Minggu, 03 September 2017

Tugas MIP (ANALISIS NILAI (VALUE ANALYSIS) PENGEMBANGAN PRODUK DAN MANAJEMEN RESIKO DAN KETIDAKPASTIAN)



TUGAS MANAJEMEN INDUSTRI PERIKANAN
ANALISIS NILAI (VALUE ANALYSIS) PENGEMBANGAN PRODUK DAN MANAJEMEN RESIKO DAN KETIDAKPASTIAN

Disusun oleh :
Haditiya Rayi Setha Ahmad
13/349901/PN/13308



Mata Kuliah :
Manjemen Industri Perikanan
Dosen :
Dr. Ir. Latif Sahubawa, M.Si




DEPARTEMEN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016
ANALISIS NILAI
Porter (1985) menjelaskan, Analisis value-chain merupakan alat analisis stratejik yang digunakan untuk memahami secara lebih baik terhadap keunggulan kompetitif, untuk mengidentifikasi dimana value pelanggan dapat ditingkatkan atau penurunan biaya, dan untuk memahami secara lebih baik hubungan perusahaan dengan pemasok/supplier, pelanggan, dan perusahaan lain dalam industri. Value Chain mengidentifikasikan dan menghubungkan berbagai aktivitas stratejik diperusahaan (Hansen, Mowen, 2000).
Sifat Value Chain tergantung pada sifat industri dan berbeda-beda untuk perusahaan manufaktur, perusahaan jasa dan organisasi yang tidak berorientasi pada laba. Tujuan dari analisis value-chain adalah untuk mengidentifikasi tahap-tahap value chain di mana perusahaan dapat meningkatkan value untuk pelanggan atau untuk menurunkan biaya. Penurunan biaya atau peningkatan nilai tambah (Value added) dapat membuat perusahaan lebih kompetitif.
Analisis value-chain berfokus pada total value chain dari suatu produk, mulai dari desain produk, sampai dengan pemanufakturan produk bahkan jasa setelah penjualan. Konsep-konsep yang mendasari analisis tersebut adalah bahwa setiap perusahaan menempati bagian tertentu atau beberapa bagian dari keseluruhan value chain. Penentuan di bagian mana perusahaan berada dari seluruh value chain merupakan analisis stratejik, berdasarkan pertimbangan terhadap keunggulan bersaing yang ada pada setiap perusahaan, yaitu dimana perusahaan dapat memberikan nilai terbaik untuk pelanggan utama dengan biaya serendah mungkin.
Oleh karena itu setiap perusahaan mengembangkan sendiri satu atau lebih dari bagian-bagian dalam value chain, berdasarkan analisis stratejik terhadap keunggulan kompetitifnya. Analisis value-chain mempunyai tiga tahapan :
1.      Mengidentifikasi aktivitas Value Chain
Perusahaan mengidentifikasi aktivitas value chain yang harus dilakukan oleh perusahaan dalam proses desain, pemanufakturan, dan pelayanan kepada pelanggan. Beberapa perusahaan mungkin terlibat dalam aktiviatas tunggal atau sebagian dari aktivitas total. Contohnya, beberapa perusahaan mungkin hanya memproduksi, sementara perusahaan lain mendistribusikan dan menjual produk. Pengembangan value chain berbeda-beda tergantung pada jenis industri. Contohnya dalam perusahaan industri, fokusnya terletak pada operasi dan advertensi serta promosi dibandingkan pada bahan mentah dan proses pembuatan. Aktivitas seharusnya ditentukan pada level operasi yang relatif rinci, yaitu level untuk bisnis atau proses yang cukup besar untuk dikelola sebagai aktivitas bisnis yang terpisah (dampaknya out-put dari proses tersebut mempunyai “market value” ).
2.      Mengidentifikasi Cost driver pada setiap aktivitas nilai
Cost Driver merupakan factor yang mengubah Jumlah biaya total, oleh karena itu tujuan pada tahap ini adalah mengidentifikasikan aktivitas dimana perusahaan mempunyai keunggulan biaya baik saat ini maupun keunggulan biaya potensial. Misalnya agen asuransi mungkin menemukan bahwa Cost Driver yang penting adalah biaya pecatatan berdasarkan pelanggan. Informasi Cost Driver stratejik dapat mengarahkan agen asuransi tersebut pada pencarian cara untuk mengurangi biaya atau menghilangkan biaya ini, mungkin dengan cara menggunakan jasa perusahaan lain yang bergerak dibidang pelayanan komputer (computer service) untuk menangani tugastugas pemrosesan data, sehingga dapat menurunkan biaya dan mempertahankan atau meningkatkan keunggulan kompetitif.
3.      Mengembangkan keunggulan kompetitif dengan mengurangi biaya atau menambah nilai.
 Pada tahap ini perusahaan menentukan sifat keunggulan kompetitif potensial dan saat ini dengan mempelajari aktivitas nilai dan cost driver yang diidentifikasikan diatas. Dalam melakukan hal tersebut, perusahaan harus melakukan hal-hal berikut :
a.               Mengidentifikasi keunggulan kompetitif (Cost Leadership atau
diferensiasi).
Analisis aktivitas nilai dapat membantu manajemen untuk memahami secara lebih baik tentang keunggulan-keunggulan kompetitif stratejik yang dimiliki oleh perusahaan dan dapat mengetahui posisi perusahaan secara lebih tepat dalam value chain industri secara keseluruhan.
b.               Mengidentifikasi peluang akan nilai tambah.
Analisis aktivitas nilai dapat membantu mengidentifikasi aktivitas dimana perusahaan dapat menambah nilai secara siginifikan untuk pelanggan, contohnya, merupakan hal yang umum sekarang ini bagi pabrik-pabrik pemrosesan makanan dan pabrik pengepakan untuk mengambil lokasi yang dekat dengan pelanggan terbesarnya supaya dapat melakukan pengiriman dengan cepat dan murah.
c.               Mengidentifikasi peluang untuk mengurangi biaya.
Studi terhadap aktivitas nilai dan cost driver dapat membantu manajemen perusahaan menentukan pada bagian mana dari value chain yang tidak kompetitif bagi perusahaan. Singkatnya analisis value chain mendukung keunggulan kompetitif stratejik pada perusahaan dengan membantu menemukan peluang untuk menambah nilai bagi pelanggan dengan cara menurunkan biaya produk atau jasa.
RESIKO
Resiko adalah kejadian yang tidak diinginkan merupakan bagian dari kehidupan yang dapat terjadi tetapi tidak selalu dapat dihindari. Berikut ini hal-hal yang berhubungan dengan risiko adalah :
1.      Ketidakpastian mengenai sesuatu.
2.      Kejadian yang tidak diinginkan.
3.      Sesuatu yang terjadi diluar tujuan semula.
4.      Kemungkinan terjadinya sesuatu yang merugikan
Bentuk bentuk dari risiko, antara lain :
1.        Risiko Murni (Pure Risk), adalah : Bentuk risiko yang kalau terjadi akan menimbulkan Kerugian (Loss) atau tidak menimbulkan kerugian (No Loss/Breakeven). Contoh : Risiko Kebakaran, Risiko Kecelakaan.
2.        Risiko Spekulatif (Speculative Risk), adalah : Risiko kalau terjadi dapat menimbulkan Kerugian (Loss), menimbulkan kerugian (No Loss) atau mendatangkan keuntungan (Gain).Contoh : Risiko Produksi, Risiko Moneter (Kurs Valuta Asing).
3.        Risiko Fundamental (mendasar),adalah : Risiko yang kalau terjadi dampak kerugiannya bisa sangat luas atau bersifat catastrophic. Contoh : Risiko Perang, Gempa Bumi dan Polusi Udara.
4.        Risiko Khusus (Particular), adalah :  Risiko yag kalau terjadi, dampak kerugiannya bersifat lokal tidak menyeluruh atau non catastrophic. Contoh : Risiko Kebakaran, Risiko Kecelakaan, Pencurian.

Bebarapa cara yang lazim dalam menghadapi resiko :
1.      Menghindari resiko (avoiding risk) yaitu menghindari penyebab timbulnya resiko
2.      Mengurangi resiko (reducing risk) yaitu memperkecil kemungkinan /probabilitas
untuk terjadinya resiko tersebut atau memperkecil kerugian atau akibat resiko yang
mungkin terjadi
3.      Mengasuransikan resiko (shifting the risk into an insurance company) yaitu memindahkan resiko yang bakal terjadi ke perusahaan asuransi
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh resiko yang diasuransikan (insurable risk) adalah :
1.      Peluang (probability) terjadinya resiko tersebut harus dapat diperkirakan (predictable)
2.      Besarnya kerugian yang timbul oleh resiko tersebut harus dapat terukur (measurable)
3.      Resiko atau kerugian tersebut terjadi tidak direkayasa
4.      Resiko atau kerugian tersebar luas disemua wilayah
5.      Perusahaan asuransi berhak untuk menerima atau menolak resiko yang akan diasuransikan
6.      Perusahaan asuransi dapat menolak untuk membayar resiko yang terlalu kecil sehingga biaya memproses tagihan /klaim lebih besar dari tagihan
Dalam menjalankan usaha atau bisnis perusahaan ,manajemen dalam menghadapi resiko dapat menentukan sikap terhadap resiko tersebut, yaitu :
1.      Menghindar dari resiko (risk avers)
Perusahaan akan menghitung mana yang lebih besar antara resiko dan harapan keuntungan. Bila resiko ternyata lebih besar dari keuntungan, maka manajemen yang masuk kelompok risk averse akan menghindar dari usaha tersebut
2.      Netral terhadap resiko (risk neutral)
Yaitu sikap rasional dalam menghadapi resiko, bila peluang usaha mempunyai harapan keuntungan yang bakal diperoleh dan juga peluang resiko mungkin juga terjadi.
3.      Senang bermain dengan resiko (risk seeker )
Jika dia akan senang sekali mengikuti suatu permainan taruhan yang fair.
KETIDAKPASTIAN
Dalam teori ekonomi ada dua masalah pokok yang sering terjadi dalam dunia nyata, yaitu
masalah ketidakpastian dan ketidak sempurnaan informasi dimana keduanya saling berhubungan, tetapi antara keduanya tetap bisa dibedakan. Selama ini kita selalu mengasumsikan bahwa konsumen, produsen, pekerja, dan sebagainya mempunyai informasi yang lengkap tentang pilihan-pilihan yang cocok buat mereka. Padahal dalam kenyataanya tidak demikian. Konsumen harus mencari harga yang paling rendah.
Pekerja harus mencari informasi tentang pekerjaan alternatif. Semua persoalan tersebut
membentuk suatu bidang studi yang disebut ekonomi informasi (economics of information),
yang merupakan suatu komoditi yang hanya bisa diproleh mencari pekerjaan alternatif karena
besarnya biaya yang harus dikeluarkan.
Dawes (1988) telah mengamati bahwa cara yang umum untuk mengatasi ketidakpastian
adalah dengan mengabaikannya. Langer (1975) telah mendokumentasikan bahwa
kecenderungan ini sering diterjemahkan ke dalam keyakinan yang tidak tepat yang kebetulan
tidak melibatkan ketrampilan dan dapat di kontrol. Penjudi cenderung melempar dadu lebih
keras ketika mereka mencoba untuk menggapai (roll) angka tinggi (Dawes, 1998). Pembeli
tiket undian percaya bahwa kemampuan mereka untuk memilih jumlah akan meningkatkan
kemungkinan mereka untuk menang. Dowes berpendapat bahwa manusia memiliki
kebutuhan patologis untuk “tahu sekarang” dalam situasi yang mengandung ketidakpastian
yang melekat. Ia menegaskan bahwa kebutuhan untuk meniadakan ketidakpastian sering
menyebabkan orang mengambil kredibilitas terlalu banyak untuk keberhasilan dan terlalu
banyak disalahkan atas kegagalan.
Dalam pengambilan suatu keputusan terdapat hal yang perlu kita ketahui yaitu adanya suatu keputusan yang bersifat pasti dan ada yang bersifat tidak pasti (certainty dan uncertainty).
Penentuan certainty dan uncertainty sangat terkait dengan bagaimana suatu kemungkinan
kejadian itu dapat diukur (probabilitas). Probabilitas diistilahkan sebagai pengukuran
kuantitas berbagai kemungkinan kejadian yang tidak pasti.
Frank Knight (1922), menggambarkan suatu hubungan antara risiko dengan ketidakpastian. Knight melukiskan suatu keadaan sebagai suatu keadaan yang berisiko jika kita dapat menentukan probabilitas obyektif secara pasti terhadap hasil atau kejadian. Sementara itu,
suatu keadaan dianggap mengandung ketidakpastian jika tidak ada probabilitas obyektif yang
dapat ditentukan. Knight menyimpulkan bahwa keputusan enterpreneurial dan laba termasuk
teori ketidakpastian, bukan teori risiko. Permasalahan dalam analisis knight adalah bahwa dia
tidak mengembangkan suatu teori ketidakpastian.
Dalam analisis ketidakpastian dapat menggunakan nilai harapan dan varian dari laba, harga, biaya, dan sebagainya. Biasanya perusahaan dapat menaikkan nilai laba harapan hanya
dengan melakukan investasi yang berisiko lebih tinggi, yang berarti akan menaikkan varian
dari labanya. Akan tetapi, investasi yang berisiko lebih tinggi tidak selalu menaikkan nilai
laba harapan dengan tingkat yang sama dengan risikonya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar