MAKALAH
BIOLOGI LAUT
“MANFAAT PHAEOPHYTA”

DISUSUN OLEH :
1. Haditya
Rayi S 13/349901/PN/13308
2. Fari Nuhana M 13/349662/PN/13298
3. M
Fahmi 13/353818/PN/13505
4. Tuti 13/350073/PN/13340
5. M
Zaki Fathoni 13/351627/PN/13433
JURUSAN
PERIKANAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Phaeophyta adalah ganggang yang berwarna pirang atau
kecoklatan yang pada umumnya hidup di laut, hanya beberapa jenis saja yang
hidup di air tawar. Warna pirang atau kecoklatan ini disebabkan karena pengaruh
adanya pigmen fikosantin dalam kloroplasnya yang menutupi warna
lainnya dan yang menyebabkan ganggang itu kelihatan berwarna pirang atau
kecoklatan. Selain itu, di dalam kromatoforanya juga terkandung klorofil-a dan
c, karotin, dan xantofil (Pratiwi, 2008: 51).
Alga/ganggang
coklat ini umumnya tinggal di laut, hanya ada beberapa jenis saja yang hidup di
air tawar yang agak dingin dan sedang, terdampar dipantai, melekat pada
batu-batuan dengan alat pelekat (semacam akar). Bila di laut yang iklimnya
sedang dan dingin, talusnya dapat mencapai ukuran besar dan sangat berbeda
bentuknya. Ada yang hidup sebagai epifit pada talus lain. Tapi ada juga yang
hidup sebagai endofit. Di daerah subtropis, alga cokelat hidup di daerah
intertidal, yaitu daerah literal sampai sublitoral. Di daerah tropis, alga
cokelat biasanya hidup di kedalaman 220 meter pada air yang jernih.
Saat ini, Phaeophyceae
(Sargassum sp. dan Turbinaria sp.) belum dimanfaatkan secara optimal (Williams,
2007), padahal Phaeophyceae sangat bermanfaat, misalnya di bidang kesehatan,
mikrobiologi, enzimologi dan ekotoksikologi (La Barre et al., 2010). Hasil
ekstraksi Sargassum sp. dan Turbinaria sp. adalah alginat (Kusumawati, 2009)
dan produksinya masih diperoleh dari alam (Rachmat, 1999; Rasyid, 2003).
Alginat banyak digunakandalam industri makanan untuk memperkuat tekstur atau
stabilitas dari berbagai produk olahan (Poncomulyo et al., 2006)
Rumput laut, terutama
Phaeophyceae (Sargassum dan Turbinaria) tersebar luas di perairan tropis,
termasuk Indonesia (Aslan, 1991). Spesies-spesies Sargassum sp. yang dikenal di
Indonesia ada sekitar 12 spesies, salah satunya adalah S. duplicatum.
Turbinaria sp. yang ditemukan di Indonesia ada 3 spesiesdan salah satunya
adalah T. ornata (Atmadja et al., 1996). Sargassum sp. dan Turbinaria sp.
sering membentuk suatu komunitas alga (Tjitrosoepomo, 2005).
B. Tujuan
Untuk
mengetahui ciri umum dan pemanfaatan Phaeophyta
BAB II
PEMBAHASAN
DIVISI
PHAEOPHYTA
A. Ciri
umum
Phaeophyta adalah salah satu ganggang yang tersusun
atas zat warna atau pigmentasinya. Phaeophyta ini berwarna coklat karena
mengandung pigmen xantofis. Bentuk tubuhnya seperti tumbuhan tinggi. Ganggang
coklat ini mempunyai talus (tidak ada bagian akar, batang dan daun), terbesar
diantara semua ganggang ukuran tulusnya mulai dari mikroskopik sampai
makroskopik.Dan kebanyakan bersifat autotrof. Tubuhnya selalu
berupa talus yang multiseluler yang berbentuk filamen, lembaran atau menyerupai
semak (pohon) yang dapat mencapai beberapa puluh meter, terutama jenis-jenis
yang hidup didaerah beriklim dingin. Sel vegetatif mengandung kloroplas
berbentuk bulat panjang, seperti pita, mengandung klofil serta xantofil. Kloroplas
berbentuk bulat, bulat panjang, seperti pita; mengandung khlorofil a dan
khlorofil c serta beberapa santofil misalnya fukosantin. Cadangan makanan
berupa laminarin dan manitol.
Dinding sel mengandung selulose dan asam alginat.
Sel-sel ganggang hijau mempunyai khloroplas yang berwarna hijau, dan mengandung
klorofil a dan b serta karetinoid. Pada chloroplas terdapat perenoid. Hasil
asimilasi berupa tepung dan lemak, terdiri dari sel-sel yang merupakan koloni
berbentuk benang yang bercabang-cabang. Hidupnya ada yang diair tawar, air laut
dan juga pada tanah yang lembab atau yang basah. Setiap organisme tersusun dari
salah satu diantara dua jenis sel yang secara struktural berbeda, sel
prokariotik dan sel eukariotik.
Distribusi dan Habitat
Alga/ganggang coklat ini umumnya tinggal di laut,
hanya ada beberapa jenis saja yang hidup di air tawar yang agak dingin dan
sedang, terdampar dipantai, melekat pada batu-batuan dengan alat pelekat
(semacam akar). Bila di laut yang iklimnya sedang dan dingin, talusnya dapat
mencapai ukuran besar dan sangat berbeda bentuknya. Ada yang hidup sebagai
epifit pada talus lain. Tapi ada juga yang hidup sebagai endofit. Di daerah
subtropis, alga cokelat hidup di daerah intertidal, yaitu daerah literal sampai
sublitoral. Di daerah tropis, alga cokelat biasanya hidup di kedalaman 220
meter pada air yang jernih Ada tiga Phaeophyta yang hidup diair tawar dan yang lain hidup di laut.
Phaeophyta adalah ganggang yang
berada diperairan laut yang dingin. Mereka adalah
elemen yang mendominasi dalam flora pesisir dari Arktik dan Antartika laut, dan mereka
merupakan unsur yang kurang mencolok dalam flora dan sebagai salah satuganggang yang menuju pada daerah tropis. Namun,
dari ganggang coklat tertentu, terutama dictyotales dan Sargassum, yang hidup di air hangat pada tanaman. Banyak dari spesies ganggang laut yang tumbuh melekat pada batu. Spesies lain
tumbuh dalam hubungan dengan ganggang lainnya, baik sebagai epifit atau
endophytes. Dalam banyak kasus, seperti myrionema strangulans Grev, ganggang coklat tumbuh
hanya pada satu spesies saja. Ada zonasi vertikal yang berbeda dari ganggang coklat laut pada setiap
stasiun yang diberikan. Banyak spesies tumbuh hanya di daerah intertidal dan
bahkan di sini ada distribusi vertikal yang pasti. Para rockweeds
(fucaceae) biasanya terbatas pada sabuk pesisir atas dan kelps (lamiriales) ke
bagian paling bawah.
Struktur sel
Pada phaeophyta umumnya dapat ditemukan adanya dinding
sel yang tersusun dari tiga macam polimer yaitu selulosa, asam alginat, fukan
dan fukoidin. Algin dari fukoidin lebih kompleks dari selulose dan fukoidin
lebih kompleks dari selulose dan gabungan dan keduanya membentuk fukokoloid.
Dinding selnya juga tersusun atas lapisan luar dan lapisan dalam, lapisan luar
yaitu selulosa dan lapisan dalam yaitu gumi. Tapi kadang-kadang dinding selnya
juga mengalami pengapuran. Inti selnya berinti tunggal yang mana pana pada
pangkal berinti banyak.
Dinding sel menyebabkan sel tidak dapat bergerak dan
berkembang bebas, layaknya sel hewan. Namun demikian, hal ini berakibat positif
karena dinding-dinding sel dapat memberikan dukungan, perlindungan dan
penyaring (filter) bagi struktur dan fungsi sel sendiri. Dinding sel mencegah
kelebihan air yang masuk ke dalam sel.Dinding sel terbuat dari berbagai macam
komponen, tergantung golongan organisme.
Pada tumbuhan, dinding-dinding sel sebagian besar
terbentuk oleh polimer karbohidrat (pektin, selulosa, hemiselulosa, dan lignin
sebagai penyusun penting). Pada bakteri, peptidoglikan (suatu glikoprotein)
menyusun dinding sel. Fungi memiliki dinding sel yang terbentuk dari kitin.
Sementara itu, dinding sel alga terbentuk dari glikoprotein, pektin, dan
sakarida sederhana (gula).
Reproduksi Phaeophyta
Perkembangbiakan pada Phaeophyta dapat dilakukan
dengan beberapa cara yaitu terjadi secara aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual
dengan pembentukan zoospora berflagela dan fragmentasi, sedangkan reproduksi
seksual terjadi secara oogami atau isogami. Reproduksi seksual alga cokelat
hampir serupa dengan pembiakan generatif tumbuhan tingkat tinggi. Contohnya
adalah reproduksi pada Fucus vesiculosus. Selain berkembang biak secara
aseksual dengan fragmentasi, Fucus vesiculosus juga berkembang biak dengan cara
seksual dengan oogami.
Proses oogami adalah sebagai berikut. Ujung lembaran
talus yang fertil membentuk reseptakel, yaitu badan yang mengandung alat
pembiak. Di dalam reseptakel terdapat konseptakel yang mengandung anteridium
yang menghasilkan sel kelamin jantan (spermatozoid) dan oogonium yang
menghasilkan sel telur dan benang-benang mandul (parafisis).
Anteridium berupa sel-sel berbentuk jorong yang
terletak rapat satu sama lain pada filamen pendek bercabang-cabang yang muncul
dari dasar dan tepi konseptakel. Tiap anteridium menghasilkan 64 spermatozoid.
Oogonium berupa badan yang duduk di atas tangkai. Oogonium jumlahnya sangat
banyak dan tiap oogonium mengandung 8 sel telur. Akan tetapi, hanya 40% dari
sel telur yang dapat dibuahi dan hanya 1 atau 2 dari setiap 100.000
spermatozoid dapat membuahi sel telur. Zigot lalu membentuk dinding selulosa
dan pektin, kemudian melekat pada suatu substrat dan tumbuh menjadi individu
baru yang diploid.
1.
Turbinaria sp.
A.
Klasifikasi Turbinaria
sp. menurut Bold dan Wynne (1985):
Kingdom: Plantae
Divisi: Phaeophyta
Class: Phaseophyceae
Ordo : Fucales
Family :
Sargassaceae
Genus : Turbinaria
Spesies : Turbinaria
sp.
B.
Ciri Umum
Turbinaria sp. memiliki
struktur thalus agak keras atau kaku, tebal, serta tubuh yang
tegak. Thalusnya bulat pada batang dan gepeng pada cabang. Perbedaan
dengan jenis lainnya, jenis ini memiliki blade yang umumnya seperti
corong dengan pinggir bergerigi. Karakteristik jenis ini adalah pinggir bladeya
membentuk bibir dengan bagian tengah blade melengkung ke dalam. Dapat hidup dalam kelompok kecil maupun ada
dalam kelompok yang penyebarannya sangat luas. Sebagian besar
berwarna cokelat kekuningan tetapi spesies yang kita temukan berwara cokelat
tua kehitaman. Turbinaria sp. sudah memiliki bagian seperti
tumbuhan tingkat tinggi yaitu memiliki holdfast (bagian menyerupai akar), stipe
(bagian menyerupai batang) dan blade (bagian menyerupai daun).
Secara
morfologi Turbinaria sp.
hidup melekat pada batu dan kayu. Dapat juga sebagai spifit pada talus
yang lain. Ganggang ini termasuk bentos. Pada umumnya memiliki warna kuning
merah, cokelat dan abu-abu serta krem. Pada dinding bagian dalam terdiri
atas selulosa dan sebelah luar terdiri atas pektin serta selnya hanya terdiri
atas satu sel. Proses perkembangbiakannya secara generatif dengan oogami,
tidak ada perkembangbiakan secara vegetatif. Anteridiumnya berupa sel yang
mempunyai bentuk corong. Zigotnya membentuk selulosadan pektin, melekat pada
substranya serta mampu tumbuh menjadi individu yang diploid. Ganggang ini lebih
dominan hidup di air laut, akan tetapi ada beberapa jenis mampu hidup di air
tawar.
C.
Pemanfaatan
Secara tradisional,
Turbinaria sp. telah dikonsumsi sebagai sayuran yang nilai ekonomisnya masih sangat rendah.
Turbinaria sp. biasanya dieksport ke Filipina untuk diolah menjadi beraneka
produk seperti sup, salad dan obat gondok. Turbinaria sp. mempunyai kandungan
alginat dan iodine (Aslan, 1991; Tjitrosoepomo, 2005). Pemanfaatan alginat pada
Turbinaria sp. seperti halnya pada Sargassum
sp. Hasil penelitian Deslandes et al (2000) melaporkan bahwa adanya efek
antikanker dari ekstrak hidroetanol makroalga Turbinaria ornata. Sheu et al., (1999) berhasil mengekstrak senyawa
fukosterol dari makroalga Turbinaria
conoides dengan aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker dalam jumlah yang
cukup tinggi. Fukosterol merupakan steroid utama yang terkandung dalam rumput
laut cokelat. Kandungan fukosterol sebanyak 83 hingga 98persen dari jumlah
total sterol rumput laut (Sadish, 2009). Senyawa fukosterol telah mampu
diekstraksi dari rumput laut jenis Turbinaria conoides menggunakan
kromatografi.
Penelitian lainnya
tentang Turbinaria sp. menyatakan bahwa spesies ini berpotensi dimanfaatkan
sebagai antibakteri (Vijayabakar and Shiyamala, 2011; Kantida et al., 2012;
Sridharan and Dhamotharan, 2012), antitumor (Fajarningsih et al.,2008),
antifungi (Kumar et al., 2010; Kumari et al., 2011), antivirus (Kumar et al.,
2009), antikoagulan (Manoj et al., 2013) dan antifouling (Kantida et al.,
2012). Ekstrak Turbinaria sp. juga berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian
ini telah dilakukan di Indonesia (Supriyono, 2007), India (Ananthi et al.,
2010; Ananthi et al., 2011; Vijayabakar and Shiyamala, 2012), Hawai (Kelman et
al., 2012) dan Thailand (Boonchum et al., 2011).
2. Laminaria sp.
A.
Klasifikasi Laminaria sp.
Klasifikasi Menurut Bold (1978) Klasifikasi Laminaria
adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Filum : Heterokontophyta
Class : Phaeophyceae
Ordo : Laminariales
Famili : Laminariaceae
Genus : Laminaria
Spesies : Laminaria sp.
B. Ciri
Utama
Laminaria adalah genus
dari 31 spesies alga coklat (Phaeophyceae), nama umum nya "kelp".
Beberapa spesies juga disebut sebagai kusut. Spesies ini merupakan ekonomis
penting ditandai dengan panjang dan ukuran nya yang relatif besar. Spesies ini
ditemukan di bagian utara Samudera Atlantik dan Samudra Pasifik bagian utara di
kedalaman 8-30 m (26-98 ft) (sangat 120 m (390 kaki) di perairan hangat dari
Laut Mediterania dan off Brazil). Siklus hidup dari genus melibatkan sistem
generasi diploid. (Bold,1978)
C. Pemanfaatan
Laminaria
dapat digunakan untuk konsumsi manusia. Kandungan dalam Laminaria seperti
alginates (32% D.W.), laminarin (18% D.W.),mannitol (14% D.W.), proteins (10%
D.W., inci di asam amino taurine), fucoidan (4% D.W.); Fe, iodine; magnesium;
Kalsium; fucoxanthin; beta-carotene. Berdasarkan kandungan tersebut Laminaria
dapat dimanfaatkan dalam program diet sebagai makanan diet yang berkalori
rendah dan bergizi tinggi. ( Jaspars dan Florence. 2013)
3.
Sargassum sp.
A. Klasifikasi
Sargassum sp.
adalah salah satu genus dari kelompok rumput laut coklat yang merupakan genera
terbesar dari family sargassaceae. Klasifikasi Sargassum sp . (Anggadiredjaet
al. 2006) adalah sebagai berikut :
Divisi : Thallophyta
Kelas : Phaeophyceae
Bangsa : Fucales
Suku : Sargassaceae
Marga : Sargassum
Jenis : Sargassum sp.
Sargassum
merupakan alga coklat yang terdiri dari kurang lebih 400 jenis di dunia.
Jenis-jenis Sargassum sp yang dikenal di Indonesia ada sekitar 12 spesies,
yaitu : Sargassum duplicatum, S. histrix, S. echinocarpum, S. gracilimun, S.
obtusifolium, S. binderi, S. olicystum,
S. crassifolium, S. microphylum, S. aquofilum, S. vulgare, dan S.
polyceratium(Rachmat, 1999). Bentuk Sargassum sp dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar
1. Rumput laut coklat (Sargassum sp)
B. Ciri
Utama
Sargassum
sp. memiliki bentuk thallus gepeng, banyak percabangan yang menyerupai
pepohonan di darat, bangun daun melebar, lonjong seperti pedang, memiliki
gelembung udara yang umumnya soliter, batang utama bulat agak kasar, dan holdfast
(bagian yang digunakan untuk melekat) berbentuk cakram. Pinggir daun bergerigi
jarang, berombak, dan ujung melengkung atau meruncing (Anggadiredja et al.,
2008). Sargassum biasanya dicirikan oleh tiga sifat yaitu adanya pigmen coklat
yang menutupi warna hijau, hasil fotosintesis terhimpun dalam bentuk laminaran
dan alginat serta adanya flagel (Tjondronegoroet al., 1989).
Sargassum
tersebar luas di Indonesia, tumbuh di perairan yang terlindung maupun yang
berombak besar pada habitat batu. Di Kepulauan Seribu (Jakarta) alga ini biasa
disebut oseng. Zat yang dapat diekstraksi dari alga ini berupa alginat yaitu
suatu garam dari asam alginik yang mengandung ion sodium, kalsium dan barium
(Aslan, 1999). Pada umumnyaSargassum tumbuh di daerah terumbu karang (coral
reef) seperti di Kepulauan Seribu, terutama di daerah rataan pasir (sand flat).
Daerah ini akan kering pada saat surut rendah, mempunyai dasar berpasir dan
terdapat pula pada karang hidup atau mati. Pada batubatu ini tumbuh dan melekat
rumput laut coklat (Atmadja dan Soelistijo, 1988).
Rumput
laut jenis Sargassum umumnya merupakan tanaman perairan yang mempunyai warna
coklat, berukuran relatif besar, tumbuh dan berkembang pada substrat dasar yang
kuat. Bagian atas tanaman menyerupai semak yang berbentuk simetris bilateral
atau radial serta dilengkapi bagian sisi pertumbuhan. Umumnya rumput laut
tumbuh secara liar dan masih belum dimanfaatkan secara baik. Rumput laut coklat
memiliki pigmen yang memberikan warna coklat dan dapat menghasilkan algin atau alginat,
laminarin, selulosa, fikoidin dan manitol yang komposisinya sangat tergantung
pada jenis (spesies), masa perkembangan dan kondisi tempat tumbuhnya (Maharani
dan Widyayanti 2010).
C. Pemanfaatan
Rumput laut (sargassum sp.) telah lama dimanfaatkan
sebagai bahan makanan dan obat. Sebagai sumber gizi, rumput laut memiliki
kandungan karbohidrat (gula atau vegetable-gum), protein, sedikit lemak, dan
abu yang sebagian besar merupakan senyawa garam natrium dan kalium. Selain itu,
rumput laut juga mengandung vitamin-vitamin, seperti A,B1,B2,B6,B12, dan C;
betakaroten; serta mineral, seprti kalium, kalsium, fosfor, natrium, zat besi,
dan yodium. Hidrokoloid dari Rumput laut (Karaginan, Agar dan Alginat) sangat
diperlukan mengingat fungsinya sebagai gelling agent, stabilizer, emulsifier
agent, pensuspesi, pendispersi yang berguna dalam berbagai industri seperti
industri makanan, minuman, farmasi dan kosmetik, maupun industri lainnya
seperti cat tekstil, film, makanan ternak, keramik, kertas, fotografi dan lain-
lain.
Beberapa manfaat dari Sargassum sp. adalah
dapat dijadikan sebagai bahan makanan, minuman, obat-obatan, cat, kertas, bahan
bakar, dan lain-lain. Komposisi kimia yang terdapat pada sargassum sp. antara
lain Karbohidrat, Protein, Lemak, Air, dan Abu. Cara memanfaatkan sargassum
sp. untuk dijadikan bahan bakar adalah dengan cara Fermentasi yang nantinya
akan menghasilkan bahan bakar berupa biogas dan bioethanol. Ekstrak alga coklat
(Sargassum sp.) dapat menghambat bakteri E. coli 107 sel/ml dan
konsentrasi ekstrak Sargassum sp. yang dapat menghambat E. coli 107
sel/ml sesuai standard antibiotika adalah konsentrasi 80%, 90% dan 100% dengan
diameter hambat 13 mm (cukup peka), 15,7 mm dan 18,6 mm (sangat peka)(Bachtiar et al, 2012).
4. Dictyota sp.
A. Klasifikasi
Divisi : Phaeophyta
Kelas : Phaeophyceae
Bangsa : Dictyotales
Suku : Dictyotaceae
Marga : Dictyota
Spesies : Dictyota
sp.
B. Ciri
Utama
Dictyota
(D. bartayresiana), tumbuh menempel pada batu karang mati di
daerah rataan terumbu. Warnanya coklat tua dan mempunyai thallus bercabang yang
terbagi dua. Thallus yang pipih dan lebarnya 2 mm, tersusun atas tiga lapis
sel. Lapisan tengah yang terdiri dari sel yang besar diapit oleh dua lapisan
atas dan bawah yang terdiri dari sel yang sangat kecil. Alga ini mempunyai
bagian berbentuk silindrik yang menyerap dan mempunyai alat perekat dalam
bentuk sebundel benang-benang yang bentuknya seperti rambut. Thallusnya
menghasilkan cabang lateral yang dapat lepas untuk membentuk alga baru yang
bebas dalam perkembangbiakan vegetatif.
C. Pemanfaatan
Rumput laut dari divisi
Phaeophyta yang diperoleh dari ke dua pantai tersebut yang berpotensi sebagai
obat diantaranya marga Padina, Dictyota dan
Sargassum. Padina dan Dictyota diketahui mempunyai aktivitas
antibakteri, sedangkan aktivitas antitumor dimiliki oleh Dictyopteris. Marga dari Sargassum
diketahui mempunyai aktivitas antibakteri, antitumor, menurunkan tekanan
darah tinggi dan gangguan kelenjar gondok (Atmadja et al. 1990). Substansi dari S. duplicatum adalah efektif dalam meningkatkan efektivitas serum
lipolitik. Substansi hypoglyemic mampu
menurunkan gula darah sebesar 17%, dan dalam jumlah prosentase tertentu
menunjukkan aktivitas antilipemic (Hope et
al. 1979).
5. Padina sp.
A. Klasifikasi
Klasifikasi
dari Padina sp. :
Kingdom
: Plantae
Divisi
: Phaeophyta
Class
: Phaeophyceae
Ordo
: Dictyotales
Famili
: Dictyotaceae
Genus
: Padina
Spesies
: Padina sp.
B. Ciri
Utama
Menurut
(Karmana, 1987) Padina sp. adalah alga berdevisi Phaeophyta yang bisa
dibedakan dari sisi – sisi sebagai berikut :
Morfologi
Padina sp.
memiliki berbentuk seperti batang, berdaun banyak atau seperti pedang,
berbentuk seperti kipas dan mempunyai warna cokelat. Akarnya berbentuk serabut
yang disebut holdfast untuk menempel kuat pada substrat sehingga dapat
digunakan untuk beradaptasi terhadap gerakan ombak pada daerah intertidal.
Anatomi
Kromatofora
berwarna cokelat pada padina sp karena banyak mengandung pigmen fotosintetik
fukosantin, disamping klorofil a. selnya berflagel dua, tidak sama panjang. Di
bagian yang menyerupai kipas terdapat garis-garis horisontal yang disebut garis
konsentris. Di ujung daun terdapat penebalan yang disebut penebalan gametangia
yang berfungsi sebagai reproduksi gamet dan pelindung daerah pinggiran daun
agar tidak sobek karena ombak besar pada zona pasang-surut. (Hoek, 1995).
Reproduksi
Padina sp. mempunyai
bulu cambuk dan sporangium beruang satu dan transparan, biasanya berkembangbiak
secara aseksual dengan oogonium. Satu oogonium merupakan satu sel telur dan
gamet jantan mempunyai satu bulu cambuk yang terdapat pada sisinya. Fase hidup
yang dilalui Padina adalah fase gametofit dan sporofit yang bergilir dan
beraturan.
C. Pemanfaatan
Peranan Padina sp. sendiri ini banyak
digunakan untuk bahan kosmetik dan obat-obatan. Beberapa aspek potensial dari
rumput laut jenis Padina sp. yang pernah diteliti antara lain kajian
potensi antibakteri dan antioksidan (Hongayo et al, 2012). Penggunaan
ekstraknya sebagai antibakteri terhadap pengendalian bakteri vibrio (Salosso
dkk, 2011). Dilain tempat bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Masyarakat
di daerah kepulauan Riau, Lampung selatan, Jawa selatan, serta sumbawa
menggunakannya sebagai bahan makanan (Poncomulyo dkk.
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Divisi
Phaeophyta adalah salah
satu ganggang yang tersusun atas zat warna atau pigmentasinya. Phaeophyta ini
berwarna coklat karena mengandung pigmen xantofis. Bentuk tubuhnya seperti
tumbuhan tinggi. . Sel vegetatif mengandung kloroplas berbentuk bulat
panjang, seperti pita, mengandung klofil serta xantofil. Kloroplas
berbentuk bulat, bulat panjang, seperti pita; mengandung khlorofil a dan
khlorofil c serta beberapa santofil misalnya fukosantin. Cadangan makanan
berupa laminarin dan manitol.
Pemanfaatan dari Phaeophyta antara lain Turbinaria
sp. dapat dimanfaatkan untuk bahan makanan, Laminaria sp. dapat digunakan sebagai bahan makanan untuk diet, Sargassum sp. dapat digunakan sebagai
bahan baku obat, Dictyota sp. untuk
bahan anti bakteri, dan Padina sp. dapat
digunakan sebagai bahan baku kosmetik.
B.
SARAN
Kelestarian ekosistem laut merupakan tanggung jawab kita bersama, maka dari
itu jagalah ekosistem laut agar pemanfaatannya dapat dikembangkan sehingga
membantu kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.
Daftar Pustaka
Ananthi, S., V.
Gayathri., C. Chandronitha., R. Lakshmisundaram and H. R. Vasanthi. 2011. Free
Radical Scavenging and Anti-Inflammatory Potential of Marine Brown Alga
Turbinaria ornata (Turner) J. Agardh. Indian Journal of Geo-Marine Science, 40
(5) : 664-670.
Anggadireja,
J Zatnika, Purwoto H, Istini S. 2006. Rumput Laut. Jakarta :
PenebarSwadaya. hal. 39-47.
Aslan, L. M. 1991. Budidaya Rumput Laut. Kanisius,
Yogyakarta.
Atmadja
WS, Soelistijo. 1988. Beberapa aspek vegetasi dan habitat tumbuhan laut bentik
di pulau-pulau Seribu. Jakarta : Pusat Penelitian dan Pengembangan
Oseanologi-LIPI.
Fajarningsih, N. D., M. Nursid, T. Wikanta dan E.
Marraskuranto. 2008. Bioaktivitas Ekstrak Turbinaria decurrens sebagai Antitumor
(HeLa dan T47D) serta Efeknya terhadap Proliferasi Limfosit. Jurnal Pascapanen
dan Bioteknologi Kelautan dan
Hoek, et al. 1995. Algai in Introduction
to Phycology. New York. Cambridge University Press.
Kantida, S. R., K. R. T. Asha and S. Sujatha. 2012.
Influence of Bioactive Compounds of Seaweeds and Its Biocidal and Corrotion
Inhibitory Effect of Mild Steel. Research Journal of Environmental Toxicology,
6 (3) : 101-109.
Kelman, D., E. K. Posner, K. J. McDermid, N. K.
Tabandera, P. R. Wright and A.D. Wright. 2012. Antioxidant Activity of Hawaiian
Marine Algae. Marine Drugs, 10 : 403-416.
Kumar, S. S., Y. Kumar, M. S. Y. Khan, J. Anbu and E.
De Clercq. 2009. Antihistaminic, Anticholinergic and Antiviral Activities of
Fucosterol from Turbinaria conoides (J. Agardh) Kutzing. Pharmacologyonline, 1
: 1104-1112.
Kumar, S. S., Y. Kumar, M. S. Y. Khan and V. Gupta.
2010. New Antifungal Steroids from Turbinaria conoides (J. Agardh) Kutzing.
Natural Product Resource, (abstract).
Kumari, S. S., S. V. S. Rao, S. Misra and U. S. Murty.
2011. Antifungal Activity of Turbinaria conoides and Evaluation for The
Effective Concentration Against The Infection of Beaveria bassiana in Silkworm
Larvae. Research Journal of Microbiology, 6 (2) : 115-123.
Manoj, S. G. M., K. P. S. Mahesh, M. Vasanthi and A.
Achary. 2013. Anticoagulant Property of Sulphated Polysaccharides Extracted
from Marine Brown Algae Collected from Mandapam Island, India. African Journal
of Biotechnology, 12 (16) : 1937-1945.
Poncomulyo; Taurino; Maryani, Herti;
Kristiani, Lusi;, 2006.Budidaya dan Pengolahan Rumput Laut. AgroMedia
Pustaka, Jakarta.
Pratiwi, Sylvia. 2005. Mikrobiologo Farmasi. Jakarta: Erlangga
Rahcmat
R. 1999. Kandungan dan karakteristik fisiko kimia alginat dari Sargassum
sp. yang dikumpulkan dari perairan Indonesia. Jakarta : Laboratorium Produk
Alam Laut, Puslitbang Oseanologi LIPI.
Sadish K, dkk. 2009. Anthistaminic, Anticholinergic and Antiviral Activities of Fucosterol
from Turbinaria conoides (J.Agardh) kutzing. Pharmacologyne. 1: 1104-1112.
Salosso, Y; Prajitno, A. ; Abadi, A.L. ;
Aullanni’am. 2011.Kajian Potensi Padina australis Sebagai Antibakteri Alami
dalam Pengendalian Bakteri Vibrio alginolitycus Pada Budidaya Ikan Kerapu Tikus
(Cromeleptus altivelis).Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya; Malang.
Sheu, J.H, et al. 1999. New cytotoxic oxygenated fucosterols from the brown alga Turbinaria
conoides. J. Of. Prod. 63(2):224-227.
Sridharan, M. C and R. Dhamotharan, 2012.
Antibacterial Activity of Marine Brown Alga Turbinaria conoides. Journal of
Chemical and Pharmaceutical Research, 4 (4) : 2292-2294.
Supriyono, A. 2007. Aktivitas Antioksidan Beberapa
Spesies Rumput Laut dari Pulau Sumba. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia, 9
(1) : 34-38. Tjitrosoepomo, G. 2001. Taksonomi Tumbuhan : Schizophyta,
Thallophyta, Bryophyta dan Pteridophyta. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Tjondronegoro
PD, Natasaputra M, Kusumaningrat T, Gunawan AW, Jaelani M,Suwanto A.
1989. Botani Umum II . Bogor: Pusat Antar Universitas IlmuHayat,
Institut Pertanian Bogor .
Vijayabakar, P. and V. Shiyamala. 2011. Antibacterial
Activities of Brown Marine Algae (Sargassum wightii and Turbinaria ornata) from
The Gulf of Mannar Biosphere Reserve. Advances in Biological Research, 5 (2) :
99-102.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar