ESTIMASI POPULASI
GASTROPODA DAN MAKROBENTOS
Haditiya Rayi
Setha Ahmad
13/349901/PN/13308
Teknologi Hasil
Perikanan
Intisari
Tingkat
keanekaragaman organisme perairan yang ada di lingkungan perairan dapat menjadi
indikator pencemaran keadaan lingkungan perairan tersebut. Gastropoda meliputi
siput dan mollusca lain yang memiliki satu cangkang melingkar. Umumnya
gastropoda tersebar di habitat air tawar dan laut. Gastropoda ini berkaitan
erat dengan tingkat ke suburan perairan, karena gastropoda memiliki toleransi
tinggi terhadap perubahan zat kimia yang ekstrim di lingkungan perairan dan
hidup pada nilai parameter perairan yang baik. Sehingga gastropoda sebagai
indikator bahwa perairan subur. Praktikum kali ini bertujuan untuk mempelajari
penerapan metode plot untuk mengestimasi populasi makrobentos dan tanpa plot
(plotless) untuk mengestimasi populasi gastropoda dan juga mempelajari korelasi
antara beberapa tolok ukur lingkungan dengan populasi makrobentos. Metode plot less adalah salah satu cara mengestimasi gastropoda dengan
menancapkan tongkat
secara random di dasar air dan diukur gastropoda
di sekitar
tongkat, mulai dari jarak terdekat. Praktikum acara estimasi populasi
gastropoda ini dilakukan pada hari Kamis tanggal 10 April 2014 pukul 13.30
sampai selesai di Sungai Winongo, Sleman, Yogyakarta. Sungai dibagi menjadi 3
stasiun yaitu stasiun 1 (hulu), stasiun 2 tengah, dan stasiun 3 (hilir). Kemudian
di setiap stasiun dilakukan pengamatan menggunakan parameter lingkungan yaitu
parameter fisik (suhu air dan udara, kecepatan arus debit air), parameter kimia
(pH, DO,CO2 bebas, alkalinitas), dan parameter biologi. Dari hasil pengamatan
didapat hasil bahwa stasiun 1 adalah stasiun terbaik dengan tingkat diversitas tertinggi
yaitu 1,92 idv/m2.
Kata kunci : estimasi,
gastropoda, parameter, perairan, plotless, populasi
PENDAHULUAN
Keanekaragaman gastropoda
dan makrobentos merupakan parameter biologi utama yang menunjukkan apakah
ekosistem suatu sungai itu tercemar atau tidak (Azwir,2006). Hewan makrobentos memegang
peranan penting dalam ekosistem dan menduduki beberapa tingkat trofik pada
rantai makanan. Peranan
penting
tersebut
karena mampu mengubah materi-materi aukholon dan alokholon sehingga memeudahkan mikroba-mikroba menguraikan materi organic menjadi anorganik yang merupakan nutrient bagi
produsen
perairan (Ali, 2008).
Ekosistem sungai memiliki
luas wilayah yang lebih kecil jika dibandingkan dengan ekosistem laut. Namun
ekosistem sungai memiliki variasi organisme yang cukup besar. Kehidupan pada
ekosistem sungai berada pada permukaan, badan sungai, bahkan pada dasar sungai
yang padat. Organisme yang hidup di dasar perairan hanyalah organisme yang
mampu bertahan hidup dengan jumlah nutrien yang terbatas, yang bersifat
bartoleran (Isnaeni, 2002).
Pencemaran di beberapa daerah akibat
limbah industri dan rumah tangga seringkali menjadi penyebab menurunnya jumlah
makrobentos serta organisme lainnya dalam perairan. Gastropoda sebagai
indikator perairan yan mempunyai sifat kosmopolit, dapat menjadi parameter
sejauh mana tingkat pencemaran limbah-limbah tersebut terhadap perairan.(Handayani,2001).
Sebagaimana
kehidupan biota lainnya penyebaran jenis dan populasi komunitas bentos
ditentukan oleh sifat fisik, kimia, biologi perairan. Sifat fisik perairan
seperti kedalaman, kecepatan arus, warna, kecerahan, dan suhu air. Sifat kimia
antara lain kandungan gas terlarut, bahan organik, pH, kandungan hara. Faktor
biologi adalah komposisi jenis hewan dalam perairan (Setyobudiandi, 1997).
Tujuan
praktikum ini adalah mempelajari penerapan metode plot untuk mengestimasi
populasi makrobentos dan tanpa plot untuk mengestimasi populasi gastropoda dan
mempelajari korelasi antara beberapa tolokukur lingkungan dengan populasi
gastropoda.
METODE
Praktikum
ekologi perairan acara estimasi populasi gastropoda dan makrobentos dilaksanakan
pada hari Kamis tanggal 10 April 2014 pukul 13.30-selesai. Praktikum dilakukan
di Sungai Winongo, Sleman, Yogyakarta. Dalam praktikum kali ini digunakan metode
yang digunakan adalah metode plot dan plotless. Metode plotless adalah metode dengan
cara menancapkan tongkat sebagai titik pengambilan cuplikan makrobentos secara
acak. Karena hanya parameter biologi yang difokuskan pada praktikum ini, jadi
lebih memperhatikan densitas populasi gastropoda. Metode plot adalah metode
dengan menggunakan plot berbentuk persegi untuk mengambil cuplikan makrobentos
secara acak.
Bahan
yang digunakan pada praktikum kali ini adalah pH meter, larutan MnSO4, larutan
reagen oksigen, larutan H2SO4 pekat, larutan 1/80N Na2S2O3, larutan 1/44N NaOH,
larutan 1/50 H2SO4, larutan indikator amilum, larutan indikator Phenophphtalein
(PP), larutan indikator Methyl Orange (MO), dan larutan formalin 4%. Alat yang
dipergunakan adalah tongkat kecil, bola tenis meja, stopwatch, roll meter,
meteran, thermometer, botol oksigen, erlenmeyer, gelas ukur, pipet ukur, pipet
tetes, kertas label, dan pensil.
Percobaan
ini menggunakan metode plotless yang terdiri atas beberapa tahapan. Padamulanya, praktikum dimulai dengan menentukan lokasi penelitian, setelah itu menentukan titik pengambilan secara acak kemudian dicari gastropoda pada jarak terdekat dengan tongkat yang ditancapkan pada lokasi penelitian. Setelah itu, jarak antara gastropoda dan tongkat yang ditancapkan diukur dan dicatat kemudian dihitung kerapatan (densitas) dari gastropoda dengan rumus seperti berikut :
S : Jumlah titik cuplian yang diambil
X : Jarak terdekat gastropoda dengan
titik yang ditentukan secara acak
Y : Luas area kajian.
Kemudian dilanjutkan dengan
menghitung parameter lingkungan. Pada praktikum ini mencangkup parameter
fisika, kimia, dan biologi. Parameter fisika meliputi kecepatan arus, suhu air,
dan suhu udara. Untuk parameter kimia berupa pH, kadar O2 (DO) terlarut,
karbondioksida bebas, alkalinitas.
Untuk mengukur
kandungan O2 terlarut digunakan metode Winkler dengan rumus :
DO =
x Y x 0,1 mg/l
Y = volume titran
N Na2S2O3
Kandungan CO2
dihitung dengan metode alkalimetri dengan rumus :
CO2 bebas
=
x C x 1 mg/l
Dimana:
C = banyak larutan
N NaOH yang digunakan
Untuk alkalinitas dapat
dihitung dengan metode alkalimetri dengan rumus :
Kandungan
CO3- (X) =
x C x 1 mg/l
Kandungan HCO3- (Y) =
x D x 1 mg/l
Alkalinitas total : X + Y mg/l
Dimana:
C = volume titran
N H2SO4 pertama kali
D = volume titran
N H2SO4 yang kedua
PEMBAHASAN
|
Hasil
|
|||
|
Tabel 1. Hasil Pengamatan Acara Estimasi Populasi Gastropoda dan
Makrobentos
|
|||
|
Parameter
|
Stasiun
|
||
|
1
|
2
|
3
|
|
|
Fisik
|
|
|
|
|
Suhu Udara (◦C)
|
26
|
22.7
|
25.33
|
|
Suhu Air (◦C)
|
28.52
|
25
|
27.33
|
|
Kecepatan Arus (m/s)
|
0.286
|
0.34
|
0.8
|
|
Debit (m3/s)
|
0.318
|
1.8
|
2.25
|
|
Kimia
|
|
|
|
|
DO (ppm)
|
5.54
|
1.4
|
3.8
|
|
CO2 (ppm)
|
9.67
|
45.2
|
6.88
|
|
Alkalinitas (ppm)
|
32.2
|
91.5
|
124
|
|
Ph
|
7.1
|
7.2
|
7.1
|
|
Biologi
|
|
|
|
|
Densitas Gastropoda
|
0
|
8
|
5
|
|
Densitas Makrobentos
|
21
|
83
|
42
|
|
Diversitas Makrobentos
|
1,92
|
0,91
|
1,29
|
|
Cuaca
|
Mendung dan Hujan
|
Mendung dan Hujan
|
Hujan
|
|
Vegetasi
|
Rimbun dan Bambu
|
Rimbun dan Bambu
|
Rimbun dan Bambu
|
Pada
praktikum acara estimasi gastropoda kali ini dilakukan di sungai Winongo,
Sleman, Yogyakarta. Sungai ini memiliki vegetasi berupa pohon-pohon yang rimbun
disekitar sungai. Kemudian banyak juga batu yang terdapat di dasar ataupun di
tepi sungai. Dasar sungai ini selain berbatu juga berpasir. Sungai ini banyak
digunakan warga untuk keperluan sehari-hari seperti mandi dan mencuci baju. Ada
juga warga yang memanfaatkan sungai ini untuk memancing ikan.
Pada
saat praktikum dilaksanakan, cuaca sedang tidak bersahabat. Turun hujan lebat,
sehingga membuat arus yang tenang menjadi deras dan debit air menjadi
meningkat. Dampak dari hujan juga membuat praktikan kesulitan saat melakukan
titrasi, sehingga praktikan harus lebih hati-hati dalam melakukannya. Selain itu,
akibat dari hujan adalah membuat air sungai yang tadinya jernih menjadi keruh.

Grafik
1. Densitas Gastropoda vs Stasiun
Grafik 2. DO vs Stasiun
Dari grafik diatas dapat diketahui
kandungan DO tertinggi adalah pada stasiun 1, tetapi densitas gastropodanya
yang terkecil. Hal tersebut dikarenakan gangguan cuaca sehingga praktikan tidak
bisa bekerja secara maksimal. Cuaca yang buruk seperti mendung mengakibatkan
cahaya matahari tidak bisa menembus ke perairan sehingga proses fotosintesis
terganggu. Tergangunya proses fotosintesis mengakibatkan kadar DO menurun. Jika
kadar DO rendah, akan mengakibatkan densitas gastropodanya rendah karena
gastropoda sangat membutuhkan oksigen untuk hidup.
Kandungan oksigen dalam air merupakan
salah satu penentu karakteristik kualitas air yang terpenting dalam kehidupan
akuatis. Keberadaan dan besar kecilnya muatan oksigen di dalam air dapat
dijadikan indikator suatu pencemaran (Asdak, 2004). Jadi menurut teori, stasiun
2 yang harus memiliki kandungan DO tinggi jika dilihat dari tingkat densitas
gatropoda. Pada stasiun 2 memiliki kadar oksigen terendah, rendahnya kadar
oksigen dikarenakan substrat perairan sebagian besar pasir dan lumpur. Ukuran
partikel yang sangat halus dengan sudut dasar sedimen yang datar menyebabkan
air di dalam sedimen tidak mengalir keluar dan tertahan dalam substrat. Hal ini
akan menghasilkan penurunan kadar oksigen, semakin tinggi sedimentasi maka
semakin kurang kandungan oksigen terlarut.

Grafik 3. Densitas Makrobentos vs
Stasiun
Dari
grafik diatas dapat diketahui bahwa stasiun 2 memiliki tingkat densitas
makrobentos yang tertinggi yaitu 83 idv/m2, kemudian stasiun 3 dengan 42 idv/m2
dan yang terendah ada di stasiun 1 yaitu 21 idv/m2. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa stasiun 2 adalah stasiun yang memiliki kualitas air yang terbaik berdasarkan
densitas makrobentosnya dibanding stasiun lain. Sedangkan kualitas air yang
terburuk ada di stasiun 1. Stasiun 2 memiliki substrat pasir bercampur lumpur
yang disukai makrobentos.

Grafik
4. Diversitas Makrobentos vs Stasiun
Pada grafik diatas dapat diketahui
bahwa stasiun 1 memiliki tingkat diversitas tertinggi yaitu 1,92 idv/m2.
Sedangkan tingkat diversitas terendah ada di stasiun 2 yaitu 0,91 idv/m2.
Walaupun densitas makrobentos stasiun 2 lebih tinggi dibanding stasiun lain
tetapi keanekaragaman (diversitas) makrobentosnya yang terendah dibanding
stasiun 1 dan stasiun 3.
Keberadaan
makrobentos dapat digunakan sebagai indikator kualitas perairan, sehingga
stasiun yang memiliki diversitas gastropoda tertinggi itu memiliki kualitas air
yang baik dan sebaliknya apabila di sebuah perairan (stasiun) memiliki diversitas
gastropodanya rendah maka tingkat perairan tersebut sudah tidak baik/tercemar.
Sesuai gagasan dari Pratiwi (2004), bahwa gastropoda merupakan salah satu
kelompok terpenting dalam ekosistem perairan sehubungan dengan perannya sebagai
organisme kunci dalam jaringan makanan. Stasiun 1 memiliki tingkat diversitas
makrobentos yang paling tinggi. Hal tersebut mendandakan bahwa perairan di
stasiun 1 memiliki tingkat toeransi kehidupan makrobentos yang paling tinggi
yang membuat makrobentos yang ada di stasiun 1 lebih beranekaragam dibanding
stasiun lain. Jadi dapat disimpulkan bahwa stasiun 1 yang memiliki kualitas
perairan terbaik.
KESIMPULAN
Metode
plot yaitu dengan menggunakan plot berbentuk persegi untuk
mengambil cuplikan makrobentos secara acak. Metode plotless yaitu
dengan cara menancapkan tongkat bambu kedasar perairan secara acak
sebanyak 20 kali. Korelasi
antara parameter lingkungan dengan populasi gastropoda contohnya yaitu
kandungan DO yang tinggi menyebabkan densitas gastropoda juga ikut tinggi
sedangkan kecepatan arus dan kadar CO2 yang tinggi menyebabkan
densitas gastropoda rendah. Dalam praktikum ini densitas gastropoda dan
densitas makrobentos yang tertinggi ada di stasiun 2 yaitu dengan 8 idv/L untuk
densitas gastropoda dan 83 idv/m2 untuk densitas makrobentos. Sedangkan
diversitas makrobentos yang tertinggi ada di stasiun 1 dengan 1,92 idv/m2.
Berdasarkan tingkat diversitasnya, stasiun 1 adalah stasiun yang terbaik
dibanding stasiun yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Azwir. 2006. Analisa Pencemaran Air Sungai
Tapung Kiri oleh Limbah Industri Kelapa Sawit PT Peputra Masterindo di
Kabupatern Kampar. Pasca sarjana ilmu lingkungan. Undip. Semarang.
Effendi.
2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta.
Ali, I. 2008. Biologi Dasar Dunia Ilmu. Bumi Aksara. Jakarta.
Isnaeni,
W. 2002. Fisiologi Hewan. Universitas
Negeri Semarang. Semarang.
Handayani, S.T, dkk. 2001. Penemuan status
kualitas perairan sungai Brantas Hulu dengan Biomonitoring Maktozoobentos:
tinjauan dari pencematan bahan organic. Biosainm, vol 1, no 1.
Pratiwi, d.k.k. 2004. Panduan Pengukuran
Kualitas Air Sungai. Institut
Petanian Bogor. Bogor.
Setyobudiandi,
1997. Makrozoobentos. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar