Minggu, 03 September 2017

Laporan Pengolahan Hasil Perikanan (Kunjungan UKM)



LAPORAN PRAKTIKUM
PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN
 KUNJUNGAN UKM



Disusun oleh :
Haditiya Rayi Setha Ahmad
13/349901/PN/13308
Golongan B


LABORATORIUM TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN
 DEPARTEMEN PERIKANAN
FAKUTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016
I.                   PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Ikan merupakan sumber bahan pangan yang bermutu tinggi, terutama karena banyak mengandung protein yang sangat dibutuhkan manusia. Hasil perikanan merupakan komoditas yang mudah sekali mengalami kemunduran mutu dan membusuk (perishable food). Proses kemunduran mutu pada ikan terutama disebabkan oleh kegiatan enzim, perombakan oleh bakteri dan oksidasi. Kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh ikan telah dirasakan sangat menghambat usaha pemasaran hasil perikanan dan tidak jarang menimbulkan kerugian besar, terutama pada saat produksi ikan melimpah (Afrianto dan Liviawaty, 1991).
Pengolahan dan pengawetan merupakan cara untuk mempertahankan daya awet ikan dan kandungan nilai gizinya. Selain meningkatkan daya simpannya, pengolahan ikan juga bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomis ikan. Salah satu usaha untuk meningkatkan nilai ekonomis ikan adalah dengan cara diversifikasi pengolahan hasil perikanan untuk menciptakan produk-produk perikanan yang dapat menarik minat masyarakat dalam mengkonsumsinya.
Usaha kecil menengah (UKM) merupakan salah satu unit usaha kecil ditengah masyarakat. Usaha tersebut dapat memproduksi suatu produk dan dapat juga bergerak di bidang perikanan. UKM yang bergerak dibidang pengolahan hasil perikanan dapat menghasilkan produk perikanan yang memiliki nilai tambah (value added), sehingga nilai jualnya menjadi meningkat. UKM yang bergerak dibidang pengolahan hasil perikanan mempunya fungsi penting dalam menekan kerusakan dan kehilangan, meningkatkan kualitas produk, penyedia pasokan pangan dan gizi masyarakat, penyedia lapangan kerja, meningkatkan daya saing, mendorong perkembangan industry pangan dan non pangan untuk memanfaatkan hasil perikanan (Sahubawa dan Ustadi, 2014).
Pengolahan dan diversivikasi produk perikanan banyak dilakukan oleh Usaha Kecil Menengah terutama di Yogyakarta. Menurut Amrulloh (2006), Usaha Kecil Menengah (UKM) merupakan salah satu sektor ekonomi yang peranannya sangat besar terhadap perekonomian di Indonesia terutama dalam penyerapan tenaga kerja. Mahasiswa teknologi hasil perikanan pada umumnya mempelajari secara teori di perkuliahan dan sedikit praktek yang dilakukan saat praktikum, oleh karena itu perlu dilakukan kunjungan UKM agar mahasiswa lebih mengetahui bagaimana proses pengolahan hasil perikanan.
B.     Tujuan
1.      Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami proses pengolahan ikan secara tradisional di UKM Mino Ngudi Lestari dan UKM Bandeng Presto Pak Leo
2.      Membandingkan pengolahan ikan tradisional yang ada di UKM Mino Ngudi Lestari dengan UKM Bandeng Presto Pak Leo.
C.     Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari                             : Sabtu, 14 Mei 2016
Waktu                         : 08.00 WIB – selesai
Tempat Pelaksanaan    : UKM Bandeng Presto Pak Leo dan UPI Mino Ngudi Lestari

II.                METODE PRAKTIKUM
A.    Alat dan Bahan
1.      Alat
a)      Alat tulis
b)      Kamera
c)      Alat transportasi
d)     Snack
2.      Bahan
-
B.     Cara Kerja
Praktikan berkunjung ke tempat UKM dengan didampingi asisten dan mengadakan sesi tanya jawab kepada pemilik UKM serta melihat langsung proses pengolahan produk apabila produksi sedang berlangsung

III.             PEMBAHASAN
A.    UPI Mino Ngudi Lestari (NINAJO)
NINAJO berdiri pertengahan tahun 2012 tepatnya 2 hari sebelum puasa Ramadhan. NINAJO merupakan singkatan dari “Nila Nayan Jogja”, Nayan merupakan nama tempat di mana NINAJO didirikan yang sebagian besar masyarakatnya membudidayakan ikan nila. Awal pendirian NINAJO terdapat 20 orang pekerja perempuan yang dikelola oleh Pak Heru dengan pemilik Koperasi Mino Ngudi Lestari. Semakin lama, karyawan yang tetap bekerja sebanyak 5 orang yang merupakan seleksi alam dikarenakan setiap proses harus kontak langsung dengan air. Tenaga kerja berjumlah 5 orang ini memberikan hasil yang dapat dimaksimalkan dan lebih efektif waktunya.
Awalnya NINAJO mengolah keripik nila yang bahan bakunya didapat dari masyarakat sekitar dan ikan konsumsi beku dari fillet daging ikan yang dibekukan. Ikan konsumsi beku memiliki pangsa pasar yang bagus dan pernah ditawari untuk bekerjasama dengan Solaria namun ada beberapa kendala. Kendala ikan konsumsi beku adalah bahan baku yang tidak stabil jumlahnya, kualitas daging ikan yang tidak sama yang dipengaruhi oleh faktor budidaya dan permintaan yang cukup banyak. Contohnya ikan hasil budidaya di waduk memiliki rendemen yang rendah dan lengket di penggorengan ketika di proses sehingga tidak memenuhi standar kriteria dari Solaria. Hal tersebut dapat dimungkinkan terjadi karena penggunaan pakan apung dalam pembesarannya, sehingga ikan mengandung lemak yang tinggi. NINAJO sebagai UKM telah memiliki perijinan seperti Ijin Dinas Kesehatan (PIRT) dan sertifikat halal dari MUI. Perijinan yang diperoleh memberikan banyak manfaat selain pendampingan dan pembinaan juga kepercayaan konsumen untuk tetap membeli produk olahan dari NINAJO. Produk olahan NINAJO dipasarkan di Plaza Agro, toko di Condong Catur dan dengan cara roda tiga oleh ibu-ibu sekitar NINAJO serta dengan pameran. Keuntungan yang diambil oleh NINAJO setiap produk olahannya adalah 25-30% sedangkan pembayaran tenaga kerja menggunakan variable cost selama produksi.
Produk yang dihasilkan dari NINAJO ini antara lain keripik nila, stick duri, dan fillet nila. NINAJO sampai tahun 2013 masih eksis dengan fillet nilanya, namun pada pertengahan 2013 mengalami permasalahan yaitu rendemen fillet yang kurang maksimal dan hasil yang diperoleh kurang bagus sehingga menimbulkan tanggungan limbah. Limbah ikan nila pernah dibuat untuk stick duri dengan ditambah variasi sayur dan keripik kepala ikan sangat diminati saat pameran namun kurang diminati oleh pasaran.
Salah satu produk yang dihasilkan di NINAJO ini adalah keripik nila. Pembuatan keripik nila menggunakan bahan baku yang diperoleh dari pembenih di sekitar Kalasan, Berbah dan Cangkringan dengan ukuran sekitar 100-200 ekor/kg atau ukuran 9-12 cm. Nila yang telah diterima dimasukkan ke dalam bak penampungan dan dilakukan pemberokan. Hari pertama, nila yang diperoleh dilakukan grading berdasarkan ukuran sembari diberi es untuk mematikan ikan dan selanjutnya dilakukan penimbangan. Nila selanjutnya dicuci untuk menghilangkan kotoran yang menempel dan dilakukan penyiangan untuk membersihkan jeroan kemudian dicuci kembali untuk membersihkan ikan dari segala kotoran yang masih menempel. Selama proses dilakukan pemberian es atau rantai dingin untuk menjaga kesegaran ikan. peneraoan rantai dingin dan prinsip penanganan yang cepat, tepat, bersih, sehat dan dingin bertujuan mencegah kemunduran mutu ikan (Vatria, 2010). Hari kedua, nila yang sudah dibersihkan dilakukan marinasi atau pemberian bumbu-bumbu dan disimpan di chiller selama 24 jam agar bumbu dapat meresap masuk sempurna dalam daging. Hari ketiga, nila yang sudah dimarinasi dilakukan penepungan dan penggorengan tahap pertama. Penggorengan kedua dilakukan pada hari ketiga untuk memberikan tekstur yang renyah dan crispy kemudian ditiriskan dan didinginkan. Keripik nila disortasi dan penimbangan untuk selanjutnya dilakukan pengemasan dan labeling sesuai dengan berat ikan. bahan baku yang mahal serta proses yang lama membuat keripik nila yang dihasilkan oleh UKM Mino Ngudi Lestari memiliki biaya operasional yang tinggi, namun harga jual tidak bisa tinggi karena biasanya digunakan sebagai oleh-oleh.
Penerapan sanitasi dan hygiene di NINAJO sudah tergolong baik. Hal tersebut dapat dilihat pada proses produksi yang telah menggunakan konsep rantai dingin atau cold chain. Sistem rantai dingin yang diberikan dapat mengurangi resiko pembusukan dan penurunan mutu karena aktivitas mikrobiologis dan reaksi enzimatis (Fitriya, 2014). Penanganan tersebut sesuai dengan pustaka yaitu dengan penerapan system rantai dingin (cold chain system).  Selama proses produksi sudah dilakukan dengan cepat cermat dan saniter karena tenaga kerjanya memakai perlengkapan pakaian seperti penutup rambut, masker, apron dan boot. Penggunaan perlengkapan tersebut untuk meminimalisir terjadinya kontaminasi pada produk baik fisik, kimia ataupun mikrobiologi.
B.     UKM Bandeng Presto Pak Leo
UKM Bandeng Presto Pak Leo merupakan usaha pengolahan ikan bandeng presto di Godean sejak tahun 2003 yang dikelola oleh Pak Leo dan Ibu Heni. Setiap harinya UKM Bandeng Presto Pak Leo mengolah 150 kg ikan bandeng yang dipasarkan di pasar Gamping, Kranggan, Kotagede dan Serangan. Keuntungan bersih dari bandeng presto setiap harinya adalah Rp. 100.000,00.
Produk olahan UKM Bandeng Presto Pak Leo adalah ikan bandeng dan ikan pindang. Daging ikan bandeng dikenal gurih, beraroma khas dan berwarna putih namun duri halusnya banyak sehingga menyebabkan permasalahan apabila dikonsumsi. Untuk mengatasi hal ini, ikan bandeng diolah menggunakan pemasakan bertekanan untuk memperoleh produk ikan bandeng yang mempunyai tulang lunak yang dikenal sebagi bandeng presto. Menurut Murniyati dan Sunarman (2000), pemindangan merupakan perebusan ikan yang dilakukan dengan penggaraman, sedangkan ikan yang direbus dengan garam merupakan ikan pindang.
Proses pembuatan bandeng presto dilakukan dengan melakukan penyortiran terebih dahulu berdasarkan ukuran ikan kemudian dilakukan penimbangan sehingga didapatkan jumlah ikan dan jumlah berat yang sesuai perancaknya. Ikan diambil jerohan dan dibersihkan kotoran yang menempel untuk menjaga kualitas produk yang dihasilkan. Tujuan pencucian adalah menghilangkan kotoran, lendir, isi perut dan insang yang meupakan sumber kontaminasi bakteri yang dapat menyebabkan penurunan mutu (Vatria, 2010).
Ikan yang telah bersih ditambahkan garam sesuai dengan ukurannya dengan cara dimasukkan ke dalam perutnya agar garam dapat merata pada tubuh ikan. garam yang dibutuhkan untuk 150 kg ikan adalah 5 kg garam atau berkisar 3,33% garam dari berat ikan. Garam berfungsi memberikan rasa gurih pada ikan, menurunkan kadar cairan dalam tubuh ikan dan mencegah atau menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk atau organisme lain (Afrianto dan Liviawaty, 1991). Ikan yang telah diberi garam dibungkus dengan kertas dan selanjutnya ditata diatas ancak untuk dimasukkan ke dalam suatu wadah tertutup dan bertekanan selama 3 jam. Pemasakan dilakukan menggunakan kayu sehingga sumber panas dapat stabil. Setelah 3 jam, bandeng ditiriskan dan didinginkan untuk mengurangi kadar air dan menjaga keutuhan bandeng presto.
Penerapan sanitasi dan hygiene di UKM ini masih belum baik. Hal tersebut dapat dilihat dari kondisi lingkungan pengoahan yang tidak rapi dan sangat kotor. Banyak sekali sampah berserakan di area proses produksi. Lingkungan yang tercemar dapat menimbulkan kontaminasi pada produk perikanan (Sahubawa dan Ustadi, 2014). Hal lainnya di UKM ini belum menerapkan sistem rantai dingin pada saat penyiangan ikan agar ikan tidak mudah busuk dan terserang mikroba. Selain itu, masih banyak pekerja yang kurang mengetahui mengenai sanitasi dan hygiene, hal tersebut dapat dilihat masih banyak pekerja yang merokok di area produksi yang dapat merusak mutu dari olahan yang dihasilkan.
Dari kedua UKM yang telah dikunjungi, terdapat perbedaan yang sangat mencolok dalam hal penerapan sanitasi dan hygiene nya. Pada UKM NINAJO sudah menerapkan sistem rantai dingin untuk memperlambat proses pembusukan ikan, selain itu juga pada ruang produksi sudah menggunakan curtain untuk meminimalisir kontaminan. Para pekerja di NINAJO juga sudah dibekali perlengkapan untuk meminimalisir kontaminasi mikrobiologi seperti penutup rambut, masker, apron dan boot. Sedangkan di UKM Bandeng Presto Pak Leo masih banyak kekurangan dalam penerapan sanitasi dan hygiene nya. Hal tersebut dapat dilihat dari kondisi lingkungan yang tidak rapi dan terkesan kotor untuk area produksi. Lalu tidak diterapkannya sistem rantai dingin dalam proses produksinya yang dapat mempercepat proses kemunduran mutu ikan, selain itu juga para pekerja yang belum terlalu paham mengenai sanitasi dan hygiene. Para pekerja masih banyak yang merokok di area produksi, padahal hal tersebut dapat mempengaruhi mutu dari produk olahan yang dihasilkan. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa UKM NINAJO lebih baik dibandingkan UKM Bandeng Presto Pak Leo dalam hal penerapan sanitasi dan hygiene.



IV.             PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.     Saran



DAFTAR PUSTAKA
Afrianto, E. dan Evi Liviawaty. 1991. Pengawetan dan Pengolahan Ikan. Penerbit Kasinius, Yogyakarta.
Amrulloh, Taufiq. 2006. Analisis Pengaruh Pembangunan Infrastruktur Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Regional di Indonesia (8 Provinsi di Sumatera). Fakultas Ekonomi. Universitas Indonesia, Jakarta.
Fitriya, Wahdan. 2014. Bahan Ajar 2014: Kuliah Penanganan Hasil Perikanan. Fakultas Pertanian. UGM. Yogyakarta.
Murniyati, A.S. dan Sunarman. 2000. Pendinginan Pembekuan dan Pengawetan Ikan. Kanisius, Yogyakarta.
Sahubawa, L. dan Ustadi. 2014. Teknologi Pengawetan dan Pengolahan Hasil Perikanan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Vatria, B. 2010. Pengolahan ikan bandeng (Chanos chanos) tanpa duri. Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Rekayasa 18 – 23.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar