Minggu, 03 September 2017

Makalah Biologi Laut (Manfaat Phaeophyta)



MAKALAH BIOLOGI LAUT
“MANFAAT PHAEOPHYTA”



DISUSUN OLEH :


1.      Haditya Rayi S                     13/349901/PN/13308
2.      Fari Nuhana M                    13/349662/PN/13298
3.      M Fahmi                               13/353818/PN/13505
4.      Tuti                                        13/350073/PN/13340
5.      M Zaki Fathoni                    13/351627/PN/13433


JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Phaeophyta  adalah ganggang yang berwarna pirang atau kecoklatan yang pada umumnya hidup di laut, hanya beberapa jenis saja yang hidup di air tawar. Warna pirang atau kecoklatan ini disebabkan karena pengaruh adanya pigmen fikosantin dalam kloroplasnya yang menutupi warna lainnya dan yang menyebabkan ganggang itu kelihatan berwarna pirang atau kecoklatan. Selain itu, di dalam kromatoforanya juga terkandung klorofil-a dan c, karotin, dan xantofil (Pratiwi, 2008: 51).
Alga/ganggang coklat ini umumnya tinggal di laut, hanya ada beberapa jenis saja yang hidup di air tawar yang agak dingin dan sedang, terdampar dipantai, melekat pada batu-batuan dengan alat pelekat (semacam akar). Bila di laut yang iklimnya sedang dan dingin, talusnya dapat mencapai ukuran besar dan sangat berbeda bentuknya. Ada yang hidup sebagai epifit pada talus lain. Tapi ada juga yang hidup sebagai endofit. Di daerah subtropis, alga cokelat hidup di daerah intertidal, yaitu daerah literal sampai sublitoral. Di daerah tropis, alga cokelat biasanya hidup di kedalaman 220 meter pada air yang jernih.
Saat ini, Phaeophyceae (Sargassum sp. dan Turbinaria sp.) belum dimanfaatkan secara optimal (Williams, 2007), padahal Phaeophyceae sangat bermanfaat, misalnya di bidang kesehatan, mikrobiologi, enzimologi dan ekotoksikologi (La Barre et al., 2010). Hasil ekstraksi Sargassum sp. dan Turbinaria sp. adalah alginat (Kusumawati, 2009) dan produksinya masih diperoleh dari alam (Rachmat, 1999; Rasyid, 2003). Alginat banyak digunakandalam industri makanan untuk memperkuat tekstur atau stabilitas dari berbagai produk olahan (Poncomulyo et al., 2006)
Rumput laut, terutama Phaeophyceae (Sargassum dan Turbinaria) tersebar luas di perairan tropis, termasuk Indonesia (Aslan, 1991). Spesies-spesies Sargassum sp. yang dikenal di Indonesia ada sekitar 12 spesies, salah satunya adalah S. duplicatum. Turbinaria sp. yang ditemukan di Indonesia ada 3 spesiesdan salah satunya adalah T. ornata (Atmadja et al., 1996). Sargassum sp. dan Turbinaria sp. sering membentuk suatu komunitas alga (Tjitrosoepomo, 2005).


B.  Tujuan
Untuk mengetahui ciri umum dan pemanfaatan Phaeophyta





















BAB II
PEMBAHASAN
DIVISI PHAEOPHYTA
A.      Ciri umum
Phaeophyta adalah salah satu ganggang yang tersusun atas zat warna atau pigmentasinya. Phaeophyta ini berwarna coklat karena mengandung pigmen xantofis. Bentuk tubuhnya seperti tumbuhan tinggi. Ganggang coklat ini mempunyai talus (tidak ada bagian akar, batang dan daun), terbesar diantara semua ganggang ukuran tulusnya mulai dari mikroskopik sampai makroskopik.Dan kebanyakan bersifat autotrof. Tubuhnya selalu berupa talus yang multiseluler yang berbentuk filamen, lembaran atau menyerupai semak (pohon) yang dapat mencapai beberapa puluh meter, terutama jenis-jenis yang hidup didaerah beriklim dingin. Sel vegetatif mengandung kloroplas berbentuk bulat panjang, seperti pita, mengandung klofil serta xantofil. Kloroplas berbentuk bulat, bulat panjang, seperti pita; mengandung khlorofil a dan khlorofil c serta beberapa santofil misalnya fukosantin. Cadangan makanan berupa laminarin dan manitol.
Dinding sel mengandung selulose dan asam alginat. Sel-sel ganggang hijau mempunyai khloroplas yang berwarna hijau, dan mengandung klorofil a dan b serta karetinoid. Pada chloroplas terdapat perenoid. Hasil asimilasi berupa tepung dan lemak, terdiri dari sel-sel yang merupakan koloni berbentuk benang yang bercabang-cabang. Hidupnya ada yang diair tawar, air laut dan juga pada tanah yang lembab atau yang basah. Setiap organisme tersusun dari salah satu diantara dua jenis sel yang secara struktural berbeda, sel prokariotik dan sel eukariotik. 

Distribusi
 dan Habitat

Alga/ganggang coklat ini umumnya tinggal di laut, hanya ada beberapa jenis saja yang hidup di air tawar yang agak dingin dan sedang, terdampar dipantai, melekat pada batu-batuan dengan alat pelekat (semacam akar). Bila di laut yang iklimnya sedang dan dingin, talusnya dapat mencapai ukuran besar dan sangat berbeda bentuknya. Ada yang hidup sebagai epifit pada talus lain. Tapi ada juga yang hidup sebagai endofit. Di daerah subtropis, alga cokelat hidup di daerah intertidal, yaitu daerah literal sampai sublitoral. Di daerah tropis, alga cokelat biasanya hidup di kedalaman 220 meter pada air yang jernih Ada tiga Phaeophyta yang hidup diair tawar dan yang lain hidup di laut.
Phaeophyta adalah ganggang yang berada diperairan laut yang dingin. Mereka adalah elemen yang mendominasi dalam flora pesisir dari Arktik dan Antartika laut, dan mereka merupakan unsur yang kurang mencolok dalam flora dan sebagai salah satuganggang yang menuju pada daerah tropis. Namun, dari ganggang coklat tertentu, terutama dictyotales dan Sargassum, yang hidup di air hangat pada tanaman. Banyak dari spesies ganggang laut yang tumbuh melekat pada batu. Spesies lain tumbuh dalam hubungan dengan ganggang lainnya, baik sebagai epifit atau endophytes. Dalam banyak kasus, seperti myrionema strangulans Grevganggang coklat tumbuh hanya pada satu spesies saja. Ada zonasi vertikal yang berbeda dari ganggang coklat laut pada setiap stasiun yang diberikan. Banyak spesies tumbuh hanya di daerah intertidal dan bahkan di sini ada distribusi vertikal yang pasti. Para rockweeds (fucaceae) biasanya terbatas pada sabuk pesisir atas dan kelps (lamiriales) ke bagian paling bawah.

Struktur sel
Pada phaeophyta umumnya dapat ditemukan adanya dinding sel yang tersusun dari tiga macam polimer yaitu selulosa, asam alginat, fukan dan fukoidin. Algin dari fukoidin lebih kompleks dari selulose dan fukoidin lebih kompleks dari selulose dan gabungan dan keduanya membentuk fukokoloid. Dinding selnya juga tersusun atas lapisan luar dan lapisan dalam, lapisan luar yaitu selulosa dan lapisan dalam yaitu gumi. Tapi kadang-kadang dinding selnya juga mengalami pengapuran. Inti selnya berinti tunggal yang mana pana pada pangkal berinti banyak.
Dinding sel menyebabkan sel tidak dapat bergerak dan berkembang bebas, layaknya sel hewan. Namun demikian, hal ini berakibat positif karena dinding-dinding sel dapat memberikan dukungan, perlindungan dan penyaring (filter) bagi struktur dan fungsi sel sendiri. Dinding sel mencegah kelebihan air yang masuk ke dalam sel.Dinding sel terbuat dari berbagai macam komponen, tergantung golongan organisme.
Pada tumbuhan, dinding-dinding sel sebagian besar terbentuk oleh polimer karbohidrat (pektin, selulosa, hemiselulosa, dan lignin sebagai penyusun penting). Pada bakteri, peptidoglikan (suatu glikoprotein) menyusun dinding sel. Fungi memiliki dinding sel yang terbentuk dari kitin. Sementara itu, dinding sel alga terbentuk dari glikoprotein, pektin, dan sakarida sederhana (gula).



Reproduksi Phaeophyta

Perkembangbiakan pada Phaeophyta dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu terjadi secara aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual dengan pembentukan zoospora berflagela dan fragmentasi, sedangkan reproduksi seksual terjadi secara oogami atau isogami. Reproduksi seksual alga cokelat hampir serupa dengan pembiakan generatif tumbuhan tingkat tinggi. Contohnya adalah reproduksi pada Fucus vesiculosus. Selain berkembang biak secara aseksual dengan fragmentasi, Fucus vesiculosus juga berkembang biak dengan cara seksual dengan oogami.
Proses oogami adalah sebagai berikut. Ujung lembaran talus yang fertil membentuk reseptakel, yaitu badan yang mengandung alat pembiak. Di dalam reseptakel terdapat konseptakel yang mengandung anteridium yang menghasilkan sel kelamin jantan (spermatozoid) dan oogonium yang menghasilkan sel telur dan benang-benang mandul (parafisis).
Anteridium berupa sel-sel berbentuk jorong yang terletak rapat satu sama lain pada filamen pendek bercabang-cabang yang muncul dari dasar dan tepi konseptakel. Tiap anteridium menghasilkan 64 spermatozoid. Oogonium berupa badan yang duduk di atas tangkai. Oogonium jumlahnya sangat banyak dan tiap oogonium mengandung 8 sel telur. Akan tetapi, hanya 40% dari sel telur yang dapat dibuahi dan hanya 1 atau 2 dari setiap 100.000 spermatozoid dapat membuahi sel telur. Zigot lalu membentuk dinding selulosa dan pektin, kemudian melekat pada suatu substrat dan tumbuh menjadi individu baru yang diploid.

1.        Turbinaria sp.
A.    Klasifikasi Turbinaria sp.  menurut Bold dan Wynne (1985):
Kingdom: Plantae
Divisi: Phaeophyta
Class: Phaseophyceae
Ordo : Fucales
Family : Sargassaceae
Genus : Turbinaria
Spesies : Turbinaria sp.

B.     Ciri Umum
Turbinaria sp. memiliki struktur thalus  agak keras atau kaku, tebal, serta  tubuh yang  tegak. Thalusnya bulat pada batang dan gepeng pada cabang. Perbedaan dengan jenis lainnya, jenis ini memiliki blade  yang umumnya seperti corong dengan pinggir bergerigi. Karakteristik jenis ini adalah pinggir bladeya membentuk bibir dengan bagian tengah blade melengkung ke dalam. Dapat hidup dalam kelompok kecil maupun ada dalam kelompok yang penyebarannya sangat luasSebagian besar berwarna cokelat kekuningan tetapi spesies yang kita temukan berwara cokelat tua kehitaman. Turbinaria sp. sudah memiliki bagian seperti tumbuhan tingkat tinggi yaitu memiliki holdfast (bagian menyerupai akar), stipe (bagian menyerupai batang) dan blade (bagian menyerupai daun).
Secara morfologi Turbinaria sp. hidup melekat pada batu dan kayu. Dapat juga sebagai spifit pada talus yang lain. Ganggang ini termasuk bentos. Pada umumnya memiliki warna kuning merah, cokelat dan abu-abu serta krem. Pada dinding bagian dalam terdiri atas selulosa dan sebelah luar terdiri atas pektin serta selnya hanya terdiri atas satu sel. Proses perkembangbiakannya secara generatif dengan oogami, tidak ada perkembangbiakan secara vegetatif. Anteridiumnya berupa sel yang mempunyai bentuk corong. Zigotnya membentuk selulosadan pektin, melekat pada substranya serta mampu tumbuh menjadi individu yang diploid. Ganggang ini lebih dominan hidup di air laut, akan tetapi ada beberapa jenis mampu hidup di air tawar.
C.     Pemanfaatan
Secara tradisional, Turbinaria sp. telah dikonsumsi sebagai sayuran yang  nilai ekonomisnya masih sangat rendah. Turbinaria sp. biasanya dieksport ke Filipina untuk diolah menjadi beraneka produk seperti sup, salad dan obat gondok. Turbinaria sp. mempunyai kandungan alginat dan iodine (Aslan, 1991; Tjitrosoepomo, 2005). Pemanfaatan alginat pada Turbinaria sp. seperti halnya pada Sargassum sp. Hasil penelitian Deslandes et al (2000) melaporkan bahwa adanya efek antikanker dari ekstrak hidroetanol makroalga Turbinaria ornata. Sheu et al., (1999) berhasil mengekstrak senyawa fukosterol dari makroalga Turbinaria conoides dengan aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker dalam jumlah yang cukup tinggi. Fukosterol merupakan steroid utama yang terkandung dalam rumput laut cokelat. Kandungan fukosterol sebanyak 83 hingga 98persen dari jumlah total sterol rumput laut (Sadish, 2009). Senyawa fukosterol telah mampu diekstraksi dari rumput laut jenis Turbinaria conoides menggunakan kromatografi.
Penelitian lainnya tentang Turbinaria sp. menyatakan bahwa spesies ini berpotensi dimanfaatkan sebagai antibakteri (Vijayabakar and Shiyamala, 2011; Kantida et al., 2012; Sridharan and Dhamotharan, 2012), antitumor (Fajarningsih et al.,2008), antifungi (Kumar et al., 2010; Kumari et al., 2011), antivirus (Kumar et al., 2009), antikoagulan (Manoj et al., 2013) dan antifouling (Kantida et al., 2012). Ekstrak Turbinaria sp. juga berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini telah dilakukan di Indonesia (Supriyono, 2007), India (Ananthi et al., 2010; Ananthi et al., 2011; Vijayabakar and Shiyamala, 2012), Hawai (Kelman et al., 2012) dan Thailand (Boonchum et al., 2011).
2.    Laminaria sp.
A.    Klasifikasi Laminaria sp.
Klasifikasi Menurut Bold (1978) Klasifikasi Laminaria adalah sebagai berikut:
Kingdom         : Plantae
Filum               : Heterokontophyta
Class                : Phaeophyceae
Ordo                : Laminariales
Famili              : Laminariaceae
Genus              : Laminaria
Spesies             : Laminaria sp.



B.     Ciri Utama
Laminaria adalah genus dari 31 spesies alga coklat (Phaeophyceae), nama umum nya "kelp". Beberapa spesies juga disebut sebagai kusut. Spesies ini merupakan ekonomis penting ditandai dengan panjang dan ukuran nya yang relatif besar. Spesies ini ditemukan di bagian utara Samudera Atlantik dan Samudra Pasifik bagian utara di kedalaman 8-30 m (26-98 ft) (sangat 120 m (390 kaki) di perairan hangat dari Laut Mediterania dan off Brazil). Siklus hidup dari genus melibatkan sistem generasi diploid. (Bold,1978)


C.     Pemanfaatan
Laminaria dapat digunakan untuk konsumsi manusia. Kandungan dalam Laminaria seperti alginates (32% D.W.), laminarin (18% D.W.),mannitol (14% D.W.), proteins (10% D.W., inci di asam amino taurine), fucoidan (4% D.W.); Fe, iodine; magnesium; Kalsium; fucoxanthin; beta-carotene. Berdasarkan kandungan tersebut Laminaria dapat dimanfaatkan dalam program diet sebagai makanan diet yang berkalori rendah dan bergizi tinggi. ( Jaspars dan Florence. 2013)

3.    Sargassum sp.
A.    Klasifikasi
Sargassum sp. adalah salah satu genus dari kelompok rumput laut coklat yang merupakan genera terbesar dari family sargassaceae. Klasifikasi Sargassum sp . (Anggadiredjaet al. 2006) adalah sebagai berikut :
Divisi   : Thallophyta
Kelas   : Phaeophyceae
Bangsa : Fucales
Suku    : Sargassaceae
Marga  : Sargassum
Jenis    : Sargassum sp.
Sargassum merupakan alga coklat yang terdiri dari kurang lebih 400 jenis di dunia. Jenis-jenis Sargassum sp yang dikenal di Indonesia ada sekitar 12 spesies, yaitu : Sargassum duplicatum, S. histrix, S. echinocarpum, S. gracilimun, S. obtusifolium, S. binderi, S.  olicystum, S. crassifolium, S. microphylum, S. aquofilum, S. vulgare, dan S. polyceratium(Rachmat, 1999). Bentuk Sargassum sp dapat dilihat pada Gambar 1.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhf2v5_HLhGlWp1lxHeWCeSEP2J0s9I9-_u2kWr3vqfJJ3uPDfeOYYGF-2jl6Ot1vGWvDYVLdt1d4vhZ3_DiRIcGdusXne_8HyDjUE2vaYJyM6pqyYkfqtQb82JUBgs2NsMfWha_sVjeQA/s1600/Picture4.png
Gambar 1. Rumput laut coklat (Sargassum sp)
B.     Ciri Utama
Sargassum sp. memiliki bentuk thallus gepeng, banyak percabangan yang menyerupai pepohonan di darat, bangun daun melebar, lonjong seperti pedang, memiliki gelembung udara yang umumnya soliter, batang utama bulat agak kasar, dan holdfast (bagian yang digunakan untuk melekat) berbentuk cakram. Pinggir daun bergerigi jarang, berombak, dan ujung melengkung atau meruncing (Anggadiredja et al., 2008). Sargassum biasanya dicirikan oleh tiga sifat yaitu adanya pigmen coklat yang menutupi warna hijau, hasil fotosintesis terhimpun dalam bentuk laminaran dan alginat serta adanya flagel (Tjondronegoroet al., 1989).
Sargassum tersebar luas di Indonesia, tumbuh di perairan yang terlindung maupun yang berombak besar pada habitat batu. Di Kepulauan Seribu (Jakarta) alga ini biasa disebut oseng. Zat yang dapat diekstraksi dari alga ini berupa alginat yaitu suatu garam dari asam alginik yang mengandung ion sodium, kalsium dan barium (Aslan, 1999). Pada umumnyaSargassum tumbuh di daerah terumbu karang (coral reef) seperti di Kepulauan Seribu, terutama di daerah rataan pasir (sand flat). Daerah ini akan kering pada saat surut rendah, mempunyai dasar berpasir dan terdapat pula pada karang hidup atau mati. Pada batubatu ini tumbuh dan melekat rumput laut coklat (Atmadja dan Soelistijo, 1988).
Rumput laut jenis Sargassum umumnya merupakan tanaman perairan yang mempunyai warna coklat, berukuran relatif besar, tumbuh dan berkembang pada substrat dasar yang kuat. Bagian atas tanaman menyerupai semak yang berbentuk simetris bilateral atau radial serta dilengkapi bagian sisi pertumbuhan. Umumnya rumput laut tumbuh secara liar dan masih belum dimanfaatkan secara baik. Rumput laut coklat memiliki pigmen yang memberikan warna coklat dan dapat menghasilkan algin atau alginat, laminarin, selulosa, fikoidin dan manitol yang komposisinya sangat tergantung pada jenis (spesies), masa perkembangan dan kondisi tempat tumbuhnya (Maharani dan Widyayanti 2010).
C.     Pemanfaatan
Rumput laut (sargassum sp.) telah lama dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan obat. Sebagai sumber gizi, rumput laut memiliki kandungan karbohidrat (gula atau vegetable-gum), protein, sedikit lemak, dan abu yang sebagian besar merupakan senyawa garam natrium dan kalium. Selain itu, rumput laut juga mengandung vitamin-vitamin, seperti A,B1,B2,B6,B12, dan C; betakaroten; serta mineral, seprti kalium, kalsium, fosfor, natrium, zat besi, dan yodium. Hidrokoloid dari Rumput laut (Karaginan, Agar dan Alginat) sangat diperlukan mengingat fungsinya sebagai gelling agent, stabilizer, emulsifier agent, pensuspesi, pendispersi yang berguna dalam berbagai industri seperti industri makanan, minuman, farmasi dan kosmetik, maupun industri lainnya seperti cat tekstil, film, makanan ternak, keramik, kertas, fotografi dan lain- lain.
Beberapa manfaat dari Sargassum sp. adalah dapat dijadikan sebagai bahan makanan, minuman, obat-obatan, cat, kertas, bahan bakar, dan lain-lain. Komposisi kimia yang terdapat pada sargassum sp. antara lain Karbohidrat, Protein, Lemak, Air, dan Abu. Cara memanfaatkan sargassum sp. untuk dijadikan bahan bakar adalah dengan cara Fermentasi yang nantinya akan menghasilkan bahan bakar berupa biogas dan bioethanol. Ekstrak alga coklat (Sargassum sp.) dapat menghambat bakteri E. coli 107 sel/ml dan konsentrasi ekstrak Sargassum sp. yang dapat menghambat E. coli 107 sel/ml sesuai standard antibiotika adalah konsentrasi 80%, 90% dan 100% dengan diameter hambat 13 mm (cukup peka), 15,7 mm dan 18,6 mm (sangat peka)(Bachtiar et al, 2012).

4.      Dictyota sp.
A.    Klasifikasi
Divisi          : Phaeophyta
Kelas          : Phaeophyceae
Bangsa        : Dictyotales
Suku           : Dictyotaceae
Marga         : Dictyota
Spesies        : Dictyota sp.

B.     Ciri Utama
Dictyota (D. bartayresiana), tumbuh menempel pada batu karang mati di daerah rataan terumbu. Warnanya coklat tua dan mempunyai thallus bercabang yang terbagi dua. Thallus yang pipih dan lebarnya 2 mm, tersusun atas tiga lapis sel. Lapisan tengah yang terdiri dari sel yang besar diapit oleh dua lapisan atas dan bawah yang terdiri dari sel yang sangat kecil. Alga ini mempunyai bagian berbentuk silindrik yang menyerap dan mempunyai alat perekat dalam bentuk sebundel benang-benang yang bentuknya seperti rambut. Thallusnya menghasilkan cabang lateral yang dapat lepas untuk membentuk alga baru yang bebas dalam perkembangbiakan vegetatif.

C.     Pemanfaatan
Rumput laut dari divisi Phaeophyta yang diperoleh dari ke dua pantai tersebut yang berpotensi sebagai obat diantaranya marga Padina, Dictyota  dan Sargassum.  Padina dan Dictyota diketahui mempunyai aktivitas antibakteri, sedangkan aktivitas antitumor dimiliki oleh Dictyopteris. Marga dari Sargassum diketahui mempunyai aktivitas antibakteri, antitumor, menurunkan tekanan darah tinggi dan gangguan kelenjar gondok (Atmadja et al. 1990).  Substansi dari S. duplicatum adalah efektif dalam meningkatkan efektivitas serum lipolitik.  Substansi hypoglyemic mampu menurunkan gula darah sebesar 17%, dan dalam jumlah prosentase tertentu menunjukkan aktivitas antilipemic (Hope et al.  1979).
5.      Padina sp.
A.    Klasifikasi
Klasifikasi dari Padina sp. :
Kingdom : Plantae
Divisi : Phaeophyta
Class : Phaeophyceae
Ordo : Dictyotales
Famili : Dictyotaceae
Genus : Padina
Spesies : Padina sp.
B.     Ciri Utama
Menurut (Karmana, 1987) Padina sp. adalah alga berdevisi Phaeophyta yang bisa dibedakan dari sisi – sisi sebagai berikut :
Morfologi
Padina sp. memiliki berbentuk seperti batang, berdaun banyak atau seperti pedang, berbentuk seperti kipas dan mempunyai warna cokelat. Akarnya berbentuk serabut yang disebut holdfast untuk menempel kuat pada substrat sehingga dapat digunakan untuk beradaptasi terhadap gerakan ombak pada daerah intertidal.
Anatomi
Kromatofora berwarna cokelat pada padina sp karena banyak mengandung pigmen fotosintetik fukosantin, disamping klorofil a. selnya berflagel dua, tidak sama panjang. Di bagian yang menyerupai kipas terdapat garis-garis horisontal yang disebut garis konsentris. Di ujung daun terdapat penebalan yang disebut penebalan gametangia yang berfungsi sebagai reproduksi gamet dan pelindung daerah pinggiran daun agar tidak sobek karena ombak besar pada zona pasang-surut. (Hoek, 1995).
Reproduksi
Padina sp.  mempunyai bulu cambuk dan sporangium beruang satu dan transparan, biasanya berkembangbiak secara aseksual dengan oogonium. Satu oogonium merupakan satu sel telur dan gamet jantan mempunyai satu bulu cambuk yang terdapat pada sisinya. Fase hidup yang dilalui Padina adalah fase gametofit dan sporofit yang bergilir dan beraturan.

C.     Pemanfaatan
Peranan Padina sp. sendiri ini banyak digunakan untuk bahan kosmetik dan obat-obatan. Beberapa aspek potensial dari rumput laut jenis Padina sp. yang pernah diteliti antara lain kajian potensi antibakteri dan antioksidan (Hongayo et al, 2012). Penggunaan ekstraknya sebagai antibakteri terhadap pengendalian bakteri vibrio (Salosso dkk, 2011). Dilain tempat bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Masyarakat di daerah kepulauan Riau, Lampung selatan, Jawa selatan, serta sumbawa menggunakannya sebagai bahan makanan (Poncomulyo dkk.














BAB III
PENUTUP

A.     KESIMPULAN
Divisi Phaeophyta adalah salah satu ganggang yang tersusun atas zat warna atau pigmentasinya. Phaeophyta ini berwarna coklat karena mengandung pigmen xantofis. Bentuk tubuhnya seperti tumbuhan tinggi. . Sel vegetatif mengandung kloroplas berbentuk bulat panjang, seperti pita, mengandung klofil serta xantofil. Kloroplas berbentuk bulat, bulat panjang, seperti pita; mengandung khlorofil a dan khlorofil c serta beberapa santofil misalnya fukosantin. Cadangan makanan berupa laminarin dan manitol.
Pemanfaatan dari Phaeophyta antara lain Turbinaria sp. dapat dimanfaatkan untuk bahan makanan, Laminaria sp. dapat digunakan sebagai bahan makanan untuk diet, Sargassum sp. dapat digunakan sebagai bahan baku obat, Dictyota sp. untuk bahan anti bakteri, dan Padina sp. dapat digunakan sebagai bahan baku kosmetik.

B.      SARAN
Kelestarian ekosistem laut merupakan tanggung jawab kita bersama, maka dari itu jagalah ekosistem laut agar pemanfaatannya dapat dikembangkan sehingga membantu kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. 











Daftar Pustaka
Ananthi, S., V. Gayathri., C. Chandronitha., R. Lakshmisundaram and H. R. Vasanthi. 2011. Free Radical Scavenging and Anti-Inflammatory Potential of Marine Brown Alga Turbinaria ornata (Turner) J. Agardh. Indian Journal of Geo-Marine Science, 40 (5) : 664-670.
Anggadireja, J Zatnika, Purwoto H, Istini S. 2006. Rumput Laut. Jakarta : PenebarSwadaya. hal. 39-47.
Aslan, L. M. 1991. Budidaya Rumput Laut. Kanisius, Yogyakarta.
Atmadja WS, Soelistijo. 1988. Beberapa aspek vegetasi dan habitat tumbuhan laut bentik di pulau-pulau Seribu. Jakarta : Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi-LIPI.
Fajarningsih, N. D., M. Nursid, T. Wikanta dan E. Marraskuranto. 2008. Bioaktivitas Ekstrak Turbinaria decurrens sebagai Antitumor (HeLa dan T47D) serta Efeknya terhadap Proliferasi Limfosit. Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan
Hoek, et al. 1995. Algai in Introduction to Phycology. New York. Cambridge University Press.
Kantida, S. R., K. R. T. Asha and S. Sujatha. 2012. Influence of Bioactive Compounds of Seaweeds and Its Biocidal and Corrotion Inhibitory Effect of Mild Steel. Research Journal of Environmental Toxicology, 6 (3) : 101-109.
Kelman, D., E. K. Posner, K. J. McDermid, N. K. Tabandera, P. R. Wright and A.D. Wright. 2012. Antioxidant Activity of Hawaiian Marine Algae. Marine Drugs, 10 : 403-416.
Kumar, S. S., Y. Kumar, M. S. Y. Khan, J. Anbu and E. De Clercq. 2009. Antihistaminic, Anticholinergic and Antiviral Activities of Fucosterol from Turbinaria conoides (J. Agardh) Kutzing. Pharmacologyonline, 1 : 1104-1112.
Kumar, S. S., Y. Kumar, M. S. Y. Khan and V. Gupta. 2010. New Antifungal Steroids from Turbinaria conoides (J. Agardh) Kutzing. Natural Product Resource, (abstract).
Kumari, S. S., S. V. S. Rao, S. Misra and U. S. Murty. 2011. Antifungal Activity of Turbinaria conoides and Evaluation for The Effective Concentration Against The Infection of Beaveria bassiana in Silkworm Larvae. Research Journal of Microbiology, 6 (2) : 115-123.
Manoj, S. G. M., K. P. S. Mahesh, M. Vasanthi and A. Achary. 2013. Anticoagulant Property of Sulphated Polysaccharides Extracted from Marine Brown Algae Collected from Mandapam Island, India. African Journal of Biotechnology, 12 (16) : 1937-1945.
Poncomulyo; Taurino; Maryani, Herti; Kristiani, Lusi;, 2006.Budidaya dan Pengolahan Rumput Laut. AgroMedia Pustaka, Jakarta.
Pratiwi, Sylvia. 2005. Mikrobiologo Farmasi. Jakarta: Erlangga
Rahcmat R. 1999. Kandungan dan karakteristik fisiko kimia alginat dari Sargassum sp. yang dikumpulkan dari perairan Indonesia. Jakarta : Laboratorium Produk Alam Laut, Puslitbang Oseanologi LIPI.
Sadish K, dkk. 2009. Anthistaminic, Anticholinergic and Antiviral Activities of Fucosterol from Turbinaria conoides (J.Agardh) kutzing. Pharmacologyne. 1: 1104-1112.
Salosso, Y; Prajitno, A. ; Abadi, A.L. ; Aullanni’am. 2011.Kajian Potensi Padina australis Sebagai Antibakteri Alami dalam Pengendalian Bakteri Vibrio alginolitycus Pada Budidaya Ikan Kerapu Tikus (Cromeleptus altivelis).Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya; Malang.
Sheu, J.H, et al. 1999. New cytotoxic oxygenated fucosterols from the brown alga Turbinaria conoides. J. Of. Prod. 63(2):224-227.
Sridharan, M. C and R. Dhamotharan, 2012. Antibacterial Activity of Marine Brown Alga Turbinaria conoides. Journal of Chemical and Pharmaceutical Research, 4 (4) : 2292-2294.
Supriyono, A. 2007. Aktivitas Antioksidan Beberapa Spesies Rumput Laut dari Pulau Sumba. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia, 9 (1) : 34-38. Tjitrosoepomo, G. 2001. Taksonomi Tumbuhan : Schizophyta, Thallophyta, Bryophyta dan Pteridophyta. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Tjondronegoro PD, Natasaputra M, Kusumaningrat T, Gunawan AW, Jaelani M,Suwanto A. 1989. Botani Umum II . Bogor: Pusat Antar Universitas IlmuHayat, Institut Pertanian Bogor .
Vijayabakar, P. and V. Shiyamala. 2011. Antibacterial Activities of Brown Marine Algae (Sargassum wightii and Turbinaria ornata) from The Gulf of Mannar Biosphere Reserve. Advances in Biological Research, 5 (2) : 99-102.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar