TUGAS
MANAJEMEN INDUSTRI PERIKANAN
ANALISIS
NILAI (VALUE ANALYSIS) PENGEMBANGAN
PRODUK DAN MANAJEMEN RESIKO DAN KETIDAKPASTIAN

Disusun
oleh :
Haditiya
Rayi Setha Ahmad
13/349901/PN/13308
Mata Kuliah :
Manjemen
Industri Perikanan
Dosen :
Dr. Ir. Latif Sahubawa, M.Si
DEPARTEMEN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016
ANALISIS NILAI
Porter (1985) menjelaskan, Analisis value-chain merupakan
alat analisis stratejik yang digunakan untuk memahami secara lebih baik
terhadap keunggulan kompetitif, untuk mengidentifikasi dimana value pelanggan
dapat ditingkatkan atau penurunan biaya, dan untuk memahami secara lebih baik
hubungan perusahaan dengan pemasok/supplier, pelanggan, dan perusahaan lain
dalam industri. Value Chain mengidentifikasikan dan menghubungkan
berbagai aktivitas stratejik diperusahaan (Hansen, Mowen, 2000).
Sifat Value Chain tergantung pada sifat industri dan
berbeda-beda untuk perusahaan manufaktur, perusahaan jasa dan organisasi yang
tidak berorientasi pada laba. Tujuan dari analisis value-chain adalah
untuk mengidentifikasi tahap-tahap value chain di mana perusahaan dapat
meningkatkan value untuk pelanggan atau untuk menurunkan biaya. Penurunan biaya
atau peningkatan nilai tambah (Value added) dapat membuat
perusahaan lebih kompetitif.
Analisis value-chain berfokus pada total value chain dari
suatu produk, mulai dari desain produk, sampai dengan pemanufakturan produk
bahkan jasa setelah penjualan. Konsep-konsep yang mendasari analisis tersebut
adalah bahwa setiap perusahaan menempati bagian tertentu atau beberapa bagian
dari keseluruhan value chain. Penentuan di bagian mana perusahaan
berada dari seluruh value chain merupakan analisis stratejik,
berdasarkan pertimbangan terhadap keunggulan bersaing yang ada pada setiap
perusahaan, yaitu dimana perusahaan dapat memberikan nilai terbaik untuk
pelanggan utama dengan biaya serendah mungkin.
Oleh karena itu setiap perusahaan mengembangkan sendiri satu atau
lebih dari bagian-bagian dalam value chain, berdasarkan analisis
stratejik terhadap keunggulan kompetitifnya. Analisis value-chain mempunyai
tiga tahapan :
1.
Mengidentifikasi
aktivitas Value Chain
Perusahaan mengidentifikasi aktivitas value chain yang
harus dilakukan oleh perusahaan dalam proses desain, pemanufakturan, dan
pelayanan kepada pelanggan. Beberapa perusahaan mungkin terlibat dalam
aktiviatas tunggal atau sebagian dari aktivitas total. Contohnya, beberapa
perusahaan mungkin hanya memproduksi, sementara perusahaan lain
mendistribusikan dan menjual produk. Pengembangan value chain berbeda-beda
tergantung pada jenis industri. Contohnya dalam perusahaan industri, fokusnya
terletak pada operasi dan advertensi serta promosi dibandingkan pada bahan
mentah dan proses pembuatan. Aktivitas seharusnya ditentukan pada level operasi
yang relatif rinci, yaitu level untuk bisnis atau proses yang cukup besar untuk
dikelola sebagai aktivitas bisnis yang terpisah (dampaknya out-put dari proses
tersebut mempunyai “market value” ).
2.
Mengidentifikasi
Cost driver pada setiap aktivitas nilai
Cost Driver merupakan
factor yang mengubah Jumlah biaya total, oleh karena itu tujuan pada tahap ini
adalah mengidentifikasikan aktivitas dimana perusahaan mempunyai keunggulan
biaya baik saat ini maupun keunggulan biaya potensial. Misalnya agen asuransi
mungkin menemukan bahwa Cost Driver yang penting adalah biaya
pecatatan berdasarkan pelanggan. Informasi Cost Driver stratejik dapat
mengarahkan agen asuransi tersebut pada pencarian cara untuk mengurangi biaya
atau menghilangkan biaya ini, mungkin dengan cara menggunakan jasa perusahaan
lain yang bergerak dibidang pelayanan komputer (computer service) untuk
menangani tugastugas pemrosesan data, sehingga dapat menurunkan biaya dan
mempertahankan atau meningkatkan keunggulan kompetitif.
3.
Mengembangkan
keunggulan kompetitif dengan mengurangi biaya atau menambah nilai.
Pada tahap ini perusahaan
menentukan sifat keunggulan kompetitif potensial dan saat ini dengan
mempelajari aktivitas nilai dan cost driver yang diidentifikasikan
diatas. Dalam melakukan hal tersebut, perusahaan harus melakukan hal-hal
berikut :
a.
Mengidentifikasi
keunggulan kompetitif (Cost Leadership atau
diferensiasi).
diferensiasi).
Analisis aktivitas nilai dapat membantu manajemen untuk memahami
secara lebih baik tentang keunggulan-keunggulan kompetitif stratejik yang dimiliki
oleh perusahaan dan dapat mengetahui posisi perusahaan secara lebih tepat dalam
value chain industri secara keseluruhan.
b.
Mengidentifikasi
peluang akan nilai tambah.
Analisis aktivitas nilai dapat membantu mengidentifikasi aktivitas
dimana perusahaan dapat menambah nilai secara siginifikan untuk pelanggan,
contohnya, merupakan hal yang umum sekarang ini bagi pabrik-pabrik pemrosesan
makanan dan pabrik pengepakan untuk mengambil lokasi yang dekat dengan
pelanggan terbesarnya supaya dapat melakukan pengiriman dengan cepat dan murah.
c.
Mengidentifikasi
peluang untuk mengurangi biaya.
Studi terhadap aktivitas nilai dan cost driver dapat
membantu manajemen perusahaan menentukan pada bagian mana dari value chain yang
tidak kompetitif bagi perusahaan. Singkatnya analisis value chain mendukung
keunggulan kompetitif stratejik pada perusahaan dengan membantu menemukan
peluang untuk menambah nilai bagi pelanggan dengan cara menurunkan biaya produk
atau jasa.
RESIKO
Resiko adalah kejadian yang tidak diinginkan merupakan bagian dari
kehidupan yang dapat terjadi tetapi tidak selalu dapat dihindari. Berikut ini
hal-hal yang berhubungan dengan risiko adalah :
1.
Ketidakpastian
mengenai sesuatu.
2.
Kejadian yang
tidak diinginkan.
3.
Sesuatu yang
terjadi diluar tujuan semula.
4.
Kemungkinan
terjadinya sesuatu yang merugikan
Bentuk bentuk dari risiko, antara lain :
1.
Risiko Murni
(Pure Risk), adalah : Bentuk risiko yang kalau terjadi akan menimbulkan
Kerugian (Loss) atau tidak menimbulkan kerugian (No Loss/Breakeven). Contoh :
Risiko Kebakaran, Risiko Kecelakaan.
2.
Risiko
Spekulatif (Speculative Risk), adalah : Risiko kalau terjadi dapat menimbulkan
Kerugian (Loss), menimbulkan kerugian (No Loss) atau mendatangkan keuntungan
(Gain).Contoh : Risiko Produksi, Risiko Moneter (Kurs Valuta Asing).
3.
Risiko
Fundamental (mendasar),adalah : Risiko yang kalau terjadi dampak kerugiannya
bisa sangat luas atau bersifat catastrophic. Contoh : Risiko Perang, Gempa Bumi
dan Polusi Udara.
4.
Risiko Khusus
(Particular), adalah : Risiko yag kalau
terjadi, dampak kerugiannya bersifat lokal tidak menyeluruh atau non
catastrophic. Contoh : Risiko Kebakaran, Risiko Kecelakaan, Pencurian.
Bebarapa cara yang lazim dalam menghadapi resiko :
1.
Menghindari
resiko (avoiding risk) yaitu menghindari penyebab timbulnya resiko
2.
Mengurangi
resiko (reducing risk) yaitu memperkecil kemungkinan /probabilitas
untuk terjadinya resiko tersebut atau memperkecil kerugian atau
akibat resiko yang
mungkin terjadi
3.
Mengasuransikan
resiko (shifting the risk into an insurance company) yaitu memindahkan resiko
yang bakal terjadi ke perusahaan asuransi
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh resiko yang
diasuransikan (insurable risk) adalah :
1.
Peluang
(probability) terjadinya resiko tersebut harus dapat diperkirakan (predictable)
2.
Besarnya
kerugian yang timbul oleh resiko tersebut harus dapat terukur (measurable)
3.
Resiko atau
kerugian tersebut terjadi tidak direkayasa
4.
Resiko atau
kerugian tersebar luas disemua wilayah
5.
Perusahaan
asuransi berhak untuk menerima atau menolak resiko yang akan diasuransikan
6.
Perusahaan
asuransi dapat menolak untuk membayar resiko yang terlalu kecil sehingga biaya
memproses tagihan /klaim lebih besar dari tagihan
Dalam menjalankan usaha atau bisnis perusahaan ,manajemen dalam
menghadapi resiko dapat menentukan sikap terhadap resiko tersebut, yaitu :
1.
Menghindar
dari resiko (risk avers)
Perusahaan akan menghitung mana yang lebih besar antara resiko dan
harapan keuntungan. Bila resiko ternyata lebih besar dari keuntungan, maka
manajemen yang masuk kelompok risk averse akan menghindar dari usaha tersebut
2.
Netral
terhadap resiko (risk neutral)
Yaitu sikap rasional dalam menghadapi resiko, bila peluang usaha
mempunyai harapan keuntungan yang bakal diperoleh dan juga peluang resiko
mungkin juga terjadi.
3.
Senang
bermain dengan resiko (risk seeker )
Jika dia akan senang sekali mengikuti suatu permainan taruhan yang fair.
KETIDAKPASTIAN
Dalam teori ekonomi ada dua masalah pokok yang sering terjadi
dalam dunia nyata, yaitu
masalah ketidakpastian dan ketidak sempurnaan informasi dimana keduanya saling berhubungan, tetapi antara keduanya tetap bisa dibedakan. Selama ini kita selalu mengasumsikan bahwa konsumen, produsen, pekerja, dan sebagainya mempunyai informasi yang lengkap tentang pilihan-pilihan yang cocok buat mereka. Padahal dalam kenyataanya tidak demikian. Konsumen harus mencari harga yang paling rendah.
masalah ketidakpastian dan ketidak sempurnaan informasi dimana keduanya saling berhubungan, tetapi antara keduanya tetap bisa dibedakan. Selama ini kita selalu mengasumsikan bahwa konsumen, produsen, pekerja, dan sebagainya mempunyai informasi yang lengkap tentang pilihan-pilihan yang cocok buat mereka. Padahal dalam kenyataanya tidak demikian. Konsumen harus mencari harga yang paling rendah.
Pekerja harus mencari informasi tentang pekerjaan alternatif.
Semua persoalan tersebut
membentuk suatu bidang studi yang disebut ekonomi informasi (economics of information),
yang merupakan suatu komoditi yang hanya bisa diproleh mencari pekerjaan alternatif karena
besarnya biaya yang harus dikeluarkan.
membentuk suatu bidang studi yang disebut ekonomi informasi (economics of information),
yang merupakan suatu komoditi yang hanya bisa diproleh mencari pekerjaan alternatif karena
besarnya biaya yang harus dikeluarkan.
Dawes (1988) telah mengamati bahwa cara yang umum untuk mengatasi
ketidakpastian
adalah dengan mengabaikannya. Langer (1975) telah mendokumentasikan bahwa
kecenderungan ini sering diterjemahkan ke dalam keyakinan yang tidak tepat yang kebetulan
tidak melibatkan ketrampilan dan dapat di kontrol. Penjudi cenderung melempar dadu lebih
keras ketika mereka mencoba untuk menggapai (roll) angka tinggi (Dawes, 1998). Pembeli
tiket undian percaya bahwa kemampuan mereka untuk memilih jumlah akan meningkatkan
kemungkinan mereka untuk menang. Dowes berpendapat bahwa manusia memiliki
kebutuhan patologis untuk “tahu sekarang” dalam situasi yang mengandung ketidakpastian
yang melekat. Ia menegaskan bahwa kebutuhan untuk meniadakan ketidakpastian sering
menyebabkan orang mengambil kredibilitas terlalu banyak untuk keberhasilan dan terlalu
banyak disalahkan atas kegagalan.
adalah dengan mengabaikannya. Langer (1975) telah mendokumentasikan bahwa
kecenderungan ini sering diterjemahkan ke dalam keyakinan yang tidak tepat yang kebetulan
tidak melibatkan ketrampilan dan dapat di kontrol. Penjudi cenderung melempar dadu lebih
keras ketika mereka mencoba untuk menggapai (roll) angka tinggi (Dawes, 1998). Pembeli
tiket undian percaya bahwa kemampuan mereka untuk memilih jumlah akan meningkatkan
kemungkinan mereka untuk menang. Dowes berpendapat bahwa manusia memiliki
kebutuhan patologis untuk “tahu sekarang” dalam situasi yang mengandung ketidakpastian
yang melekat. Ia menegaskan bahwa kebutuhan untuk meniadakan ketidakpastian sering
menyebabkan orang mengambil kredibilitas terlalu banyak untuk keberhasilan dan terlalu
banyak disalahkan atas kegagalan.
Dalam pengambilan suatu keputusan terdapat hal yang perlu kita
ketahui yaitu adanya suatu keputusan yang bersifat pasti dan ada yang bersifat
tidak pasti (certainty dan uncertainty).
Penentuan certainty dan uncertainty sangat terkait dengan bagaimana suatu kemungkinan
kejadian itu dapat diukur (probabilitas). Probabilitas diistilahkan sebagai pengukuran
kuantitas berbagai kemungkinan kejadian yang tidak pasti.
Penentuan certainty dan uncertainty sangat terkait dengan bagaimana suatu kemungkinan
kejadian itu dapat diukur (probabilitas). Probabilitas diistilahkan sebagai pengukuran
kuantitas berbagai kemungkinan kejadian yang tidak pasti.
Frank Knight (1922), menggambarkan suatu hubungan antara risiko
dengan ketidakpastian. Knight melukiskan suatu keadaan sebagai suatu keadaan
yang berisiko jika kita dapat menentukan probabilitas obyektif secara pasti
terhadap hasil atau kejadian. Sementara itu,
suatu keadaan dianggap mengandung ketidakpastian jika tidak ada probabilitas obyektif yang
dapat ditentukan. Knight menyimpulkan bahwa keputusan enterpreneurial dan laba termasuk
teori ketidakpastian, bukan teori risiko. Permasalahan dalam analisis knight adalah bahwa dia
tidak mengembangkan suatu teori ketidakpastian.
suatu keadaan dianggap mengandung ketidakpastian jika tidak ada probabilitas obyektif yang
dapat ditentukan. Knight menyimpulkan bahwa keputusan enterpreneurial dan laba termasuk
teori ketidakpastian, bukan teori risiko. Permasalahan dalam analisis knight adalah bahwa dia
tidak mengembangkan suatu teori ketidakpastian.
Dalam analisis ketidakpastian dapat menggunakan nilai harapan dan
varian dari laba, harga, biaya, dan sebagainya. Biasanya perusahaan dapat
menaikkan nilai laba harapan hanya
dengan melakukan investasi yang berisiko lebih tinggi, yang berarti akan menaikkan varian
dari labanya. Akan tetapi, investasi yang berisiko lebih tinggi tidak selalu menaikkan nilai
laba harapan dengan tingkat yang sama dengan risikonya.
dengan melakukan investasi yang berisiko lebih tinggi, yang berarti akan menaikkan varian
dari labanya. Akan tetapi, investasi yang berisiko lebih tinggi tidak selalu menaikkan nilai
laba harapan dengan tingkat yang sama dengan risikonya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar