuan untuk mengambil barang-barang berbahaya di dalamnya dan atau mengurangi/menghilangkan senyawa-senyawa kimia atau nonkimia yang berbahaya dan beracun.
Beberapa dampak yang diakibatkan oleh limbah cair organik industri pengolahan perikanan adalah tingginya material limbah yang tidak dapat dikelola dengan baik dapat menyebabkan penumpukan material yang berdampak adanya gangguan secara estetika, seperti bau menyengat, timbulnya belatung karena adanya limbah yang busuk serta lingkungan menjadi kotor. Kualitas air di tempat - tempat pembuangan limbah cair menjadi menurun. Kadar Total Suspenden Solid , BOD5 serta COD menjadi tinggi, selain itu terbentuk endapan - endapan dari hasil pembusukan bahan organik. Minyak dan lemak ikan dipermukaan air akan menghambat proses biologis dalam air dan menimbulkan gas. c. Mekanisme kitosan dalam pelarut asam asetat dapat mereduksi limbah organic
Kitosan tidak dapat larut dalam air alkali ataupun asam kuat, namun kitosan dapat larut dalam pelarut organik seperti asam asetat. Larutan asam asetat akan memberikan proton (H+) dalam air limbah. Proton akan saling berikatan secara koordinasi dengan amina membentuk molekul amina (NH3) yang bersifat ionik sehingga kitosan bersifat reaktif terhadap senyawa bemuatan negatif. Keruhnya air limbah disebabkan oleh partikel protein yang tersuspensi dan tidak dapat mengendap sebab partikel tersebut terlalu kecil ukurannya untuk mengendap dalam suatu periode tertentu, gugus amino kitosan (NH3+) akan berikatan dengan sisi negatif protein (-COO-). Terikatnya senyawa protein oleh kitosan akan membentuk kompleks senyawa gabungan kitosan dan protein selanjutnya kan saling berkelompok membentuk flok dan akhirnya akan mengendap. Mengendapnya partikel protein akan menyebabkan air limbah menjadi lebih jernih (Rahmi, 2007).
Koagulasi adalah proses pengolahan air atau limbah cair dengan menstabilkan partikel-patikel koloid untuk memfasilitasi pertumbuhan partikel selama flokulasi, sedangkan flokulasi adalah proses pengolahan air dengan cara mengadakan kontak diantara partikel-partikel koloid yang telah mengalami destabilisasi sehingga ukuran partikel-partikel nya tumbuh menjadi partikel yang lebih besar. Koagulasi dan flokulasi diperlukan untuk menghilangkan material limbah berbentuk suspensi atau koloid.Koloid mempunyai ukuran partikel diameter sekitar 1 nm (Medcalf,1991). Partikel-partikel ini tidak dapat mengendap dalam periode waktu yang wajar dan tidak dapat dihilangkan dengan proses perlakuan fisika biasa.
Proses pengadukan lambat adalah proses flokulasi, hal ini bertujuan untuk mengurangi gaya tolak menolak elektrostatis antara partikel dan transportasi partikel harus menghasilkan kontak diantara partikel yang mengalami destabilisasi. Setelah melewati fase destabilisasi maka partikel terbwa ke satu kotak antara satu dengan lainnya sehingga membentuk penggumpalan dan terbentuk partikel lebih besar dinamakan flok.
d. Bahas per-parameter
Berdasarkan hasil pengamatan, terdapat perbedaan antara perlakuan sebelum dan sesudah ditambahkan kitosan. Data hasil pengamatan yang diperoleh dengan perlakuan penambahan asam asetat glasial 1% menunjukkan bahwa pH larutan awal adalah 8, sedangkan setelah ditambahakan pH turun menjadi 4. Rendahnya pH ini menunjukkan ada banyaknya kadungan ion H+ yang ada pada limbah tersebut sehinga airnya cenderung asam. Kitosan bersifat lebih larut dibandingkan dengan polisakarida lainnya apabila berada dalam larutan asam encer seperti asam asetat dengan kekuatan ionik rendah. Berdasarkan standar yang ada maka limbah dengan penambahan kitosan dan asam asetat sebanyak 1% pH nya terlalu asam dan dibawah standar yang ada. Sehingga dapat dikatakan bahwa penambahan asam asetat sebagai pelaru kitosan mempengaruhi pH akhir dari limbah tersebut.
TSS (Total Suspended Solid) atau total padatan tersuspensi adalah padatan yang tersuspensi di dalam air baik berupa bahan organik maupun bahan anorganik. Padatan ini dapat disaring dengan menggunakan kertas saring berpor. Adanya padatan tersuspensi yang ada pada suatu perairan mempunyai dampak buruk terhadap suatu perairan karena akan menyebabkan gangguan pertumbuhan bagi organisme di dalamnya.
Pada limbah padatan inilah yang menyebabkan limbah tersebut warnanya menjadi keruh kecoklatan karena TSS tidak mengendap di dasar. Berdasarkan hasil pengamatan, TSS pada awal adalah 0,69 sedangkan setelah ditambahkan kitosan 1 % TSS nya menjadi 0,68. Berdasarkan standar yang ada TSS maksimal adalah 400 ppm. Hasil pengamatan, nilai TSS adalah 0 yang berarti bahwa dengan penambahan kitosan 1 % dapat mereduksi TSS dan tidak ada padatan tersuspensi yang terdapat pada limbah tersebut.
Awalnya warna atau kekeruhan pada sampel limbah adalah coklat dan keruh. Namun setelah dilakukan penambahan kitosan 1 % maka tingkat kekeruhan menjadi turun, yaitu sangat keruh. Hal ini menunjukkan bahwa adanya pengendapan partikel- partikel di dasar limbah yang dipengaruhi adanya muatan positif pada kitosan sehingga menyebabkan terjadinya ikatan antar partikel. Setelah itu membentuk flok- flok partikel berukuran besar dan warna limbah berkurang kekeruhannya.
e.                Perlakuan dengan Pengenceran dalam limbah cair
Limbah yang diencerkan sebelum diberi perlakuan dan tanpa pengenceran memberikan perbedaan hasil pada intensitas kekeruhan dan TSS setelah pemberian kitosan 1%. TSS dengan pengenceran mengalami penurunan dari 0,69 menjadi 0,68 mg/L. Hasil akhir intensitas kekeruhan pada limbah yang diencerkan adalah sangat keruh. Pengenceran limbah memberikan efektivitas pengolahan limbah dan penurunan kadar TSS yang signifikan dibandingkan tanpa pengenceran (Yusuf, 2008).
f.                Pilih dan bahas perlakuan terbaik
Berdasarkan hasil yang diperoleh perlakuan terbaik pada kelompok 3 dengan menggunakan kitosan dengan konsentrasi 1,5%. Hal tersebut dikarenakan kekeruhan setelah diberi perlakuan dibanding kelompok lain yaitu dari sangat keruh sekali menjadi agak bening.
2.      Mekanisme kitosan dapat mereduksi limbah anorganik
Kitosan mampu menangani limbah cair anorganik seperti Pb, Hg, Cr, Cd, Cu dan Zn yang tdak dapat terdekomposisi oleh alam. Limbah cair anorganik banyak dihasilkan oleh industri non pangan seperti industri tekstil (Marganof, 2003). Gugus amina (NH2) pada kitosan menjadi penentu kemampuan kitosan dalam menangani limbah anorganik. Kitosan dapat melarutkan limbah cair berupa HgSO4 dan dengan derajat deasetilisasi tinggi memberikan sisa Hg rendah dalam limbah (Sormin et al.,2001),.
Menurut Rahayu dan Purnavita (2007), proses deasetilasi dengan menggunakan alkali pada suhu tinggi akan menyebabkan terlepasnya gugus asetil (CH3CHO-) dari molekul kitin. Gugus amida pada kitin akan  berikatan dengan gugus hydrogen yang bermuatan positif sehingga membentuk gugus amina bebas –NH2. Kitosan membentuk kompleks (khelat) dengan ion logam berat dan ion logam transisi terutama Cu2+, Ni2+ dan Hg2+ dengan pengaturan pH. (Mekarwati et al., 2000). Dengan adanya gugus amina bebas, kitosan dapat mengadsorpsi ion logam dengan membentuk senyawa kompleks (khelat).


VI.             KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa perlakuan terbaik adalah pada kelompok 3 yang menggunakan konsentrasi kitosan 1,5%. Hasil dari kelompok 3 yaitu pH, TSS, dan kekeruhan sebelum dan sesudah perlakuan mengalami perubahan. Untuk pH berubah dari 8 menjadi 5, TSS berubah dari 0,7 menjadi 0,69 dan kekeruhan berubah dari sangat keruh sekali menjadi agak bening.
B.     Saran
Sebaiknya saat praktikum para praktikan dikondisikan dengan sebaik-baiknya, agar pencatatan data dan jalannya praktikum dapat berjalan dengan baik dan lancar.




















DAFTAR PUSTAKA
Hammer, M.J. 1986. Water and Waste Technoloy. John Wiley & Sons, New York.
Hanafi, M., Syahrul A., Efrina D., dan B. Suwandi,, 1999, ”Pemanfaatan Kulit Udang untuk Pembuatan Kitosan dan Glukosamin”, LIPI Kawasan PUSPITEK, Serpong.
Marganof. 2003. Cit Safrudin, M. 2007. Pengaruh konsentrasi NaOH dan lama deproteinasi terhadap karakteristik kitosan cangkang udang putih sebagai pereduksi limbah cair.
Medcalf, Eddy. 1991. Wastewater Enginering Treatment, Disposal and Reuse. McGraw Hill. Inc., Singapore
Mekarwati, E. Fachriyah dan Sumardjo, D. 2000. Aplikasi kitosan terhadap hasil transformasi kitin limbah udang (Panaeus merguiensis) untuk adsorpso ion logam timbal. Jurnal Sains dan Matematika 2 : 51-54.
Rahayu, L.H. dan S. Purnavita. 2007. Optimasi pembuatan kitosan dari kitin limbah cangkang rajungan (Portunus pelagicus) untuk adsorben ion logam merkuri. Reaktor 1 : 45-49.
Rahmi. 2007. Penggunaan kitosan sebagai agen penjernih limbah cair industri penyemakan kulit dan fillet ikan. Universitas Gadjah Mada. Skripsi.
Robert, G.A.F. 1992. Chitin Chemistry. The Macmillan Press Ltf., London
Sahubawa, L. 2009. Teknologi dan Diversifikasi Hasil Perikanan. Bahan Ajar Mata Kuliah Manajemen Limbah Industri Perikanan. Jurusan Perikanan. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada.
Sormin, R.B.D., Winarno F.G., Heruwati E.S dan Assik A.N. 2001. Rendemen, sifat fisikokimia dan aplikasi dari limbah beberapa jenis udang. Jurnal Perikanan UGM 1 : 09-16.
Suhardi, (1992), “Khitin dan Khitosan”, Pusat Antar Universitas Pangan&Gizi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Suptijah P, Salamah E, Sumaryanto H, Santoso J, Purwaningsih S. 1992. Pengaruh Berbagai Metode Isolasi Khitin Kulit Udang terhadap Kadar dan Mutunya. Laporan Akhir Penelitian. Fakultas Perikanan. IPB. Bogor.
Yusuf, G. 2008. Bioremidiasi limbah rumah tangga dengan sistem simulasi tanaman air. Jurnal Bumi Lestari 2: 136-144.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar