EKOSISTEM SUNGAI
Haditiya Rayi
Setha Ahmad
13/349901/PN/13308
Teknologi Hasil
Perikanan
Intisari
Sungai merupakan sumberdaya perairan yang airnya mengalir secara terus menerus pada arah tertentu,
berasal
dari tanah, air
hujan
dan atau air
permukaan yang semakin besar bergabung dan
akhirnya bermuara kelaut atau perairan terbuka. Praktikum ini
bertujuan untuk mempelajari karakteristik ekosistem sungai dan faktor-faktor
pembatasnya. Lalu memperlajari cara pengambilan data parameter
lingkungan,mempelajari korelasi antara parameter lingkungan dengan kehidupan
biota perairan dan mempelajari kualitas perairan berdasarkan indeks diversitas
biota perairan. Parameter yang diukur ada parameter kimia, fisika danbiologi. Untuk mengukur parameter ini digunakan metode plot
untuk
mengukur diversitas dan densitas serta metode
Winkler
untuk mengukur DO dan Alkalimetri untuk mengukur
CO2
bebas
dan alkalinitas. Praktikum ini dilakukan pada hari Kamis 10 April 2014 pukul 13.30 sampai selesai bertempat di sungai Winongo. Pada praktikum ini sungai dibagi menjadi 3 stasiun (hulu, tengah, hilir).
Pada masing-masing stasiun dilakukan pengamatan pada berbagai parameter
lingkungan. Sungai Winongo merupakan sungai yang masih dalam keadaan baik,
masih banyak makrobentos dan plankton yang hidup didaerah tersebut dengan
diversitas plankton pada stasiun 1 sebesar 1556, stasiun 2 sebesar 753 dan stasiun 3 sebesar 1456. Data yang didapat dari hasil
pengamatan masih dalam batas kewajaran. Salah satu pencemaran yang ada di
sungai Winongo adalah pencemaran dari limbah warga sekitar.
Kata kunci :densitas,diversitas,
karakteristik sungai, parameter lingkungan, sungai.
PENDAHULUAN
Ekosistem sungai adalah
ekosistem air tawar yang bergerak atau berarus (lotik). Sungai memiliki ciri
khas yang sedikit berbeda dengan ekosistem air tawar lainya. Arus sungai yang
cukup deras mengakibatkan O2 yang terlarut menjadi tinggi (Odum,
1998). Ekosistem
juga dapat diartikan sebagai hubungan timbal balik yang kompleks antar
organisme dengan lingkungan (Prawirohartono, 2004).
Sungai adalah tempat-tempat dan
wadah-wadah serta jaringan pengaliran air mulai dari mata air sampai muara
dengan dibatasi kanan dan kirinya serta sepanjamg pengaliran oleh garis
sempadan (Zakia, d. k. k., 2009). Sungai adalah salah satu ekosistem perairan
yang dipengaruhi oleh banyak faktor, baik oleh aktifitas alam maupun aktifitas
manusia di Daerah Aliran Sungai (DAS)(Lubis, d. k. k., 1993).
Dalam suatu lingkungan
perairan, terdapat berbagai tolak ukur air sebagai pemberi karakteristik dari
lingkungan, dalam hal ini yakni karakteristik sungai. Parameter/ tolak ukur
yang ada pada lingkungan perairan meliputi tiga parameter secara garis besar,
yakni parameter fisik, parameter kimia dan jga parameter biologis. Ketiga
parameter itu antara lain: suhu, kecepatan arus, DO, pH, CO2 bebas,
Alkalinitas, dan kandungan bahan organik serta danyaprodusen dan konsumen (Setyobudiandi,
1997).
Sungai di Indonesia umumnya
mempunyai sifat multiguna, mulai dari keperluan rumah tangga, keperluan hewan
(mandi, minum), transportasi perairan dan sebagainya. Kebanyakan sungai di
Indonesia telah mengalami penurunan fungsi akibat berbagai aktifitas manusia
ini masih merupakan sumberdaya prairan yang kaya akan organisme air
(Widaningroem, 2010). Pemanfaatan sungai sebagai tempat pembuangan alir limbah
merupakan dampak dari aktifitas masyarakat terhadap lingkungan yang dapat menyebabkan
perubahan faktor lingkungan sehingga akan berakibat buruk bagi organisme air
(Suriawiria, 1996).
Kehidupan di air dijumpai tidak
hanya pada badan air tetapi juga pada dasar air yang padat. Di dasar air
kehidupannya sangat terbatas karena ketersediaan nutrisi yang terbatas, oleh
karena itu, hewan yang hidup di air dalam hanyalah hewan-hewan yang mampu hidup
dengan jumlah dan jenis nutrien yang terbatas, sekaligus bersifat susah
mentoleransi (Isnaeni, 2002).
Praktikum kali ini bertujuan untuk
mempelajari karakteristik ekosistem sungai dan faktor-faktor permbatasnya, juga
mempelajari cara pengambilan data parameter fisik, biologik dan kimia. Dari
berbagai pengambilan data itupun bertujuan untuk mengetahui kualitas perairan
sungai berdasarkan indeks diversitas biota perairan serta untuk mempelajari
korelasi antara parameter lingkungan dengan komunitas makrobentos yang ada di
perairan tersebut.
METODE
Pelaksanaan
praktikum Ekologi Perairan acara Ekosistem Sungai dilaksanakan di Sungai
Winongo, Sleman, Yogyakarta. Acara praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis
10 April 2014 pukul 13.30 sampai dengan selesai.
Alat
dan bahan yang digunakan dalam acara praktikum ini adalah bola tenis meja, pH
meter, roll meter, penggaris, thermometer, gelas ukur, pipet ukur, pipet tetes,
ember plastik, petersen grab, plot, sikat halus, stopwatch, saringan plankton,
botol oksigen, erlenmeyer, kertas label, dan alat tulis. Sedangkan bahan yang
digunakan antara lain, larutan MnS04, larutan H2SO4 pekat ,larutan reagen O2,
larutan 1/80 N Na2S2O4, larutan indikator PP, larutan indikator amilum, larutan
indikator MO, larutan formalin 4, larutan 1/44N NaOH, larutan 1/50 N H2SO4.
Pada praktikum ini sungai dibagi
menjadi 3 stasiun (hulu, tengah, hilir). Pada masing-masing stasiun dilakukan
pengamatan pada berbagai parameter lingkungan, yaitu parameter fisik, biologi
dan kimia. Pengukuran parameter fisik adalah mengukur suhu udara dan air sungai
dan mengukur kecepatan arus aliran air sungai dengan menggunakan bola tenis
meja yang dialirkan dengan perhitungan waktu hingga jarak 10 meter.
Kecepatan Arus V = s / t
S= jarak yg ditempuh
T= waktu
Debit Air R = (W x D x A x L) /t
W= lebar
D= kedalaman
A= konstanta
L= panjang / waktu
Konstanta untuk dasar Lumpur/Pasir=0,9 ; Batu = 0,8
Pada parameter biologi kenali dan
catatlah organisme disekitar lokasi pengamatan. Diversitas gastropoda dapat
dihitung dengan rumus metode Shannon-Wiener :

keterangan :
H : Indeks keanekaragaman (diversitas)
ni : cacah
individu suatu genus
N : cacah
individu suatu genera
Pada parameter kimia di lakukan
pengukuran derajat keasaman (pH), kandungan oksigen terlatur (DO), kandungan CO2
bebas, dan alkalinitas. Untuk pengukuran pH digunakan pH meter dan untuk
pengukuran DO, CO2 dan alkalinitas dilakukan dengan titrasi dan
dihitung dengan rumus :


keterangan :
Y : Banyak larutan 1/80 N Na2S2O3
yang digunakan untuk titrasi
C : Banyak larutan 1/44 N NaOH yang digunakan untuk
titrasi
C’ : Banyak larutan 1/50 N H2SO4
yang digunakan untuk titrasi (1)
D : Banyak larutan 1/50 N H2SO4
yang digunakan untuk titrasi (2)
HASIL DAN PEMBAHASAN
|
Hasil
|
|||
|
Tabel 1. Hasil Pengamatan Acara Ekosistem Sungai
|
|||
|
Parameter
|
Stasiun
|
||
|
1
|
2
|
3
|
|
|
Fisik
|
|
|
|
|
Suhu Udara (◦C)
|
26
|
22.7
|
25.33
|
|
Suhu Air (◦C)
|
28.52
|
25
|
27.33
|
|
Kecepatan Arus (m/s)
|
0.286
|
0.34
|
0.8
|
|
Debit (m3/s)
|
0.318
|
1.8
|
2.25
|
|
Kimia
|
|
|
|
|
DO (ppm)
|
5.54
|
1.4
|
3.8
|
|
CO2 (ppm)
|
9.67
|
45.2
|
6.88
|
|
Alkalinitas (ppm)
|
32.2
|
91.5
|
124
|
|
Ph
|
7.1
|
7.2
|
7.1
|
|
Biologi
|
|
|
|
|
Densitas Plankton (idv/L)
|
4.32
|
2.87
|
2.79
|
|
Diversitas Plankton
|
1556
|
753
|
1456
|
|
Cuaca
|
Mendung dan Hujan
|
Mendung dan Hujan
|
Hujan
|
|
Vegetasi
|
Rimbun dan Bambu
|
Rimbun dan Bambu
|
Rimbun dan Bambu
|
Praktikum
kali ini dilaksanakan di Sungai Winongo. Pada saat dilakukan praktikum cuaca
sedang buruk turun hujan lebat. Hal tersebut mengakibatkan praktikan kurang
maksimal dalam melaksanakan praktikum. Hujan yang lebat mengakibatkan aliran
sungai yang tadinya tenang menjadi deras dan mengubah warna air menjadi
cokelat. Aliran sungai yang deras mengakibatkan pengambilan sampel menjadi
terhambat. Selain itu, hujan juga menyebabkan beberapa kesalahan pada
pengukuran tolok ukur kimia. Seperti saat titrasi sampel pada percobaan
alkalimetri dikarenakan kondisi yang gelap dan ruang gerak sempit karena
praktikan harus berteduh pada saat titrasi membuat banyak data yang salah pada
percobaan ini.
Vegetasi
yang ada di sekitar sungai Winongo ini banyak ditumbuhi pepohonan dan
rerumputan. Dasar sungai ini terdapat banyak batu. Dikarenakan hujan lebat
membuat arus yang tadinya tenang menjadi lebat dan debit air menjadi meningkat.
Aktivitas yang ada di sekitar sungai pada stasiun 2 adalah adanya warga yang
mandi dan memancing ikan.
Air
memiliki beberapa parameter yang
menandakan seberapa baiknya kualitas air pada sungai ini, parameter air itu antara lain parameter fisik (suhu udara, suhu
air, debit dan kecepatan arus), sifat kimia (DO, CO2 bebas, pH, alkalinitas) serta parameter biologi, yaitu
organisme
plankton yang terdapat di
lokasi.
Parameter
Fisik

Grafik
1. Suhu Udara vs Stasiun
Dari
pengamatan yang dilakukan pada masing-masing stasiun, bahwa terlihat stasiun 1
memiliki suhu udara tertinggi yaitu 26 °C dan terendah distasiun 2 yaitu 22,7
°C . Menurut teori semakin tinggi kedudukan suatu tempat, temperature diudara
pada tempat tersebut akan semakin rendah, begitu juga sebaliknya semakin rendah
suatu tempat, temperature udara akan semakin tinggi (Shyham,2010). Menurut
teori dengan hasil yang didapatkan berbeda suhu udara terendah justru terdapat
pada stasiun 2 hal ini disebabkan karena faktor cuaca yang sedang tidak
bersahabat, sehinga memungkinkan perbedaan suhu udara di setiap stasiun. Namun
untuk daerah Sleman, suhu udara tersebut masih tergolong normal.

Grafik
2. Suhu Air vs Stasiun
Dari
pengamatan dapat terlihat bahwa stasiun 1 memiliki suhu air paling tinggi yaitu
28,5 °C, kemudian diikuti dengan stasiun 3 yaitu 27,33 °C dan yang terakhir
adalah stasiun 2 yaitu 25 °C. Suhu udara berbanding lurus dengan suhu air.
Perbedaan suhu air dapat disebabkan karena cuaca berawan pada setiap stasiun
berbeda. Pada stasiun 2 memiliki suhu air terendah dikarenakan awan yang
menutupi perairan sangat tebal sehingga cahaya yang diterima bumi relatif
sedikit, hal ini disebabkan sinar matahari tertutup oleh awan dan kemampuan
awan menyerap panas matahari.

Grafik
3. Kecepatan Arus vs Stasiun
Dari
grafik diatas dapat diketahui kecepatan arus stasiun 3 adalah yang tercepat
(0,8 m/s), diikuti stasiun 2 (0,34 m/s) dan terakhir stasiun 1 (0,286 m/s). Kecepatan arus ini dipengaruhi oleh gravitasi dan hambatan (friksi). Oleh karena itu, kekuatan arus di sungai tergantung pada letak daerahnya. Pada daerah hulu, kecepatan arusnya tinggi sedangkan di daerah hilir kecepatannya menurun (Nybakken, 1992). Hasil yang diperoleh
dan teori tidak sesuai, hal ini dapat terjadi karena parameter kualitas air ini
sendiri, misalnya
banyaknya
populasi biota yang ada
pada stasiun dan faktor
abiotik
lainnya yang menghambat
atau memperlancar arus air. Hal ini disebabkan juga
oleh faktor cuaca yang sedang hujan sehingga kecepatan arus semakin kencang dan
ada faktor angin yang juga mendorong kecepatan arus pada stasiun tersebut.

Grafik
4. Debit Air vs Stasiun
Dari
grafik terlihat bahwa stasiun 3 memiliki debit air tertinggi yaitu 2,25 m3/s,
lalu pada stasiun 2 memiliki debit air
yaitu 1,8 m3/s dan yang terendah pada stasiun 1 debit air
yaitu 0,318 m3/ . Pada stasiun 3 terbesar karena dilokasi tersebut
memiliki panjang, lebar, kedalaman dan kecepatan arus tertinggi dibandingkan
dengan stasiun lainnya, sehingga debit air terbanyak, sebab faktor-faktor yang
mempengaruhi tinggi atau rendahnya debit air yaitu kecepatan arus, lebar,
kedalaman, dan dasar dari sungai tersebut. Hal ini diperkuat oleh teori bahwa
kedalaman sungai menjadi faktor penting dalam menentukan debit (Effendi, 2003).
Parameter
Kimia

Grafik
5. DO vs Stasiun
Grafik
diatas menggambarkan bahwa stasiun 1 memiliki tingkat DO yang paling tinggi
sedangkan stasiun 2 memiliki tingkat DO yang paling rendah. Suhu dan DO
berbanding lurus hal ini berbanding lurus dengan teori bahwa DO ini sendiri dipengaruhi oleh suhu dan tekanan atmosfer (Effendi, 2003).

Grafik
6. CO2 vs Stasiun
Hasil pengamatan dapat terlihat
bahwa stasiun 2 memiliki tingkat kadar CO2 tertinggi dan stasiun 3 memiliki
kadar CO2 terendah. Pengamatan tersebut adalah benar karena jika DO tinggi maka
kadar CO2 akan menjadi rendah karena jika oksigen yang digunakan tinggi maka
akan menurunkan kadar CO2nya. Dapat dibuktikan dari teori apabila DO tinggi
maka kandungan CO2 rendah karena adanya aliran air ( Effendi,2003 ).

Grafik
7. Alkalinitas vs Stasiun
Dari
grafik terlihat alkalinitas tertinggi terdapat pada stasiun 3 yaitu 124 ppm ,
sedangkan yang terendah terdapat pada stasiun 1 yaitu 32,2 ppm , pada stasiun 2
yaitu 91,5 ppm. Alkalinitas ini berperan sebagai penyangga pH di perairan agar
perairan tersebut tidak terlalu asam atau terlalu basa. Nilai alkalinitas akan
menurun jika aktifitas fotosintesis naik. CO2 yang dibutuhkan tidak
memadai untuk fotosintesis. Alkalinitas bersumber dari proses difusi CO2
diudara kedalam air. Alkalinitas diukur sebagai kesuburan air ( Hidayat,2009 ).
Semakin rendah alkalinitas maka akan semakin subur suatu perairan.

Grafik
8. pH vs Stasiun
Dari
grafik dapat dilihat pH pada setiap stasiun masih dalam keadaan normal yaitu
pada kisaran pH 7. pH diperairan dikatakan normal apabila pH didalam perairan
tersebut berkisar antara 6-9 . pH sangat penting bagi parameter kualitas air
karena pH mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan di dalam
air.
Parameter
Biologi

Grafik
9. Densitas Plankton vs Stasiun
Dari grafik diatas dapat
diketahui densitas tertinggi ada pada stasiun 1 yaitu 1556 individu/L.
Sedangkan yang terendah ada pada stasiun 2 yaitu 1456 individu/L. Densitas
plankton merupakan tingkat kerapatan plankton pada suatu area perairan. Stasiun
1 adalah tempat yang cukup optimal bagi plankton karena DO relatif tinggi, CO2
toleransi. Plankton sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Kelimpahan
plankton menandakan kesuburan perairan.

Grafik 10. Diversitas Plankton vs
Stasiun
Dari grafik dapat kita ketahui bahwa
stasiun 1 memiliki tingkat diversitas yang tertinggi dibanding dengan stasiun yang
lain yaitu sebesar 4,32 ind/L sedangkan stasiun 3 memiliki tingkat diversitas
terendah yaitu dengan 2,79 ind/L. Stasiun 1 merupakan stasiun yang memiliki
kecepatan arus, kandungan CO2 bebas, pH air, serta intensitas cahaya matahari
yang cukup baik, sehingga menyebabkan diversitas planktonnya sangat tinggi.
Dari
ketiga stasiun dapat diambil kesimpulan bahwa stasiun 1 adalah stasiun terbaik
berdasarkan diversitas planktonnya. Hal tersebut juga dibuktikan dengan pengamatan
parameter lingkungan (fisika, kimia, biologi) yang rata-rata menunjukkan bahwa
stasiun 1 memiliki keunggulan dibanding stasiun yang lain.
KESIMPULAN
Dari
praktium yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa karakteristik
ekosistem sungai tergantung pada parameter lingkungannya. Baik atau tidaknya
sungai tergantung pada diversitas dan densitas plankton yang ada pada sungai
tersebut. Pengambilan data tolakukur pada suatu perairan dapat menggunakan
berbagai metode Winkler dan alkalimetri. pH, DO, CO2 bebas , dan
alkalinitas pun juga sangat berpengaruh untuk kualitas air dan populasi biota
perairannya.. Dalam
perairan
sungai, semakin
baik atau sesuai parameter suatu perairan, semakin baik pula komunitas biota perairan (plankton). Semakin
tinggi indeks diversitas plankton suatu perairan maka semakin baik kualitas perairan tersebut. Sungai Winongo adalah
sungai yang masih memiliki tingkat pencemaran yang masih kecil, terbukti dari
berbagai pengamatan parameter lingkungan, sungai Winongo masih dalam batas
wajar. Berdasarkan diversitas planktonnya, stasiun terbaik dalam praktikum kali
ini adalah stasiun 1.
DAFTAR PUSTAKA
Effendi,
Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta.
Isnaeni, W. 2002. Fisiologi Hewan. Universitas
Negeri Semarang. Semarang.
Lubis,
J. Soewarno dan Suprihadi, B . 1993 . Hidriologi Sungai. Departemen Pekerjaan
Umum. Jakarta.
Odum,
E.P. 1998. Dasar-Dasar Ekologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Prawirohartono,
Slamet. 2004. Sains Biologi. Bumi Aksara. Jakarta.
Setyobudiandi,
I. 1997. Makrozoobentos. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Suriawiria, U. 1996. Air Dalam
Kehidupan Lingkungan Yang Sehat. Alumni. Bandung.
Zakia, Neena. Dkk.
2009. Pendidikan Lingkungan Hidup. Universitas Negeri Malang. Malang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar