LAPORAN
PRAKTIKUM
MANAJEMEN
LIMBAH INDUSTRI PERIKANAN
ANALISIS
DAN PREDIKSI BEBAN PENCEMARAN LIMBAH CAIR INDUSTRI PERIKANAN

Disusun
oleh :
Haditiya
Rayi Setha Ahmad
13/349901/PN/13308
LABORATORIUM
MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN
DEPARTEMEN
PERIKANAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016
I.
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Meningkatanya industrialisasi dan
aktifitas manusia, khusunya di bidang perikanan memberikan dampak positif bagi
perekonomian masyarakat dan memberikan peningkatan nilai sektor industri
perikanan. Dampak negatif juga terjadi karena industri pengolahan ikan belum
semua menerapkan pengelollah lingkungan yang baik. Hal ini mengakibatkan
bertambahnya limbah yang masuk ke lingkungan khususnya di perairan, pada
konsentrasi tertentu limbah dapat memberikan dampak negatif bagi kualitas air
dan kelangsungan hidup organisme yang ada di perairan (Wibowo et al., 2013)
Permasalahan pencemaran limbah yang tidak
dikelola dengan baik tidak hanya disebabkan oleh industri besar namun oleh
industri kecil atau UKM yang belum mempunyai fasilitas pengolah limbah.
Mengingat jumlah industri kecil yang sangat banyak dan lokasi yang menyebar,
sehingga limbah yang tidak terolah dapat mempengaruhi lingkungan. Fasilitas
pengolah limbah untuk industri kecil sangat memberatkan karena membutuhkan
biaya yang tidak kecil (Arsawan et al., 2007).
Limbah industri pangan dapat menimbulkan
masalah dalam penanganannya karena mengandung sejumlah besar karbohidrat,
protein dan lemak, garam-garam mineral dan sisa-sisa bahan kimia yang digunakan
dalam pengolahan dan pembersihan. Limbah dari industri perikanan merupakan
salah satu industri yang limbahnya dapat menimbulkan bau yang tidak diinginkan
apabila tidak diberi perlakuan yang tepat. Pada umumnya limbah industri pangan
tidak membahayakan kesehatan masyarakat, namun kandungan bahan organiknya yang
tinggi dapat bertindak sebagai sumber makanan untuk tumbuhnya mikrobia (Jenie
dan Rahayu, 1993).
Berbagai macam usaha yang dilakukan
untuk mengatasi permasalahan limbah
saat ini telah banyak dikembangkan. Usaha untuk
mengatasi pencemaran limbah cair perikanan ke badan air ataupun ke tanah
diperlukan suatu manajemen dan teknologi penanganan limbah yang baik. Pada
beberapa dekade ini diterapkan teknologi penanganan limbah secara biologi yaitu
dengan penanganan aerobik dan anaerobik. Hal ini disebabkan karena polutan yang mudah terdegradasi sehingga dapat diuraikan oleh mikroorganisme menjadi bahan yang tidak berbahaya seperti karbondioksida
dan
air. Adapun dengan metode atau cara biologis
biasa disebut biodegradasi oleh mikroorganisme. Biodegradasi merupakan salah satu cara yang tepat, efektif dan hampir tidak ada pengaruh sampingan pada
lingkungan. Hal ini
dikarenakan tidak
menghasilkan racun ataupun
blooming (peledakan
jumlah bakteri) yang menyebabkan terjadinya eutrofikasi.
2.
Tujuan
Praktikum
1. Mampu
melakukan pengukuran parameter fisika dan kimia dari limbah industri perikanan
2. Mampu
mengetahui kuantitas parameter pencemaran limbah cair industri perikanan
3. Mampu
menentukan besar debit dan beban pencemaran limbah cair industri perikanan
4. Mampu
mengetahui dan menerapkan cara penanganan limbah secara biologis meliputi
fitoremidiasi dan aerob
3. Manfaat
Praktikum
1.
Dapat memberikan
pengetahuan dan keterampilan
dalam melakukan pengukuran parameter fisika, kimia, dan biologi dari limbah industri perikanan.
2.
Dapat memberikan
pengetahuan dan keterampilan dalam menerapkan
penanganan limbah dengan cara bioremediasi dengan metode
fitoremediasi, aerob dan anaerob.
3.
Dapat membandingkan metode-metode bioremediasi yang paling efektif untuk
mengatasi beban pencemaran
limbah cair industri perikanan.
II.
TINJAUAN
PUSTAKA
1.
Limbah
Limbah adalah buangan yang kehadirannya
pada suatu saat dan tempat tertentu
tidak dikehendaki lingkungannya karena tidak mempunyai nilai ekonomi. (Gintings, 1992). Limbah perikanan adalah
ikan yang terbuang, tercecer
dan sisa olahan yang pada suatu saat di tempat tertentu yang belum dapat dimanfaatkan
secara ekonomis (Moeljanto, 1979). Limbah
hasil perikanan sendiri dapat digolongkan menjadi tiga jenis yaitu limbah cair, limbah
padat, dan limbah gas. Limbah industri perikanan berdasarkan wujudnya
secara umum dikategorikan menjadi dua
jenis, yaitu limbah padat dan
limbah cair. Limbah padat bersumber dari kepala udang atau ikan, cangkang atau
kulit udang, tulang ikan, dan lain-lain. Limbah cair dapat bersumber dari air
pencuci, air pembersih peralatan, lelehan es dari ruang produksi dan lain
sebagainya (Sulaeman,
2009).
Menurut Gintings (1992), berdasarkan
sifatmnya limbah terbagi menjadi limbah padat, limbah cair dan limbah gas atau
asap. Limbah cair adalah limbah dalam bentuk cair yang dihasilkan oleh kegiatan
dan kawasan industri yang dibuang ke lingkungan hidup dan diduga dapat
menurunkan kualitas lingkungan hidup. Menurut Jenie dan Rahayu (1993), limbah
cair pengolahan pangan umumnya mempunyai kandungan nitrogen yang rendah, BOD
dan padatan tersuspensi tinggi dan berlangsung dengan proses dekomposisi cepat.
Limbah cair segar memiliki pH mendekati netral dan selama penyimpanan pH
menjadi turun. Komponen limbah cair dari industri pangan sebagian besar adalah
bahan organik.
2.
Parameter
Pencemaran
Sesuai dengan Undang-undang Nomor 23 Tahun
1997 yang dimaksud dengan pencemaran lingkungan adalah masuknya atau
dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi atau komponen lain ke lingkungan hidup
oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu
yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi lagi dalam menunjang
pembangunan berkelanjutan. Parameter pencemaran yang diujikan pada setaiap
perlakuan adalah DO (Dissolved Oxygen),
pH, BOD(H0) (Biologycal Oxygen
Demand hari pertama), BOD(H5) (Biologycal Oxigen Demand hari kelima), TSS (Total Suspensi Solid), kandungan protein terlarut dan kekeruhan.
Pencemaran lingkungan dapat diukur dengan parameter
kualitas limbah. Parameter tersebut digunakan untuk mengetahui tingkat
pencemaran yang sudah terjadi di lingkungan. Beberapa parameter kimia kualitas
air yang perlu diketahui antara lain adalah BOD, COD, DO, dan pH. Pengukuran
fisik dapat dilakukan dengan memperhatikan warna, bau, dan rasa air sungai,
kecepatan laju air dengan bola pingpong, penetrasi cahaya, dalam dan lebar
sungai dan lainnya. Manakala pengukuran biologi dilakukan dengan menghitung
indeks keanekaragaman dan kelimpahan organisme air seperti plankton, benthos,
serangga air, moluska, ikan dan lainnya sehingga diperoleh data yang valid.
Pengukuran ketiga metode (faktor fisik, kimia dan biologi) merupakan metode
paling tepat dan akurat dalam menentukan parameter kualitas perairan. Untuk Parameter
yang diuji dalam praktikum Bioremediasi ini yaitu parameter fisik dan parameter
kimia. Parameter Fisik meliputi Bau dan kekeruhan sedangkan parameter kimia
meliputi DO, pH limbah, BOD, dan TSS (Gintings,
1992).
A. BOD (Biochemical oxygen demand)
BOD
adalah ukuran kandungan oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme
yang hidup di perairan untuk menguraikan bahan organik yang ada di dalamnya.
Apabila kandungan oksigen dalam air menurun, maka kemampuan mikroorganisme
aerobik untuk menguraikan bahan organik tersebut juga menurun. BOD ditentukan
dengan mengukur jumlah oksigen yang digunakan oleh mikroorganisme selama kurun
waktu dan pada temperatur tertentu (biasanya lima hari pada suhu 20°C). Nilai
BOD diperoleh dari selisih oksigen terlarut awal dengan oksigen terlarut akhir.
BOD merupakan ukuran utama kekuatan limbah cair.
B.
DO (Dissolved
oxygen)
DO
adalah kadar oksigen terlarut dalam air. Penurunan DO dapat diakibatkan oleh
pencemaran air yang mengandung bahan organik sehingga menyebabkan organisme air
terganggu. Semakin kecil nilai DO dalam air, tingkat pencemarannya semakin
tinggi. DO penting dan berkaitan dengan sistem saluran pembuangan maupun
pengolahan limbah.
C.
pH
Nilai
pH limbah cair adalah ukuran kemasaman atau kebasaan limbah. Air yang tidak
tercemar memiliki pH antara 6.5-7.5. Sifat air bergantung pada besar kecilnya
pH. Air yang memiliki pH lebih kecil dari pH normal akan bersifat masam,
sedangkan air yang memilki pH lebih besar dari pH normal akan bersifat basa.
Perubahan pH air tergantung pada polutan air tersebut. Air yang memiliki pH
lebih kecil atau lebih besar dari kisaran pH normal tidak sesuai untuk
kehidupan bakteri asidofil atau organisme lainnya.
3.
Debit Limbah Cair
Menurut River et al. (1998) jumlah debit air
limbah pada umumnya berasal dari proses pengolahan dan pencucian. Setiap
operasi pengolahan ikan akan menghasilkan cairan dari pemotongan, pencucian,
dan pengolahan produk. Cairan ini mengandung darah dan potongan-potongan kecil
ikan dan kulit, isi perut, kondensat dari operasi pemasakan dan air pendinginan
dari kondensor ( Jenie dan Rahayu 1993).
4. Beban Pencemaran
Limbah
Beban limbah cair dari
beberapa industri pengolahan ikan dapat dilihat pada Tabel 1 berikut:

Kontaminan-kontaminan
dalam limbah cair perikanan yang menjadi beban polusi pada umumnya bisa
bersifat fisikokimia maupun campuran dari senyawa- senyawa organik. Beban
limbah yang berasal dari perubahan fisikokimia efluen dapat diukur sebagai
parameter tingkat polusi misalnya pH, kandungan padatan, suhu dan bau.
5.
Baku
Mutu Limbah Cair Industri Perikanan
Baku mutu limbah cair industri perikanan
adalah batas maksimum limbah cair yang diperbolehkan dibuang ke lingkungan
hidup dari suatu industri perikanan. Mutu limbah cair adalah keadaan limbah
cair yang dinyatakan dengan debit, kadar dan beban pencemar (PP RI No. 82,
2001).
![]() |
Tabel
2. Baku mutu limbah cair menurut PERMEN LH No. 06 2007
6.
Mekanisme
Reduksi Limbah
Proses dekomposisi atau degradasi
substansi berbahaya yang ada pada lingkungan dengan menggunakan bakteri atau
mikroorganisme lainnya dinamakan bioremidiasi. Proses ini dapat dimanfaatkan
untuk membersihkan limbah minyak, limbah bahan kimia dan pengolahan air limbah.
Mikrobia berfungsi untuk menguraikan sisa-sisa bahan organik menjadi partikel
yang aman bagi lingkungan (Waluyo, 2005).
Bioaugmentasi merupakan metode
pengolahan limbah dengan menginokulasikan mikroba pendegradasi ke daerah
tercemar untuk melengkapi populasi mikroba yang telah ada. Proses bioaugmentasi
dilakukan dengan menambahkan sejumlah besar mikroorganisme yang telah
diisolasi, diseleksi dan ditumbuhkan ke dalam lingkungan yang terkontaminansi.
Mikroba tresebut akan bertahan hidup dengan mengkonsumsi hidrokarbon sampai
polutan tersubstrasi. Salah satu bakteri pendegradasi protein adalah Bacillus sp. yang bekerja dengan cara
spesifik dalam memotong ikatan senyawa organik.
Dalam proses bioaugmentasi ini
terdapat bakteri yang digunakan yaitu bakteri proteolitik. Bakteri proteolitik
ini adalah penghasil enzim protease ekstraselular yang dapat menghidrolisis
protein menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana seperti asam amino. Semua
bakteri mempunyai enzim protease di dalam sel, tetapi tidak semua mempunyai
enzim protease ekstraseluler. Dekomposisi protein oleh mikroorganisme
lebih kompleks daripada pemecahan karbohidrat
dan produk akhirnya juga lebih bervariasi. Hal ini disebabkan struktur protein
yang lebih kompleks. Mikroorganisme melalui suatu sistem enzim yang kompleks,
memecah protein menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana (Pelczar dan Chan,
1998).
Perkembangan
teknik bioremediasi semakin berkembang dari tahun ke tahunnya. Dimulai dari
menggunakan tanaman, secara aerasi, aerob maupun anaerob. Banyak cara yang
dapat digunakan dalam proses pengembalian fungsi lingkungan yang telah berubah
yang diakibatkan oleh toksikan atau bahan pencemar lingkungan. Namun proses bioremediasi merupakan proses
yang lebih mudah, cepat dan efisien untuk digunakan. Bioremidiasi berdasarkan
lokasi terdapat 2 macam yaitu bioremidiasi in situ (proses bioremidiasi yang
digunakan berada pada tempat lokasi limbah tersebut) dan bioremidiasi ex situ
(bioremidiasi yang dilakukan dengan mengambil limbah tersebut lalu ditreatment
ditempat lain, setelah itu baru dikembalikan ke tempat asal). Proses
bioremadiasi in situ pada lapisan surface juga ditentukan oleh faktor
bio-kimiawi dan hidrogeologis (Subagyo, 2002).
Aerasi (bioremediasi secara aerob) merupakan
salah satu cara untuk menambah oksigen terlarut dalam suatu perairan sehingga
konsentrasi oksigen bertambah sampai titik jenuh yang digunakan oleh ikan untuk
melakukan respirasi. Pencemaran yang disebabkan oleh limbah cair dari industri
tidak terlalu berbahaya bagi kesehatan masyarakat karena tidak terlalu terlibat
langsung dalam perpindahan penyakit. Kandungan bahan organik yang tinggi dapat
bertindak sebagai sumber makanan untuk pertumbuhan mikroba, dengan pasokan
makanan yang berlimpah, mikroorganisme akan berkembang biak dengan cepat dan
mereduksi oksigen terlarut yang tidak terdapat dalam air (Wardoyo, 1981). Dalam
bioremediasi aerob ini terjadi proses nitrifikasi. Proses nitrifikasi digunakan
untuk menyisihkan nitrogen. Nitrifikasi merupakan proses oksidasi ion ammonium
menjadi nitrat ( NO3- ). Proses ini dilakukan oleh bakteri autotrof
yang termasuk ke dalam genus Nitrosomonas
dan Nitrobacter. Nitrosomonas akan mengoksidasi ion ammonium menjadi nitrit ( NO2-
) dan selanjutnya Nitrobacter akan
menoksidasi nitrit (NO2- ) menjadi nitrat ( NO3- ).
Berbeda
dengan metode aerobik yang membutuhkan oksigen dalam prosesnya, degradasi anaerobic berlangsung
tanpa oksigen melibatkan komunitas mikroorganisme kompleks terdiri dari
berbagai spesies mikroba. Proses penguraian anaerobik mendegradasi polimer
alami seperti polisakarida, protein, asam nukleat, dan lipid menjadi metan dan
karbondioksida. Pengolahan dengan anaerobik merupakan hasil dari beberapa
reaksi yaitu: beban organik dalam limbah dikonversi menjadi bahan organik terlarut
yang kemudian dikonsumsi oleh bakteri penghasil asam, kemudian menghasilkan
asam lemak mudah menguap, karbondioksida dan hidrogen. Senyawa yang dihasilkan ini
kemudian dikonsumsi oleh bakteri penghasil metana yang kemudian menghasilkan
produk akhir gas metana dan karbondioksida (Mellor, 1996).
Proses bioremediasi anaerob ini
terjadi proses denitrifikasi. Proses denitrifikasi merupakan proses kehilangan
N dalam bentuk gas, reaksi NO3- menjadi N2 dan N2O.
Bakteri anaerob: Pseudomonas, Bacillus,
menggunakan N sebagai sumber O2 dalam respirasi, terjadi pada tanah
tergenang atau terbatasnya oksigen, sekitar akar atau seresah yang sedang
terombak. Bakteri memerlukan bahan organik, bahan organik yang siap dirombak
sebagai sumber energi. Metode bioremediasi lain
adalah dengan memanfaatkan tanaman untuk mengabsorb polutan. Teknik ini dikenal
dengan fitoremediasi. Perlakuan yang diberikan
pada fitoremediasi ini yaitu pemberian tumbuhan air yang digabungkan dengan
pemberian bakteri proteolitik. Tumbuhan air digunakan untuk mendaur ulang
limbah, tujuannya adalah untuk menurunkan sifat limbah baik secara fisik,
kimia, dan biologis serta pemanfaatannya sebagai biofilter yang dapat
menurunkan pencemaran limbah organik (Rahman, 2010).
III.
HIPOTESIS
Hipotesis dari praktikum kali ini
adalah penanganan limbah cair industri
perikanan secara bioremediasi yaitu dengan fitoremediasi, aerob,
anerob dan aerasi dapat mereduksi beban pencemaran dengan intensitas tertentu
pada limbah cair industri perikanan.
IV.
METODOLOGI
PENELITIAN
1.
Alat
Alat
yang digunakan terdiri atas alat isolasi dan
identifikasi mikrobia, alat pengukuran parameter fisika dan kimia dan alat
perlakuan bioremediasi. Alat isolasi terdiri atas pipet tetes, tabung
mikrotube, petridish, drigalski, bunsen,
jarum ose, tabung reaksi, autoklaf, dan mikroskop. Alat pengukuran parameter fisika dan kimia meliputi tabung
erlenmeyer, toples, botol oksigen, kempot, pipet ukur, pipet tetes, botol film,
kertas pH, pH meter, dan kertas saring. Sedangkan alat perlakuan
bioremediasi terdiri atas, aerator, ember
plastik, plastik hitam penutup, selang, dan toples.
2.
Bahan
Bahan isolasi dan
identifikasi terdiri atas media Skim
Milk Agar, aquadest, bacto agar, Tryptone
Soya Broth (TSB), NaCl 0,85%, dan phenol blue. Bahan pengukuran parameter
fisika dan kimia meliputi aquadest, H2SO4 4N, KMnSO4 0,1 N, Amonium oksalat, MnSO4, reagen oksigen, H2SO4 pekat, amilim, dan 1/80 N Na2S2O3. Bahan untuk perlakuan
bioremediasi terdiri atas limbah cair industri pengolahan ikan dan tanaman air.
3.
Tata
Laksana Praktikum
·
Isolasi dan identifikasi mikrobia
![]() |

![]() |
|||
![]() |
|||
·
Bioremediasi
![]() |
![]() |
|
![]() |
·
Pengukuran
TSS
![]() |
![]() |
·
Pengukuran BOD (Biologycal Oxygen Demand)
Pengukuran BOD (Biologycal Oxygen Demand)![]() |
![]() |
![]() |
|
![]() |
·
Pengukuran Kandungan O2
terlarut (Dissolved Oxygen atau DO)
Pengukuran Kandungan O2
terlarut (Dissolved Oxygen atau DO)![]() |
![]() |
·
Penentuan
kandungan protein terlarut (Lowry-Follin)
a. Bahan
:
·
Sampel
·
BSA
·
Larutan A (larutkan
2,8598 g NaOH dan 14,3084 g Na2CO3 dalam aquadest hingga
mencapai volume 500 ml)
·
Larutan B (larutkan
1,4232 g CuSO4.5H2O dalam aquadest hingga mencapai volume
100 ml)
·
Larutan C (larutkan
2,85299 g Na2-tartrat.2H2O dalam aquadest hingga mencapai
volume 100 ml (larutan A, B, dan C dapat disimpan)
·
Larutan D (campur larutan
A, B, dan C dengan perbandingan 100:1:1 kemudian digojog hingga homogen)
·
Larutan E (mencampuran 5
ml reagen Follin-Ciocalteau 2 N dengan 6 ml aquadest lalu digojog)
b. Alat
:
·
Kuvet
·
Spektrofotometer
·
Vortex
·
Labu ukur
·
Gelas ukur
·
Pipet ukur
·
Tabung sentrifuge
·
Kempot
·
Rak tabung reaksi
c. Cara
kerja
Pembuatan larutan standar
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
V.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
1.
Hasil
|
Parameter
|
Sebelum
|
Setelah Perlakuan
|
||||||
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
V
|
Kontrol (+)
|
Kontrol (-)
|
||
|
Suhu
|
27
|
28
|
29
|
28
|
30
|
30
|
21
|
24
|
|
TSS (mg/l)
|
0.5
|
0.74
|
0.75
|
0.72
|
0.72
|
0.71
|
0.66
|
0.73
|
|
pH
|
7
|
7
|
7
|
7
|
8
|
8
|
8
|
8
|
|
Kekeruhan
|
++++
|
+++
|
++
|
+
|
++++
|
++++
|
+++
|
++++
|
|
Bau
|
++++
|
+++
|
++
|
+
|
+++++
|
+++++
|
++++
|
+++++
|
|
DO (mg/l)
|
5
|
7
|
9
|
15
|
6
|
4
|
3
|
2
|
|
BOD (mg/l)
|
2.8
|
2.1
|
2.3
|
2.1
|
0
|
0
|
1.3
|
0
|
|
Protein Terlarut (mg/L)
|
60,07
|
4,36
|
16,5
|
22,93
|
58,64
|
54,36
|
9,36
|
14,36
|
Keterangan
:
I
. Fitoremidiasi (Tanaman air)
II. Fitoremediasi + Bakteri A
III. Fitoremediasi + Bakteri B
IV. Anaerob + Bakteri A (Lactobacillus acidophilus)
V. Anaerob + Bakrteri B (Bacillus sp.)
II. Fitoremediasi + Bakteri A
III. Fitoremediasi + Bakteri B
IV. Anaerob + Bakteri A (Lactobacillus acidophilus)
V. Anaerob + Bakrteri B (Bacillus sp.)
Keterangan :
Bau :
+ = Netral
: ++ = Sedikit Bau
: +++ =
Bau
: ++++ =
Sangat Bau
: +++++ =
Sangat Bau Sekali
Kekeruhan : + =
Bening
: ++ = Agak Bening
: +++ = Keruh
: ++++ = Sangat Keruh
: +++++ = Sangat keruh Sekali
DATA
PROTEIN TERLARUT LIMBAH IKAN
A.
Kurva
Standar BSA
|
Konsentrasi
|
absorbansi
|
|
0
|
0,007
|
|
20
|
0,015
|
|
40
|
0,152
|
|
60
|
0,053
|
|
80
|
0,021
|
|
100
|
0,033
|
|
|
|
B.
Kadar
Protein Terlarut
|
Perlakuan
|
Absorbansi
|
Kadar Protein ( mg/L)
|
|
Sebelum
|
0,126
|
60,07
|
|
kontrol +
|
0,055
|
9,36
|
|
kontrol -
|
0,062
|
14,36
|
|
fitoremediasi
|
0,048
|
4,36
|
|
fito + A
|
0,065
|
16,50
|
|
fito + B
|
0,074
|
22,93
|
|
ana + A
|
0,124
|
58,64
|
|
ana + B
|
0,118
|
54,36
|
Persamaan Y = 0,0014X + 0,0419
Contoh Perhitungan
Kadar Protein
Terlarut Sampel Sebelum Perlakuan
|
2.
Pembahsan
a.
Cara
kerja dan fungsi perlakuan
Praktikum manajemen limbah industri
perikanan acara analisis dan prediksi beban pencemaran limbah cair organik
menggunakan limbah cair dengan perlakuan yang dilakuan pada acara ini ada 5
perlakuan dengan 2 sebagai kontrol. Perlakuannya adalah fitoremediasi,
fitoremediasi dengan penambahan bakteri Bacillus
sp. fitotoremediasi dengan penambahan bakteri Lactobacillus acidophillus, aeraob dengan penambahan bakteri Bacillus sp dan aeraob dengan
penambahan bakteri Lactobacillus
acidophilus.
Pengujian analisis dan prediksi beban
pencemaran limbah cair industri perikanan menggunakan fitoremediasi ini
dilakukan dengan cara menyiapkan tanaman air yaitu eceng gondok. Fitoremidiasi
dengan tanaman eceng gondok dibantu dengan aerasi untuk tambahan supply
oksigen. Persiapan sampel limbah dilakukan dengan
mengukur parameter pH, DO, BOD, TSS,
bau, protein terlarut dan kekeruhan air limbah sebelum diberi perlakuan.
Selanjutnya 2L limbah dimasukkan ke dalam toples kaca dan dimasukkan 3 buah eceng
gondok serta dilakukan pemasangan aerasi.
Penambahan tanaman air adalah sebagai pendegradasi bahan organik pada limbah
sedangkan aerasi untuk memperkaya DO pada air limbah yang akan digunakan untuk
metabolisme tanaman. Limbah yang sudah diberi perlakuan kemudian diinkubasi
selama 7 hari dengan dilakukan pengamatan bau dan kekeruhan setiap hari.
Pada hari kelima dilakukan pengujian
BOD(H5) untuk mengetahui kadar BOD hari kelima pada perlakuan
limbah. Hari ketujuh dilakukan pengukuran parameter kembali meliputi pH, DO, BOD, TSS, bau, protein terlarut dan
kekeruhan air limbah. Hal ini bertujuan untuk
membandingakan hasil yang diperoleh sebelum dan setelah diberi perlakuan apakah
terjadi reduksi limbah atau tidak.
b.
Mekanisme
pengukuran beban pencemaran secara biologi sesuai perlakuan
Menurut Ciroreksoko (1996),
bioremediasi diartikan sebagai proses pendegradasian bahan organik berbahaya
secara biologis menjadi senyawa lain seperti karbondioksida (CO2), metan, dan
air. Sedangkan menurut Craword (1996), bioremediasi merujuk pada penggunaan
secara produktif proses biodegradatif untuk menghilangkan atau mendetoksi
polutan (biasanya kontaminan tanah, air dan sedimen) yang mencemari lingkungan
dan mengancam kesehatan masyarakat. Jadi bioremediasi adalah salah satu
teknologi alternatif untuk mengatasi masalah lingkungan dengan memanfaatkan
bantuan mikroorganisme. Mikroorganisme yang dimaksud adalah khamir, fungi (mycoremediasi),
yeast, alga dan bakteri yang berfungsi sebagai agen bioremediator. Selain
dengan memanfaatkan mikroorganisme, bioremediasi juga dapat pula memanfaatkan
tanaman air. Tanaman air memiliki kemampuan secara umum untuk menetralisir
komponen-komponen tertentu di dalam perairan dan sangat bermanfaat dalam proses
pengolahan limbah cair (misalnya menyingkirkan kelebihan nutrien, logam dan
bakteri patogen). Penggunaan tumbuhan ini biasa dikenal dengan istilah
fitoremediasi. Jenis-jenis tanaman yang dapat melakukan remediasi disebut
dengan tanaman hiperakumulator.
c.
Bahas
per parameter
1.
Suhu
Hasil
pengamatan pada suhu sebelum diberi perlakuan adalah 27oC dan
setelah diberi perlakuan fitoremidiasi dengan penambahan bakteri Lactobacillus acidophilus suhu meningkat
menjadi 29 oC. Perlakuan fitoremidiasi dengan Lactobacillus acidophilus memiliki suhu tertinggi yaitu 29 oC.
Menurut Effendi (2003), peningkatan suhu menyebabkan terjadinya peningkatan
dekomposisi bahan organik oleh mikrobia. Peningkatan dekomposisi bahan organik
akan memberikan dampak penurunun protein terlarut pada limbah industri
perikanan.
2.
pH
Nilai
derajat keasaman (pH) limbah cair industri perikanan pada pH awal adalah 7 dan
untuk kontrol adalah 8, sedangkan pH perlakuan fitoremediasi adalah 7. Nilai pH
ini cenderung netral dikarenakan poses fitoremediasi tidak menaikan pH limbah
karena tidak menghasilkan asam organik. Standar baku mutu limbah industri
pengolahan hasil perikanan, yakni dengan pH diantara 5-9 sehingga limbah hasil
fitoremediasi memenuhi standar baku mutu untuk pH. Menurut Juni dan Turisa
(2010) dengan terbentuknya asam organik maka pH akan terus menurun, namun pada
waktu yang bersamaan terbentuk buffer yang dapat menetralisir pH.
3.
BOD
Air
limbah sebelum dan sesudah diberi perlakuan fitoremidiasi dan aerasi memiliki
BOD 2,8 mg/L sedangkan BOD(H5) menurun menjadi 2,3 mg/L. Kontrol
memiliki BOD(H5) tertinggi dibandingkan perlakuan lain yaitu 13 mg/L
untuk kontrol positif dan 0 mg/L untuk kontrol negatif. Apabila kandungan
oksigen dalam air menurun, maka kemampuan mikroorganisme aerobik untuk
menguraikan bahan organik tersebut juga menurun. Saat bahan
organik yang terkandung tinggi, maka bakteri semakin membutuhkan oksigen, yang
diukur dari nilai BOD yang meningkat, dan setelah terjadi perombakan bahan
organik maka nilai BOD menurun sampai nilai tertentu yang menandakan bahwa
air sudah bersih (Juni dan Turisa, 2010).
4.
TSS
Hasil
pengujian TSS atau padatan terlarut diperoleh hasil untuk TSS awal adalah 0,5
mg/L, sedangkan setelah perlakuan fitoremidiasi TSS mengalami peningkatan
menjadi 0,75 mg/L. Padatan tersuspensi terdiri dari partikel-partikel yang
ukuran maupun beratnya lebih kecil dari sedimen. Material tersuspensi mempunyai
efek yang kurang baik terhadap kualitas badan air karena dapat menyebabkan
penurunan kejernihan air dan dapat menghalangi sinar matahari masuk sehingga
dapat berpengaruh terhadap organisme di dalamnya (Puspita, 2008). Menurut
Reed et al. (2005), proses penyerapan
zat-zat yang terdapat dalam limbah ini dilakukan oleh ujung-ujung akar dengan
jaringan meristem terjadi karena adanya gaya tarik menarik oleh molekul-molekul
air yang adapa pada tumbuhan. Zat-zat yang telah diserap oleh akar akan masuk
ke batang melalui pembuluh pengangkut (xylem)
yang kemudian di teruskan ke dalam akar.
5.
Bau

Parameter bau berdasarkan pengamatan
diperoleh hasil pada awal adalah sangat bau sekali (++++). Perlakuan bakteri A
dan fitoremidiasi membuat parameter bau menjadi menurun yaitu sedikit bau (++).
Hal ini dikarenakan dengan perlakuan aerob akan menambah oksigen dan debit air
sehingga dapat mendegradasi polutan di air sehingga bau limbah menjadi netral. Menurut
Gintings (1992), apabila oksigen terlarut dalam air habis karena kadar bahan
organik yang tinggi, maka akan timbul bau busuk dan warna air menjadi gelap.
Apabila protein yang terdapat dalam air mengandung sulfur atau kandungan sulfat
alamiah dari air tinggi akan dihasilkan hidrogen sulfida yang menimbulkan bau
yang tidak diinginkan.
6.
Kekeruhan

Hasil
parameter kekeruhan dilihat berdasarkan intensitas warna yang dihasilkan.
Kekeruhan dipengaruhi TSS dan berbanding lurus. Apabila TSS tinggi, maka
tingkat kekeruhan juga makin tinggi. Berdasarkan hasil pengamatan, kekeruhan
pada limbah awal adalah sangat keruh sekali (++++), sedangkan pada perlakuan fitoremidiasi dan
penambahan bakteri A agak bening (++). Semakin kecil kandungan TSS maka
kekeruhannya semakin bening. TSS menunjukkan jumlah padatan yang tersuspensi
sehingga semakin tinggi TSS semakin jernih badan air (Puspita, 2008). Kekeruhan
pada semua perlakuan menujukkan penurunan dibandingkan kekeruhan sebelum diberi
perlakuan (++++) kecuali pada kelompok 4,5 dan kontrol negatif. Penurunan
kekeruhan atau kecilnya tingkat kekeruhan disebabkan karena pengendapan
sebagian partikel yang tersuspensi dalam sampel menjadi berkurang (Nasution,
2004). Intensitas kekeruhan yang tinggi pada kontrol dapat diakibatkan karena
molekul bahan organik belum semuanya terurai dan kurang dimanfaatkan oleh
mikrobia karena tidak diberi tambahan bakteri.
7.
Kadar Protein Terlarut

Kadar
protein terlarut pada semua perlakuan mengalami penurunan. Kadar protein
terlarut terendah diperoleh dari perlakuan fitoremidiasi. Perlakuan dengan
penambahan fitoremidiasi lebih baik untuk penurunan protein terlarut
dibandingkan perlakuan tanpa fitoremidiasi. Menurut Reed et al. (2005), proses penyerapan zat-zat yang terdapat dalam limbah
ini dilakukan oleh ujung-ujung akar dengan jaringan meristem terjadi karena
adanya gaya tarik menarik oleh molekul-molekul air yang adapa pada tumbuhan.
Zat-zat yang telah diserap oleh akar akan masuk ke batang melalui pembuluh
pengangkut (xylem) yang kemudian di
teruskan ke dalam akar.
d.
Bahas
Hasil Kuantitas dan beban pencemaran limbah, hubungkan dengan beban pencemaan
dan baku mutu limbah industri perikanan yang seharusnya
Hasil perhitungan beban pencemaran diperoleh
baku mutu pada limbah cair industri untuk kadar TSS yaitu 175.000
kg (baku mutu) dan BOD 131.250
kg (baku mutu). Perlakuan
fitoremediasi beban pencemaran parameter TSS yang diuji diperoleh 1295 kg dan
BOD 3675 kg, perlakuan fitoremediasi aerob+bakteri A TSS 1312,5 kg dan BOD 4025
kg, perlakuan fitoremediasi aerob+bakteri B TSS 1260 kg dan BOD 3675 kg,
perlakuan anaerob+bakteri A TSS 1260 kg
dan BOD 0 kg dan perlakuan anaerob+bakteri
B TSS 1242,5 kg dan BOD 0 kg. Beban pencemaran limbah cair
yang digunakan sebagai sampel tergolong masih di bawah baku mutu sehingga dapat
diberikan perlakuan pengolahan limbah yang sederhana untuk menguraikan bahan
organik.
e.
Perlakuan bioremediasi terbaik
Dari hasil pengamatan yang telah dilakuakn
dapat disimpulakan bahwa perlakuan bioremediasi terbaik yaitu pada perlakuan
fitoremediasi aerob+bakteri B dengan hasil pengukuran parameter TSS, BOD, pH,
DO, kandungan protein terlarut dan kekeruhan sesuai dengan penguraian bahan
organik yang berlangsung dengan baik. Kadar TSS, BOD, protein terlarut dan
kekeruhan mengalami penurunan sedangkan kandungan oksigen terlarut mengalami
kenaikan yang menunjukkan bahwa limbah cair industri perikanan tersebut telah
mengalami proses bioremediasi sehingga dihasilkan kondisi limbah cair yang
menjadi lebih bening dan dapat mengurangi beban pencemaran limbah.
VI.
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa :
- Pengukuran parameter kimia dilakukan dengan mengukur pH, DO, BOD
H0, BOD H5 dan BOD5. Pengukuran parameter
fisika limbah cair industri perikanan dilakukan dengan mengukur
TSS, kekeruhan dan bau.
- Kuantitas
tiap parameter berbeda sesuai dengan perlakuan DO tiap perlakuan berkisar
antara 2 sampai 15 mg/L, BOD H0 tiap perlakuan berkisar 0 hingga 2,3 mg/L, BOD H5 semua
perlakuan yaitu 0 mg/l, , TSS
tiap perlakuan berkisar 0.66 hingga 0.75 mg/l, pH tiap perlakuan berkisar 7 dan 8, dan Beban
pencemaran dari semua perlakuan jika dibandingkan dengan beban pencemaran
standar adalah TSS <175.000 kg dan BOD <131.250 kg.
-
Penanganan
limbah secara biologis dengan fitoremediasi dilakukan dengan menggunakan
tanaman air, secara aerob dilakukan menggunakan kultur bakteri yang diberi
aerasi dan akan lebih efektif jika menggabungkan ketiganya.
2.
Saran
Digunakan metode selain yang dipraktikumkan agar
praktikan lebih mengetahui bagaimana menangani limbah dengan baik dan benar
DAFTAR PUSTAKA
Arsawan, M.,
I.W.B. Suyasa. dan W. Suarna. 2007. Pemanfaatn metode aerasi dalam pengolahan
limbah berminyak. Ecothropic 2: 1-9.
Effendi. 2003. Telaah
Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta.
Gintings, P.1992.
Mencegah dan Mengendalikan Pencemaran Industri, Sinar Harapan, Jakarta.
Jenie, B.S.L. dan
W.P. Rahayu.1993. Penanganan Limbah Industri Pangan. Penerbit Kanisius,
Yogyakarta.
Juni, A.T.P dan Turisa, D.D.R. 2010. Peran
Mikroba dalam Lingkungan. http://www.scribd.com/doc/53314734/Peran-Mikroba-Dalam-Lingkungan
Mellor,
E., Landin P, O’Donovan C., Connor, D. 1996. Microbiology og in situ
bioremediation. Environ Scu Technol. 12: 60-64
Moeljanto. 1979. Pemanfaatan Limbah Perikanan. Balai Penelitian Teknologi Perikanan.
Jakarta.
Nasution,
D.Y. 2004. Pengolahan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit yang Berasal dari Kolam
Akhir (Final Pond) dengan Proses
Koagulasi Melalui Elektrolisis. Jurnal
Sains Kimia Vol. 8, No.2, 2004: 38-40. Pedoman Design Teknik IPAL
Agroindustri. Bogor.
Pedoman Design Teknik IPAL Agroindustri.
Bogor
Pelczar MJ dan Chan ECS. 1998. Dasar-Dasar
Mikrobiologi. Universitas Indonesia Press.
Jakarta.
Peraturan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No 6 tahun 2007. Baku Mutu Air Limbah Bagi
Usaha dan/atau Kegiatan Pengolahan Hasil Perikanan. Menteri Negara Lingkungan
Hidup. Jakarta.
Puspita,
D. 2008. Penurunan Konsentrasi Total
Suspended Solid (TSS) Pada Limbah Laundry dengan Menggunakan Reaktor
Biosand Filter Disertai dengan Reaktor Activated
Carbon. Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan.
UII. Yogyakarta. Tugas Akhir.
Reed, S.C., E.J.
Midlebrooks dan R.W. Crites. 2005. Natural System Waste Management and Treatment.
McGraw Hill Book Company, New York.
Subagyo, R. Azizah dan E. Supriyantini. 2002. Laporan
Penelitian Bioremediasi Amonia Dalam Media Kultur Larva Udang Menggunakan
Kombinasi Acclimated Consortia dan Sukrosa. Jurusan Perikanan Fakultas
Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Semarang.
Sulaeman, D. 2009. Makalah Pengelolaan
Limbah Industri disampaikan dalam penyusunan
Waluyo, L. 2005.
Bioremidiasi limbah domestic ramah lingkungan di kota Malang : suatu upaya mengatasi
pencemaran kawasan padat huni. GAMMA 1 : 35-43.
Wardoyo,S.T.H.1981. Kriteria
Kualitas Air untuk Evaluasi Pertanian dan Perikanan.
Wibowo, T.S.,
Purwanto dan B. Yulianto. 2013. Pengelolaan lingkungan industri pengolahan
limbah fillet ikan. Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Sumberdaya Alam dan
Lingkungan.




















Tidak ada komentar:
Posting Komentar